SEQUEL – [RyeoAe] Lovely Day Part 1

Annyeooong !!

Astaga, author kembali lagi niiiih.. Senangnyaa🙂

Kali ini author ngasih yang beda nih. Serius deh beda. Tetep Fanfiction. Tapi yang kali ini adalah project barunya author (ecielah project katanya.. gaya banget thor thor | aish, lebay amat sih -,-)

Ini sequel pertama author. Semoga kalian suka. Tentang sapa? Yesung lagi? bukan dong.. Kyuhyun lagi? bukan juga yeee.. Terus siapa? Ini juga baru.. hahaha.. Kali ini yang jadi main castnya adalah RYEOWOOK OPPA !! (belum pernah kan? hahaha)  Penasaran mau baca? Inijuga requestan, tapi karena belum aku pernah jadiin main cast, jadinya ini special buat yang request.. kkkk

Oke, happy gitu aja deh.. Happy reading semua🙂

 

 

Author : Aira aka L. Sungbi

Title : [RyeoAe] (Yong-ae POV) Lovely Day (Part 1)

Main Cast : Kim Ryeowook, Lee Sungmin – Shin Yong-ae, Han Sungbi (Nama keluarga di ganti di sini

Genre : Sequel , Romance

Rating : PG – 17

Notes : It’s my first sequel. Kkk.. For my Dearest Unni, Friska🙂 Wish you all like my first sequel guys.. Happy reading all..🙂

 

 

“Yong-ae unni, kau yakin tak apa?” pertanyaan itu yang selalu di lontarkan juniorku sejak SMA ini saat memilih gaun pengantin yang akan di pakainya saat hari pernikahannya dengan Sungmin oppa.

“Apa aku terlihat menusukmu dari belakang?” tanyaku jengkel. Sungbi. Dia adalah juniorku. Dan sekarang akan menjadi kakak iparku. Sungmin oppa memilihnya sebagai calon istrinya sejak 2 tahun ia berpacaran dengan Sungbi.

“Aniyo. Unni memang sangat baik denganku” wajah imutnya membuatku tidak tega saat ia di lamar oleh oppaku yang satu itu. Dia terlalu muda untuk Sungmin oppa. Tapi mereka sebenarnya sangat cocok satu dengan yang lain.

“Berhentilah beraegyo di depanku Bi” ia hanya cemberut saat aku berkata seperti itu padanya. Tapi dibalik keimutannya padaku, dia adalah yeoja yang sangat keibuan. Dia sangat memperhatikan kebiasaan Sungmin oppa sejak ia berpacaran. Sangat telaten. Mungkin itu yang membuat Sungmin oppa ingin menikahinya.

“Ne, unni. Bagaimana dengan yang ini” tanyanya. Dia memutar badannya agar aku bisa melihat dari depan dan belakang.

“Ini lebih bagus dari yang tadi. Kau lebih suka yang mana Bi?”

“Hmm, sebenarnya keduanya aku suka. Menurut unni yang mana?”

“Yang ini saja, kamu terlihat sedikit lebih dewasa dari pada yang tadi. Karena yang tadi kau terlihat seperti anak umur 17 tahun yang mau ikut acara prom night di sekolah”

“Eh? Prom night? 17 tahun? Aku sudah umur 22 tahun, unni” katanya sambil sedikit melompat.

“Ya sudah yang ini saja. Sebentar aku foto dulu supaya bisa ku berikan pada Sungmin oppa”

“Hajima.. Aku malu.. Jangan lakukan itu” katanya sambil menutupi wajah malunya. Aku hanya tertawa dan tetap memotonya.

“Aish, sudahlah jangan malu-malu. Nanti pasti Sungmin oppa akan tersenyum-senyum sepanjang malam”

“Unni.. Hajima” Sungbi mengambil Iphoneku. Aku pikir dia akan menghapus foto yang aku buat barusan. Tetapi ternyata dia malah selca dengan Iphoneku itu.

“Yang ini saja yang di berikan padanya” katanya sambil sedikit terkikik.

“Omona, kau memang sangat cute. Wajahmu dari SMA sampai sekarang masih sama dan tak ada yang berubah” kataku sambil melihat fotonya.

“Aih, kau adalah juniorku yang akan menjadi kakak iparku. Kau harus tetap memanggilku unni ya”

“KKK.. Ne, pasti unni. Yong-ae unni adalah unniku satu-satunya. Tidak mungkin aku tidak memanggilmu unni” Sungbi sangat menyayangiku seperti kakak kandungnya sendiri. Mungkin karena dia adalah anak tunggal jadi dia selalu mencari sahabat yang lebih tua atau lebih muda darinya.

Tapi bukan aku yang mengenalkannya pada Sungmin oppa. Saat SMA dia tidak pernah sekalipun bertemu dengan oppaku itu. Bahkan jika dia kerumah sekalipun dia tidak pernah bertemu karena Sungmin oppa selalu sibuk dengan acara kampusnya saat masih kuliah di Korea. Saat aku dan Sungbi sama-sama di kampus yang sama aku rasa dia pun juga tidak pernah bertemu dengan oppaku itu. Dan karena saat itu Sungmin oppa sudah pindah tempat kuliah di Jepang.

Kata Sungbi, ia mengenal Sungmin oppa karena di kenalkan oleh sahabat kecilnya yang satu tempat kuliah saat di Jepang. Tapi aku lupa siapa nama sahabatnya itu. Dan sejak Sungmin oppa kembali, Sungbi dan Sungmin oppa menjadi dekat hingga detik ini.

Sebenarnya aku sangat iri melihat mereka berdua. Aku sebenarnya memang sedikit kapok berpacaran. Sakit hati diselingkuhi namja membuatku tidak ingin berpacaran dulu. Tapi mengingat umur yang sudah hampir menginjak 24 tahun membuatku iri saat melihat Sungbi, juniorku akan segera menikah dengan saudaraku sendiri. Walaupun aku sangat senang kami benar-benar akan menjadi satu keluarga.

