Please, Understand Me (Part 1)

AANNNYEEEOOOONG !!! WOOHOOOO !!

Akhirnya author kembali lagi dengan FF baru. Dan kali ini… Author akhirnya membuat FF tentang MINBI COUPLE !! senangnyaaa… akhirnya part 1 nya udah keluar.. *Terharu abis*

Penasaran sama ceritanya? Yang penasaran silakan baca, yang gak penasaran juga harus baca… hahaha XDDD

Happy reading XDDD

Author : Aira aka L. Sungbi

Title : Please, understand me (Part 1)

Main Cast : Han Sungbi, Shin Yong-ae, Park Ririn – Lee Sungmin, Kim Ryeowook – Other Cast

Genre : Family , Romance

Rating : PG – 17

 

Muak ! Aku muak mendengarkan suara teriakan dari mereka. Walaupun mereka adalah orang tuaku, aku pun juga bisa muak hanya karena ulah mereka yang membuat aku gila. Bertengkar setiap pagi, setiap ada di rumah, sampai membuat telingaku membesar hanya karena mendengar suara teriakan mereka. Apa mereka tidak pernah sadar aku ada di rumah? Apa mereka tidak pernah malu bertengkar setiap hari di hadapanku? Apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Aku benar-benar muak.

Mereka memang seorang artis ternama di negri ini. Siapa yang tidak mengenal mereka? Appaku seorang komposer dan memiliki sebuah agency ternama dan sudah Go Internasional. Dan umma adalah seorang Aktris dan juga pemilik sebuah perusahaan tekstil terbesar di Seoul. Dan mereka sangat jarang di rumah. Bahkan bisa di hitung kapan kami bertemu bertiga. Dan itu selalu di beri bumbu busuk yang membuat aku mual dan tidak ingin membahasnya. Sebuah pertengkaran hebat. Tidak pernah rukun sedikitpun. Semuanya egois.

Aku benci mereka sekarang. Tidak, bukan sekarang, tapi aku benci mereka dari dulu. Sejak mereka setiap pulang ke rumah bertengkar dan membuat aku tidak bisa belajar ataupun bersenang-senang sedikit dengan mereka. Tapi jujur, aku sangat merindukan masa kecilku yang sangat indah dulu. Apa mereka tidak pernah memikirkanku? Aku kecewa dengan mereka. Sungguh kecewa.

~o~

FLASHBACK

 

“Appa, bisakah aku meminta tolong?” tanyaku pada appa.

“Apa kau tak melihat appa sedang sibuk? Kau kan punya umma, minta tolonglah padanya”

“Umma belum pulang appa” kataku hampir menangis.

“Huh, apa yang bisa appa bantu?” tanya appa dengan nada terpaksa.

“Minggu depan ada pertemuan orang tua. Apakah appa bisa datang?”

“Minggu depan?”

Drrrrttt..

“Yeoboseyo” appa pergi meninggalkanku.

~o~

Sejak sekolah dasar aku tidak pernah merasakan rapor sekolah di ambil oleh kedua orang tuaku. Mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri. Tidak pernah punya waktu untukku dan mengurus sekolahku. Sekali pun mereka tidak pernah bertanya bagaimana sekolahku, kehidupan sekolahku. Yang mereka tahu, nilai jelek Sungbi harus di hukum. Ya, itu saja. Tidak ada yang lain. Siapa yang mengambil rapor sekolah? Siapa lagi kalau bukan sekretaris ummaku atau manager ummaku. Sampai kelas 2 SMA kemarin, mereka yang selalu mengambil raporku. Sangat mengecewakan.

Aku memang sendirian. Hidupku hanya sendirian di rumah yang sangat mewah ini. Saudara tak punya, orang tua tak pernah ada di rumah. Disini hanya ada aku, 2 pembantu, tukang kebun dan sopirku yang selalu mengantarku kemana-mana. Tapi kehidupan seperti ini lebih menyenangkan dari pada harus bertemu dengan orang tua yang tidak pernah menanyakan kabar anaknya sendiri. Sibuk, sibuk dan terus-terusan sibuk.