“Yong-ae unni?” Sungbi melambaikan tangannya di depan wajahku.

“Ah, ne.. Waeyo?” aku tersadar dari lamunanku.

“Habis ini kita ke mall yuk, aku lapar. Kita kan belum makan”

“Ah, kau benar. Apa kau sudah memilih gaunnya?” tanyaku. Dia mengangguk pasti.

“Oke, kalau begitu ayo kita pergi sekarang” tarikku dengan cepat. Sungbi agak terhuyung saat aku  menariknya.

Kami pun segera pergi ke mall di dekat butik. Sambil bercanda, kami berdua bercerita banyak hal. Dan kami sangat menikmatinya. Tiba-tiba Sungbi diam di tempat. Matanya menyorot ke arah depan dan menunjuk sesuatu. Aku yang sedikit di belakangnya, tertabrak karena dia berhenti mendadak.

 

“Itu…” dia langsung berlari meninggalkanku. Aku pun segera mengikutinya dari belakang.

“Ryeowook Oppa !!” teriaknya di depan seorang namja. Namja itu menoleh dan ikut menghampiri. Aku yang masih agak jauh melihat pemandangan ini hanya bisa tersenyum saja.

“Sungbi” ia memeluk Sungbi. “Waeyo kau disini. Astaga wajahmu masih saja” namja itu mencubit pipi Sungbi hingga merah. Kulitnya menjadi seperti bendera Jepang.

“Aish, pipiku” dia memegang pipinya yang panas. Namja itu mengacak-acak rambut Sungbi sambil tertawa. Aku pun berada di belakang Sungbi dan tersenyum pada namja itu.

“Annyeong haseyo” sapaku pada namja itu. Sungbi menoleh dan memeluk lenganku.

“Annyeong” namja itu menunjuk ke arahku. Aku agak takut padanya.

“Loh, kau kan—“

“Ne, dia dongsaengnya Sungmin oppa. Jangan bilang oppa lupa padanya” kata Sungbi. Aku agak bingung.

“Yong-ae unni, ini Ryeowook oppa sahabat kecilku yang sering aku ceritakan”

“Yong-ae-yah, kau sudah berubah sejak terakhir kita bertemu” aku mengerutkan dahi tidak paham. Apa maksudnya dia berkata seperti itu. Aku rasa aku tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya.

“Ah, ne..” aku hanya menjawab sangat singkat dan sedikit tersenyum.

“Bi, katanya mau makan. Ayo kita cari cafe” ajakku. Karena aku tidak kenal pada namja itu, aku jadi agak takut padanya.

“Kalian mau makan? Kalau begitu bareng aja ya? Ottoke?”

“Ne, ayo unni” ternyata aku salah mengajaknya. Seharusnya aku mengajaknya pulang saja agar namja itu tidak mengikuti kami. Tapi aku rasa ini sudah terlambat.

 

~o~

Aku pun duduk di sebelah Sungbi. Sedangkan namja itu duduk di depan kami. Aku menatap namja itu. Tampan, imut, mungkin hanya beda satu tahun denganku. Namja ini sangat lembut kelihatannya. Dan aku rasa aku pernah tahu wajah itu sebelumnya. Tapi mungkin itu perasaanku saja.

“Yong-ae-yah, wae kau diam saja? Dan sepertinya kau terlihat bingung” aku tersadar dari lamunanku.

“Mwo? Aniyo. Itu hanya perasaan oppa saja” jawabku.

“Unni, apakah kau sakit?” Wajah Sungbi sangat khawatir.

“Aniyo Bi. Aku hanya lapar saja” kataku pelan. Aku mengambil minumku yang baru saja datang.

“Bi, mungkin lupa siapa aku?” aku tersedak.

“Unni.. Unni tidak apa? Apa kau baik-baik saja?” tanya Sungbi khawatir. Bagaimana bisa namja ini tahu apa yang ada di pikiranku.

“Unni, minum air ini dulu. Jangan minum soda dulu” Sungbi memberikan botol air mineral padaku. Aku segera meminumnya tanpa di suruh dua kali.

“Unni lupa dengan Ryeowook oppa?” tanya Sungbi padaku.

“Jangan berbohong Yong-ae-yah” kata namja itu saat aku akan menggeleng.

“Ah, ne, aku memang lupa siapa dia, Bi”

“Aku benar kan, Bi?” namja itu tersenyum pada Sungbi. Uh, sangat manis. Suaranya juga sangat lucu. Tiba-tiba aku membayangkan dia bernyanyi di hadapanku.

“Kau selalu pintar menebak oppa. Tapi kau tidak pernah bisa menebak pikiranku”

“Omona ! Yang itu tidak mungkin. Yong-ae-yah, aku Kim Ryeowook sahabat kecil Sungbi dan teman kuliah Sungmin”

“Teman kuliah Sungmin oppa?”

“Ne, yang di Jepang” katanya lagi.

“Oh, Kim Ryeowook yang gemuk itu kan?” kataku sambil menunjuknya.

“Ne.. Yang itu Yong-ae-yah. Kau lupa denganku?” tanya Ryeowook oppa lagi.

“Ne.. Aku lupa tadi.. Karena oppa sudah sangat berubah. Aku tidak menyangka oppa bisa sekurus ini sekarang”

“Ahaha, ne.. Aku saja yang sahabatnya saja tidak percaya kok un, Ryeowook oppa bisa sekurus ini”

“Aish, tapi kan kau kan sudah lama tahunya, Bi” Sungbi hanya tertawa kecil.

Tak menyangka namja itu adalah sahabat Sungbi yang mengenalkan Sungbi pada Sungmin oppa. Terakhir kali aku melihat dan bertemu dengannya dia sangat gemuk. Tidak seperti sekarang, kurus dengan badan yang bidang. Kemeja yang dia pakai terlihat sangat sempit di daerah dadanya. Mungkin dia memiliki abs di badannya. Astaga, mengapa aku berpikir aneh-aneh tentang Ryeowook oppa.

Tak terasa waktu matahari sudah berada di depan jendela cafe. Cahayanya masuk dan menembus gelas kami. Kami mengobrol sangat banyak hari ini. Termasuk hari pernikahan Sungbi dan Sungmin oppa. Dan juga, aku rasa sekarang dia tetap menjadi namja yang sangat lucu dan tetap baik seperti dulu. Aku melihat jam tangan. Ternyata sudah hampir jam 5 sore. Berarti kami harus pulang, karena jika tidak Sungmin oppa akan marah padaku.

“Bi, sudah sore, sepertinya kita harus pulang” Sungbi melihat jam tangannya.

“Ne unni.. Oppa, kita harus pergi. Besok ke rumah ya, umma sangat merindukanmu” katanya.

“Ne pasti. Kalau begitu aku juga pulang” pamitnya. Dia mengulurkan tangannya padaku. Dan aku menerimanya. Tangannya sangat lembut.

“Ne.. Gomawo oppa” kami berjalan meninggalkannya. Aku rasa dia memperhatikan kami dari cafe itu.

~o~

Aku memarkirkan mobilku di garasi. Disana sudah ada mobil Sungmin oppa. Berarti oppaku sudah pulang lebih dulu. Aku segera masuk ke dalam rumah. Dan mengagetkan Sungmin oppa yang sedang sibuk dengan kertas-kertas yang dia pegang.

“Oppa !!” teriakku di telinganya. Dia langsung menjitak kepalaku. Matanya tetap tertuju pada kertas-kertasnya

“Auw, oppa, kenapa di jitak” kataku sambil memegang kepalaku yang sakit.

“Darimana? Kenapa baru pulang?” tanyanya. Sepertinya dia lupa sesuatu.

“Kenapa oppa sudah pulang?” tanyaku sambil cemberut. Dia menoleh kearahku.

“Aish, kau belum menjawab pertanyaanku. Kau darimana?”

“Siapa yang menyuruhku ke butik hari ini untuk menemani calon istrinya ya?” Sungmin oppa hanya tersenyum kecil sambil tetap melihat kertasnya. Aku rasa dia sudah tidak konsen.

“Tak ada. Itu hanya perasaanmu saja” aku melihat wajah Oppaku itu.

“Eh? Kenapa jadi merah gitu? Hahahaha” aku menertawai muka oppaku yang tiba-tiba memerah.

Drrtt… Getaran Iphoneku di dalam saku celana membuatku kaget. Aku segera mengambil Iphoneku itu dengan segera. Ada pesan masuk dari nomer yang tidak aku kenal.

‘Annyeong..’ itu pesannya. Aku tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu. Aku tidak ingin membalasnya sama sekali. Itu malah semakin menggangguku. Aku menghapus pesan itu dengan segera.

“Oppa. Aku mau menunjukkan sesuatu padamu” kataku sambil tersenyum setelah duduk di sampingnya. Aku lelah berdiri di belakang Sungmin oppa terus.

“Ne, apa itu?” tanyanya.

“Penasaran gak?” tanya balik sambil menggodanya.

“Aniyo” katanya.

“Yasudah kalau gak mau lihat foto Sungbi sa—“ kataku sambil berdiri hendak meninggalkannya ke kamar.

“Oke, kalau begitu aku penasaran” katanya sambil membanting badanku duduk lagi di sebelahnya. Aku hanya terkikik dengan wajah Sungmin oppa yang sangat penasaran.

“Ajjijja, kenapa di banting sih? Dasar namja” kataku sambil mengambil Iphoneku dan mencari foto Sungbi tadi siang.

“Mana?” sepertinya dia benar-benar tidak sabar.

“Astaga, kehapus oppa. Mianhae yaa” kataku menggoda Sungmin oppa. Wajah aegyonya membuat aku ingin tertawa.

“Hah? Apa maksudmu kau hapus?” katanya dengan wajah marah.

“Aniyo, ini fotonya” kataku sambil terkikik. Dia mengambil Iphoneku dan menggeser-geserkan layarnya. Tiba-tiba dia tertawa sendiri.

“Sudah mana Iphoneku, oppa kan punya sendiri. Nanti biar aku kirimkan saja” kataku sambil merebut Iphoneku yang ada di tangannya.

“Ne, ne.. Ambil ini. Awas sampai kau lupa mengirim” ancamnya. Aku memberikannya juluran lidah sambil berlari ke kamarku.

Aku merebahkan diriku di atas kasur dengan perasaan senang. Melihat wajah Sungmin oppa yang melihat foto calon istrinya tadi membuatku tidak sabar kapan mereka segera menikah. Aku mencoba  memejamkan mataku sejenak. Tiba-tiba bayangan Ryeowook oppa muncul. Aku membuka mataku segera. Aku memegang dadaku. Jantungku berdegup lagi dengan kencang. Astaga, apa yang aku pikirkan? Jangan jangan aku menyukai namja itu.

Iphoneku bergetar lagi. Aku memang sengaja hanya menggetarkan Iphoneku. Karena terkadang aku merasa terganggu dengan suara Iphoneku sendiri. Aku mengambil Iphoneku di dalam saku. Tak berhenti bergetar, berarti itu sebuah telepon masuk bukan sms. Aku melihat siapa yang menelponku, nomer yang tidak di kenal lagi. Mungkin nomer yang sama dengan nomer yang aku hapus tadi. Aku pun segera mengangkat telepon itu sebelum di matikan.

“Yeoboseyo?” salamku.

“Yeoboseyo” suara namja. Aku terkejut. Aku berpikir keras siapa yang menelpon jam segini.

“Ne, nugu?” tanyaku agak berhati-hati. Tapi telepon itu dimatikan oleh namja itu. Aku yang terkejut hanya melihat layar handphoneku dengan tatapan bingung. Aku melemparkan Iphoneku dan segera beristirahat sejenak.

~o~

Sudah pagi. Aku sudah tertidur selama 10 jam. Membuat tengkuk dan punggungku sakit. Aku mencoba meregangkan sedikit demi sedikit badanku. Tetapi masih saja sakit. Aku pun segera berdiri dan baru menyadari bahwa bajuku masih belum aku ganti selama semalaman. Ah, babonya aku masih memakai baju yang sama dan tidak menggantinya.

Setelah mengganti bajuku, aku segera keluar dari kamarku. Aku melihat Appa, umma dan Sungmin oppa sedang duduk di kursi makan. Sepertinya sudah mulai sarapannya dan tidak ada satu pun yang membangunkanku. Aku pun segera duduk di kursiku sambil mengusap mataku.

“Annyeong, tumben sudah bangun” kata umma sambil mencium pipiku. Aku menyipitkan sebelah mataku.

“Ne, aku lelah tidur umma”

“Ne, sekali-sekali bantu appa dan aku di kantor, jangan hanya di rumah terus” kata Sungmin oppa.

“Waeyo? Aku tidak mau kerja di kantor appa” kataku cemberut.

“Sudahlah Sungmin-ah, biarkan saja dongsaengmu itu bekerja seperti yang ia inginkan. Asalkan kau sudah bekerja di kantor appa, itu sudah lebih dari cukup”

“Dengarkan itu Sungmin-ah. Jangan kau ulang lagi” nasehatku.

“Mwo? Kau panggil aku tanpa kata oppa. Ish, dasar saeng kurang ajar” aku menjulurkan lidah ke arahnya.

“Kalian ini, sudah jangan bertengkar di meja makan. Kau juga Sungmin-ah, apa semua sudah beres?”

“Beres?” tanyanya bingung.

“Ne, jangan bilang kau belum siap menikah oppa. Sungbi itu masih terlalu muda untukmu” kataku.

“Ah, aku sudah sangat siap umma. Menikahinya adalah impianku sekarang. Kurang mapan apa aku sekarang?” katanya sambil memukul dadanya yang bidang.  “Kami hanya beda 5 tahun, dan kami sudah pantas menikah” terlihat dari mata Sungmin oppa yang tidak terima dengan ucapanku.

“Ne ne, arraseo. Kalian memang cocok kok. Sama sama bermuka aegyo. Oppa bilang beda 5 tahun, wajahnya seperti anak SMA dan kau bilang itu 5 tahun?”

“Wajahku seperti anak kuliahan kan? Masih imut” katanya sambil beragyo.

“Aish, aniyo oppa. Kau seperti orang yang sudah berumur. Kau tetap terlalu tua untuk Sungbi”

“Ish, Yang penting aku sudah melamarnya. Sana cari pacar supaya cepat di lamar” katanya menusuk dadaku.

“Aku nanti saja deh. Setelah kalian punya anak, aku baru mau menikah”

Ting tong.. Suara bel rumah berbunyi. Aku segera berdiri dan membukakan pintu rumah. Ternyata Sungbi. Sudah biasa dia kesini pagi-pagi. Bukan untuk bertemu dengan pacarnya ataupun aku, tetapi untuk bertemu dengan umma.

“Unni, tumben sudah bangun” katanya sambil tertawa. Biasanya dia yang membangunkanku di pagi hari.

“Ne, jangan menggodaku anak kecil. Oppa pacarmu datang” kataku sambil menggandengnya menuju ruang makan.

Umma yang melihatnya segera berdiri dan mencium kedua pipi Sungbi. Dan Sungbi melakukan deep bows pada appaku. Dan Sungmin oppa, ia terlihat sangat malu dan melihat kearah rotinya. Tidak berani melihat ke arah Sungbi. Aku hanya tertawa melihat kelakuan Sungmin oppa pada pacarnya itu. Aku tidak menyangka bahwa Sungmin oppa benar-benar bisa semalu itu pada Sungbi.

“Jagiya, kau kenapa?” tanya Sungbi sambil duduk di sebelah Sungmin. Sungmin oppa hanya menggeleng.

‘manjanya mulai’ batinku.

“Oiya unni, kemarin kenapa kau di telpon tidak bisa?” tanya Sungbi padaku.

“Eh? Kau menelponku?” tanyaku terkejut.

“Aniyo, bukan aku yang menelpon” dia hanya tersenyum meringis padaku.

“Lalu?”

“Eh, harusnya aku kan gak boleh bilang padamu” katanya dengan wajah polos.

“Bi.. Katakan siapa yang menelponku tadi malam?” kataku dengan deathstare padanya.

“Hng.. Ehm..”

“Nugu?” kataku sangat serius.

“Ryeowook oppa” kata Sungbi dengan wajah melas.

“Hah?” aku dan Sungmin oppa teriak bersamaan. Sungbi menutup telinganya.

“Ne, Ryeowook oppa” kata Sungbi meyakinkan kami. Appa dan umma sudah meninggalkan kami tanpa kami sadari.

“Kapan kau bertemu dengannya?” tanya Sungmin oppa.

“Kemarin. Saat di mall mencari makan siang”

“Begitu?” tanya Sungmin oppa yang sudah merangkul calon istrinya itu. Sungbi hanya mangangguk.

“Haisssh, jangan mesra-mesraan di rumah deh. Sana di luar aja” kataku sebal.

“Jagiya, kau harus ke kantor sekarang. Sana cepat berangkat” kata Sungbi. Sungmin oppa cemberut dan berdiri. Sungbi ikut berdiri dan membenah jas yang di pakai Sungmin oppa.

“Kenapa kalian sudah seperti suami istri beneran sih?” kataku sebal sambil melihat ke arah yang lain.

“Aish, bilang saja iri. Sudahlah kau segera cari pacar sana” kata Sungmin oppa tidak terima. Sungbi hanya terkikik mendengar ucapan Sungmin oppa padaku.

“Keponakan dulu baru aku nikah” Sungbi tersedak mendengar ucapanku. Aku tertawa terbahak-bahak melihat respon Sungbi.

Drrt.. Drrtt.. Iphoneku bergetar di atas meja makan. Aku mengambilnya. Nomer yang tidak aku kenal. Aku memberikan Iphoneku pada Sungbi.

“Apa itu nomernya?” tanyaku. Dia mengangguk setelah melihat nomer yang masuk ke layar iphoneku. Aku pun segera mengangkat telepon itu sebelum di matikannya lagi. Tanganku sangat dingin sekarang.

“Yeoboseyo?” salamku singkat. Aku sangat kesal padanya.

“Yeoboseyo” jawabnya.

“Jangan di matikan oppa, aku tahu siapa dirimu” kataku mengancamnya.

“Eh, ka—kau sudah tahu?” tanyanya.

“Ne, Ryeowook oppa. Ada apa?” tanyaku.

“Hng, sebenarnya hari ini aku ingin mengajakmu bertemu” DEG. Jantungku rasanya berhenti seketika. Rasa kesal yang baru saja aku rasakan tiba-tiba menghilang begitu saja.  Tiba-tiba aku ingin tersenyum, tetapi karena Sungbi dan Sungmin oppa melihat rasanya aku tidak berani tersenyum.

“Sebentar oppa” kataku pelan. Aku segera pergi meninggalkan keduanya. Dan berlari menuju kamar. Aku membayangkan wajah manis Ryeowook oppa. Dan aku malu sendiri. Dengan segera aku masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar.

“Ne oppa, lanjutkan”

“Hmm, apa kau hari ini sibuk?”

“Aniyo” kataku pasti dan tegas.

“Kalau begitu aku tunggu di cafe kemarin saat makan siang ya” katanya dengan suara gembira.

“Ne, tunggu aku di sana oppa”

“Simpan nomerku, dan hng, kita smsan saja ya, karena aku harus kembali bekerja”

“Ne, Hwaiting oppa !” kuberikan semangat untuknya. Dia tertawa.

“Ne, Hwaiting ! Jangan lupa datang ya” katanya lagi. Mungkin kami tidak akan berhenti menelpon jika sudah seperti ini.

“Kalau begitu aku tutup ya, Annyeong Yong-ae” telepon itu ia matikan. Rasanya jantungku benar-benar akan lepas sekarang. Aku tak menyangka akan sesenang ini. Aku benar-benar senang.

~o~

Aku melihat jam tanganku saat keluar dari mobil. Jam 12 lebih 15 menit. Semoga Ryeowook oppa sudah datang. Aku berlari seperti di kejar waktu. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas untuk bertemu dengan Ryeowook oppa. Hampir setengah hari ini aku terus berkomunikasi dengan Ryeowook oppa. Sesekali aku menyemangatinya yang sedang bekerja. Walaupun hanya sekedar kirim pesan, itu sudah membuatku senang.

Ternyata Ryeowook oppa benar-benar sudah menungguku di dalam cafe. Dia duduk di tempat yang seperti kemarin. Segera aku hampiri namja berkulit putih itu dengan cepat.

“Hh, hh.. Annhh—yeoong” sapaku dengan membungkukkan badanku dengan mengatur napas yang tersengal.

“Annyeong.. Mwo? Kau tak apa?” tanya Ryeowook oppa padaku. Aku memegang sofa yang ia duduki.

“Hanya lelah berlari” kataku masih tersengal. Aku sedikit terbatuk.

“Berlari? Untuk apa? Apakah ada yang mengejarmu?” Ryeowook oppa berdiri dengan wajah yang aneh.

“Hahahaha, wajahmu oppa” tawaku. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan meringis.

“Astaga, duduklah Yong-ae. Aku tadi sudah memesan kue untukmu”

“Eh? Memesan kue untukku? Hng.. Gomawo oppa” kataku sambil duduk.

“Ne” dia tersenyum. Astaga sangat manis. Rasanya aku melayang di senyumannya. Lelahku hilang seketika.

“Yong-ae?” dia melambaikan tangan di depan mukaku.

“Ah? Mwo oppa?”

“Jadi, waeyo kau berlari tadi?”

“Tadi? Kapan aku berlari?” tanyaku bingung. Aku mencoba mengingat kapan aku berlari. Semua hilang begitu saja setelah melihat Ryeowook oppa tersenyum.

“Eh, kau sudah lupa? Tadi, baru saja kau berlari saat masuk cafe” dia menahan tawanya. Dia memang sangat lembut. Dan membuat orang nyaman. Pantas saja Sungbi dan Sungmin oppa dekat dengannya. Orang baik.

“Hng, aku tidak mau terlambat oppa. Harusnya kan aku yang menunggumu, bukan oppa yang menungguku” kataku malu.

“Oh, gwenchana. Aku memang sengaja datang lebih awal saja. Aku yakin di jalan menuju rumahmu sangat ramai”

“Ne, kau benar oppa. Jadi oppa memang sudah menungguku lama?”

“Hampir 30 menit Yong-ae-yah” masih saja da tersenyum. Aku benar-benar malu padanya.

“Astaga, Mianhamnida oppa. Sungguh mianhae membuatmu menunggu selama itu” kataku dengan wajah memelas.

“Tidak apa Yong-ae-yah. Sungguh. Yang penting kau selamat saja, aku sudah tenang”

“Ah mwo? Ne, gomawo oppa” aku tersenyum sambil menggaruk-garukkan kepalaku yang tidak gatal sama sekali. Semoga wajahku tidak memerah.

Suasana menjadi sepi. Kami tidak tahu mau berbicara apa lagi dengannya. Canggung. Sangat canggung. Dan lagi aku malu padanya yang hampir 30 menit menungguku di cafe ini. Aku tidak berani mengajaknya berbicara. Sedangkan dia, dia sering menghela napasnya. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Kami memakan waktu diam seperti ini sampai kue kami datang.

“Ti—ra—m, Oppa.. Darimana kau tahu aku suka tiramisu?” aku terkejut pelayan itu memberikan sepotong tiramisu untukku.

“Dari Sungbi. Katanya kau sangat menyukainya. Itu untukmu” katanya. Aku ternganga mendengar ucapannya. Segera aku ambil iphoneku dan mengirim pesan pada Sungbi.

‘Apa saja yang kau katakan padanya anak kecil?’ pesanku.  Aku hanya terenyum sedikit masam.

“Kau tak suka? Apakah aku salah?” tanyanya. Wajahnya terlihat sedikit kecewa.

“A—aniyo oppa, aku sangat menyukainya” aku segera memakan sepotong kue tiramisu. Aku memang sangat penasaran dengan tiramisu yang ada di cafe ini. Dan hari ini, aku berhasil mencicipinya. Sangat istimewa.

Ryeowook oppa memotong sedikit kuenya. Kue yang beda. Tidak sama sepertiku. Lebih Cheesy dari pada milikku. Dia tersenyum senang melihatku senang memakan kue yang dia beli. Aku tidak tahu sekarang bagaimana mengganti rasa senangku. Iphoneku bergetar. Aku melihat layar, ternyata balasan dari Sungbi.

‘Eh? Mengatakan apa unni? aku tidak tahu maksudmu. Jangan jangan tentang Ryeowook oppa lagi ya? Kalian benar-benar bertemu hari ini? Hwaiting unni !’ itu balasan dari Sungbi.

‘Kau.. Jadi kau tahu hari ini kami bertemu? Jangan bilang kalian merencanakan sesuatu’ aku mengirim pesan itu dan melirik ke arah Ryeowook oppa. Dia bingung mengapa aku melihatnya dengan tatapan seperti itu.

“Oppa, kau memberitahu Sungbi kalau hari ini kita bertemu?” tanyaku.

“Ne, salahkah? Aku tidak tahu harus berkata pada siapa lagi, hehehe” wajahnya sangat aegyo. Membuat aku ingin mencubit pipinya. Tapi tidak mungkin aku melakukan itu.

“Oppa, jujur saja, aku benar-benar senang bisa bertemu lagi denganmu. Kau sangat berubah” kataku malu-malu. Aku tidak tahu lagi mau mengobrol tentang apa dengannya. Rasanya blank tidak seperti saat smsan tadi sebelum bertemu.

“Berubah? Ne, banyak yang bilang aku berubah. Tapi hanya badan saja yang berubah”

“Ne, kau terlihat sangat lebih kurus oppa” kataku sedikit tertawa.

“Dan wajahmu juga berubah”

“Berubah? Berubah bagaimana?”

“Ne, semakin can—“ ia memelankan suaranya.

“Ah mwo? Semakin apa oppa?” tanyaku. Aku tidak bisa mendengar suaranya. Tapi dadaku muai berdegup lagi. Sesekali aku menggenggam tanganku yang mulai dingin.

“Ah, lupakan saja. Pokoknya kau juga berubah lebih dewasa. Tidak seperti pacar oppamu itu” ia tertawa. Tertawa garing.

“Hahaha, dia tidak berubah sejak SMA oppa” aku menambahkan.

“Yong-ae-yah, apa hari Sabtu ada waktu?”

“Sabtu? Hng, sepertinya aku tidak ada jadwal” aku selalu tidak punya jadwal pasti. Yah, sebagai seorang kontraktor memang susah jika tidak ada yang butuh. Tetapi jika dapat, aku akan sangat sibuk dan jarang untuk beristirahat.

“Ah, kalau begitu aku akan menjemputmu hari Sabtu”

“Mau kemana oppa?”

“Hanya jalan-jalan. Aku bosan setiap hari harus di kantor dan melihat komputer setiap hari. Untuk refreshing saja. Kalau begitu aku harus kembali ke kantor sebelum terlambat” aku melihat jam tanganku Sudah 1 jam kami di cafe ini.

“Ne oppa. Kau harus cepat kembali ke kantor. Kalau begitu aku akan pulang juga”

“Kabari aku kalau sudah sampai rumah jagi” ia mencoba beraegyo. Dan barusan dia mengatakan apa? Astaga, apa aku tidak salah dengar?

“Eh, mwo? Oppa memanggilku apa barusan?”

“Aniyo, lupakan saja. Yong-ae-yah. Aku kembali ke kantor ya” dia melambaikan tangannya seraya meninggalkanku. Astaga, apa aku tadi salah ddengar? Semoga tidak. Omona ! Wajahku.

~o~

Mobil Sungbi masih di rumahku. Berarti dia masih menemani umma di rumah. Itu selalu ia lakukan hampir setiap hari. Dan karena dia baru saja lulus kuliah, dia belum punya pekerjaan tetap. Karena itu dia selalu menyempatkan diri untuk menemani umma di rumah. Umma pun sangat senang jika Sungbi berada di rumah. Mereka dan aku sering sekali membuat kue. Dia memang sangat jago di dapur. Dan akulah yang mengajarinya memasak saat SMA. Sayang, aku agak malas berurusan dengan dapur lagi, dan dia sampai sekarang masih suka berurusan dengan dapur.

Aku masuk ke dalam rumah. Disana umma dan Sungbi sedang mengobrol di ruang tengah. Sungbi langsung tersenyum melihatku masuk ke dalam rumah. Ya, posisi Sungbi memang menghadap ke arah pintu rumah rumah. Umma pun ikut menoleh saat aku sudah menutup pintu.

“Anak umma habis pulang kencan. Mana pacar barumu?” kata umma. Aku terkejut dan melihat ke arah Sungbi. Sungbi hanya terkikik kecil.

“Aniyo umma, aku hanya bertemu dengan teman lamaku kok”

“Ah, kau berani berbohong pada umma. Namja itu kan sahabat Sungbi kan? Mana dia? Ajak ke rumah dong” kata umma.

‘Sungbiiii !! Kenapa dia bilang pada umma. Aku benar-benar malu sekarang’ batinku.

“Berarti setelah ini anak-anak umma sudah punya pasangan. Aish, senangnya umma. Bisa menimang cucu banyak” kata umma lagi. Sungbi malah tersedak. Aku tertawa melihat Sungbi tersedak. Iphoneku bergetar. Aku segera mengambilnya.

‘Annyeong Yong-ae-yah. Sudah sampai rumah? Aku sudah sampai kantor. Apa kau baik-baik saja?’ pesan dari Ryeowook oppa. Aku tersenyum membacanya.

‘Ne, aku sudah sampai di rumah oppa. Bekkerjalah dengan semangat, HWAITIING !! Gwenchaneyo oppa, aku selamat sampai di rumah. Dan sekarang sedang di goda oleh dongsaengmu itu. Kkk’ balasku.

“Lihat umma, unni tertawa sendiri. Pasti itu dari pacar barunya” lagi-lagi Sungbi menggodaku. Aku langsung memberikan deathglare padanya. Dia hanya tertawa melihat tingkahku.

“Sudah jangan menggodaku lagi. Aku belum punya pacar” kataku sambil duduk di sebelah Sungbi dan merangkul lehernya.

“Astaga memang belum pacaran, tapi sudah jadi calon pacar. Umma sangat setuju kau dengannya setelah melihat foto yang Sungbi kasih tadi” kata umma.

“Kau menyimpan foto Ryeowook oppa Bi?”

“Ne, waeyo? Jangan jealous unni, cintaku untuk calon suamiku kok. Bukan untuk Ryeowook oppa” aku mencekiknya pelan. Ia memukul tanganku berulang kali.

“Aniyo, siapa jealous? Kalau begitu aku mau lihat” pintaku.

“Aish, mengapa kalian berdua sama saja. Nanti akhirnya kau minta di kirim fotonya juga”

“Eh, apa maksudmu? Jangan-jangan dia meminta fotoku ya?”

“Ah, aniyo unni. Itu hanya perasaanmu saja. Aku tidak pernah berkata seperti itu”

“Katakan yang sebenarnya atau aku berikan sesuatu pada Sung—“ Iphoneku bergetar lagi. Aku segera mengambil Iphoneku dan melihat isi pesan dari Ryeowook oppa.

‘Dia ada disana? Titip salam padanya ya. Katakan bahwa aku sudah melakukan apa yang dia minta’ balasnya.

‘Ah mwo? Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak paham sedikitpun’ aku mengirim pesan itu pada Ryeowook oppa.

“Ryeowook oppa berpesan bahwa dia sudah melakukan apa yang kau minta. Apa yang kau minta?” kataku memberikan pesan pada Sungbi.

“Tidak ada. Hehehe”

“Jangan berbohong lagi”

“Tidak unni, aku tidak meminta apa-apa padanya. Sungguh”

“Uh, kalau begitu aku ngambek saja” kataku sambil cemberut.

“Ah, mianhae unni. Jangan ngambek. Oke, aku akan bilang pada unni. Tapi jangan ngambek” kata Sungbi dengan memelas. Aku tahu dia tidak pernah tega dengan orang yang ngambek.

“Ne, katakan dulu”

“Hng, sebenarnya itu bukan permintaanku. Tapi dia yang minta. Aku bilang kalau unni suka sekali tiramisu. Itu saja. Mungkin itu yang dia maksud” katanya panjang lebar.

“Ah, yang itu. Oke, kalau begitu aku tidak jadi ngambek padamu dongsaeng” kataku mencubit pipinya. Umma sepertinya tidak memperdulikan kami berdua mengobrol.

~o~

Sabtu pagi. Hari ini aku ada janji dengan Ryeowook oppa. Kami akan pergi ke suatu tempat untuk refreshing bersama. Hanya berdua. Tak ada orang lain lagi. Sejak hari bertemu berdua dengannya beberapa hari yang lalu, kami benar-benar menjadi dekat. Mungkin bukan hanya dekat. Tetapi sangat dekat.

Ryeowook oppa akan menjemputku pagi ini. Ini artinya dia akan datang dan bertemu dengan appa dan umma, Dan juga, Ryeowook oppa akan bertemu dengan sahabat lamanya, Sungmin oppa, oppa kandungku sendiri. Aku sudah menyiapkan batinku untuk di goda umma ataupun Sungmin oppa. Aku yakin mereka pasti akan melakukan hal itu. Apalagi setelah sekian lama aku tidak memiliki seorang pacar.

“Yong-ae-yah, ada tamu nak!” teriak umma dari luar kamarku. Aku dengan cepat menyisir rambutku dengan cepat. Aku tidak ingin membuat Ryeowook oppa lama menungguku.

“Sebentar umma” teriakku balik. Jantungku lagi-lagi berdegup. Aku takut dengan penampilanku sendiri. Aku takut Ryeowook oppa tidak suka meihat penampilanku. Dan perasaaan ini lagi-lagi muncul. Perasaan yang setiap hari muncul di saat mengangkat telepon atau menerima pesan singkat dari Ryeowook oppa. Uh, mungkin aku mulai jatuh cinta padanya.

Aku segera keluar dari kamar yang terhubung langsung dengan ruang tengah. Ryeowook oppa menatapku dengan senyuman manis yang menyungging di wajahnya. Ah, manisnya. Ia duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan kamarku. Aku benar-benar malu. Aku hanya tersenyum pada Ryeowook oppa seklias dan segera berlari ke dapus.

“Umma, Ryeowook oppa sudah daritadi?” tanyaku sambil mengambil segelas susu.

“Ryeowook? Siapa Ryeowook?” tanya umma balik. Aku menepuk dahiku.

“Itu Ryeowook oppa, umma”

“Hah? Sepertinya pernah dengar nama itu. Apa itu Ryeowook teman Sungmin?”

“Ne, jangan bilang umma lupa menanyakan siapa dia? Dan, sepertinya aku tidak melihat Sungmin oppa? Dima—“

“Aku disini” Sungmin oppa mengagetkanku dan umma.

“Ah, hng.. Aku pikir oppa masih tidur”

“Aish, kau pikir aku dan kamu sama? Siapa itu? Kenapa ada tamu pagi-pagi begini?” Sungmin oppa menggaruk-garukan kepalanya. Rambutnya sangat amburadul dan tidak jelas.

“Itu temanmu oppa. Ryeowook oppa” mendengar ucapanku, Sungmin oppa langsung melompat dan berlari ke ruang tengah. Aku hanya mengerutkan dahiku. Dan umma? Umma masih tidak percaya bahwa dia adalah Ryeowook oppa.

Aku berjalan menuju ruang tengah untuk menemui mereka. Sungmin oppa masih memeluk Ryeowook oppa dengan wajah yang sangat merindukan seorang sahabatnya yang telah hilang bertahun-tahun.

“Ternyata kau bisa kurus juga Ryeowook-ah. Aku benar-benar iri padamu” kata Sungmin oppa sambil melepas pelukannya.

“Aish, badanmu itu sudah sangat pas hyung” kata Ryeowookoppa yang lebih muda setahun dari Sungmin oppa.

“Aniyo, ini masih gemuk” kata Sungmin oppa.

“Ah, walaupun segemuk apapun oppa, Sungbi tetap cinta padamu” kataku sambil duduk di sebelah appa.

“Aku iri padamu hyung. Badanmu sangat kekar sedangkan aku hanya seperti ini saja” aku tidak setuju dengan ucapannya. Badannya sudah lebih keren seperti ini. Setidaknya dia juga memiliki otot.

“Hahaha, kalau begitu nanti kita nge-gym bersama saja.  Nanti kita ajak 2 yeoja itu” kata Sungmin oppa sambil melirik ke arahku. Aku hanya tertawa tertahan.

“Yong-ae, kalian mau pergi kemana?” tanya appa padaku. Aku menoleh pada Ryeowook oppa. Dia hanya tersenyum.

“Belum tahu oppa. Setidaknya kami mau refreshing” kataku sambil mengangguk.

“Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang sebelum siang” kata Ryeowook oppa padaku. Ia segera berdiri dan membungkukkan badannya pada appa. Aku mengambil tas kecilku dan berpamitan pada appa dan umma. Kami pun segera keluar dari rumah.

“Jaga dongsaengku, Ryeowook-ah. Seperti aku menjaga sahabat kecilmu itu” kata Sungmin oppa dari balik pintu rumah.

“Ne, hyung” jawabnya singkat sambil tersenyum. Aku sangat menyukai senyumannya yang lembut itu. Menenangkan.

Ryeowook oppa membukakan pintu mobilnya untukku. Aku segera membungkukkan badanku dan segera masuk ke dalam mobil. Dia hanya tersenyum dan berlari kecil menuju pintu sopir.

“Oppa, kita mau kemana?” tanyaku dengan sambil tersenyum.

“Aku mau mengajakmu ke Hangang Park” katanya sambil memakai seatbelt.

“Mwo? Hangang park?”

“Ne, aku ingin mengelilingi Hangang park denganmu. Aku ingin menyewa sepeda” kata Ryeowook oppa sambil menekan gas mobilnya.

“Ne” jawabku singkat. Aku sangat senang mendengarnya.

Selama perjalanan, kami menghabiskan waktu untuk mengobrol dan bercanda. Ia menyetir dengan sangat santai. Benar-benar sangat santai. Kami benar-benar menikmati perjalanan kami yang sangat sebentar. Karena jarak dari rumahku dan Hangang park tidak terlalu jauh.

“Yong-ae-yah, aku tidak menyangka bahwa Sungbi akan menikah dengan Sungmin hyung”

“Aku sendiri saja juga tidak percaya oppa”

“Hahaha, kapan kau akan menyusul mereka?” aku hanya diam. Tidak menjawab.

“Yong-ae?” panggilnya.

“Ne, hahaha.. Aku saja tidak punya calon. Kalau kau oppa?”

“Hmm, mungkin belum saatnya”

“Waeyo? Kau sudah mapan dan juga tampan. Sudah saatnya kau menikah oppa” hatiku terasa ciut. Entah mengapa rasanya sakit sendiri.

“Sama saja jika belum punya yeoja yang akan aku nikahi. Karena itu, sekarang belum saatnya”

“Hahaha, ne.. Oppa memang benar” jawabku dengan nada aneh. Tapi perasaan lega menyelimutiku.

“Ah, sudah sampai. Enaknya parkir dimana?” tanya Ryeowook oppa sambil melihat tempat untuk memarkir mobilnya.

“Disana saja oppa” kataku menunjuk tempat yang strategis.

Kami pun menyewa sepeda untuk berkeliling di sekitar taman. Ternyata tidak seberapa ramai seperti biasanya. Tapi tidak sedikit juga yang mendatangi tempat ini. Aku mengajak Ryeowook oppa ke arah jembatan. Dan memintanya berhenti sejenak. Saat turun dari sepeda, aku merasakan hawa sejuk dari semilir angin yang melewati badanku. Aku menarik tangan Ryeowook oppa agar dia merasakan semilir angin yang sama denganku di sebelah kananku. Aku masih menggenggam tangannya  Saat sadar aku langsung melepasnya pelan. Tak ada satu orang pun disini kecuali kami berdua. Kami pun bercanda lagi sesaat, sebelum seseorang memanggil.

“Ryeowook-ah” teriak orang itu yang membuatku dan Ryeowook oppa menoleh. Sekilas aku melihat wajah Ryeowook oppa. Mimik wajahnya sudah berubah.

-TBC-

6 thoughts on “SEQUEL – [RyeoAe] Lovely Day Part 1

  1. “Suasana menjadi sepi. Kami tidak tahu mau berbicara apa dengannya.” <– kami tidak tahu mau berbicara tentan apa.

    "Umma pun sangat senang jika Sungi berada di rumah." <– SUNGI D:

    "Ia segera berdiri dan membungkukkan badannya pada oppa." <–oppa ta appa? kalo oppa, pake sungmin oppa :3

    "Aku segera membungkukkan badanku dan segera ke dalam mobil." <– masukkkk ke dalam mobil😄

    oke, itu saja yang aku bingung bacanya..
    sisanya typo.. juga bnyk "kan" dimana-mana :0!
    dan ceritanya overall oke😄
    aku ngguyu😄
    terakhir….
    koeen.. sok aegyo! XDD #ngabur

BE A GOOD READER GUYS ! PLEASE COMMENT IN HERE :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s