Teman, ya aku punya teman. Dan aku bebas punya teman. Mereka tidak ada yang tahu siapa aku. Mereka hanya tahu aku adalah Han Sungbi yang bersekolah di sekolah terbaik se-Seoul dan selalu menjadi juara kelas disana. Dan ini menyenangkan. Daripada mengingat kehidupanku di rumah. Memang ada sekitar 4 sampai 10 orang yang tahu siapa orang tuaku. Tapi mereka tidak pernah memberitahu karena takut tidak di debutkan oleh appaku. Mereka adalah trainee di agency appaku. Keji bukan? Kehidupan yang sangat menyebalkan.

“Jadi apakah orangtuamu akan datang?” tanya sonsaengnim padaku.

“Datang? Acara apa sonsaeng?” tanyaku polos.

“Tiga minggu lagi acara kelulusan kan? Dan semua orang tua harus datang. Apa kau lupa?”

“O—orang tua? A—apakah itu ha—rus?” tanyaku gugup. Mana mungkin mereka bisa datang. Itu tidak akan pernah mungkin.

“Ne, Sungbi-yah. Minimal salah satu dari mereka harus datang”

“Wali tidak boleh sonsaeng?”

“Lima semester kau selalu datang bersama walimu. Apakah orang tuamu berada di luar negeri? Bukankah mereka di Seoul?” aku hanya menunduk. Sonsaengnim tahu siapa orang tuaku. Pihak sekolah tahu siapa orang tuaku karena mereka selalu memberikan sumbangan terbanyak untuk sekolah ini.

“Ne, nanti aku coba bujuk sonsaeng” kataku setelah menghela napas. Sangat membosankan.

“Ne, mereka akan menjadi pembicara jika mereka datang Bi” aku tersedak mendengarnya.

“Andwe.. Waeyo?” sentakku. Rasanya jantungku mendadak berdegup melebihi batas normal.

“Tidak bisa? Sebenarnya jika beliau datang itu sudah cukup Bi. Ini semua tanda terima kasih kami pada keluarga kalian”

“Hng, ne.. Kalau begitu aku keluar dulu sonsaeng” kataku tidak ingin mendengar ocehannya lagi.

Tanpa jawaban dari sonsaengnim, aku segera keluar dari ruangan dengan wajah malas dan kesal. Aku berjalan menuju kelas sambil berpikir apa yang harus aku katakan pada appa dan umma agar mereka bisa datang di acara penting bagi semua murid kelas 3 ini. Sepentingkah orang tuaku datang ke acara itu? Aku yakin bagi mereka itu tidak penting. Kehidupan mereka sendiri jauh lebih penting dari apa pun. Tak perlu bertanya, aku pasti sudah tahu apa alasan mereka. Sibuk, sibuk dan hanya itu alasan terkuat mereka.

“Jadi kenapa kau ke ruangan sonsaengnim, Bi?” aku menoleh ke belakang. Ternyata ketiga sahabatku sudah ada di belakangku. Aku tersenyum masam pada mereka.

“Kami sudah menunggumu keluar dari ruangan itu dan kau meninggalkan kami disana. Dasar raja tega” kata Yong-ae membuat Ryeowook yang berada di sebelahnya mengacak-acak rambutnya yang di gerai itu.

“Hng, jadi kalian menungguku? Mianhae, aku tidak tahu kalian di sana” maafku ada mereka.

“Bi, waeyo? Ada masalah?” tanya Ryeowook khawatir denganku.

“Aniyo.. Sudah jangan di bahas lagi” kataku seraya meninggalkan mereka di belakangku.

Aku benar-benar tidak ingin membahas masalah ini dengan mereka. Sama sekali tidak. Kecuali Ryeowook, aku rasa mereka tidak ada yang tahu siapa aku. Mana mungkin aku bisa menceritakan itu sekarang. Aku yakin saat aku cerita mereka pasti akan berkata aku adalah seorang pembual. Aku rasa. Tapi apa salahnya jika aku mencoba bertanya pada mereka.

Bruuk!! Kaki yang tidak terlalu besar. Celana kain berwarna hitam dengan sepatu kets berwarna biru tua. Aku yang terjatuh masih memegang kepalaku yang pusing. Siapa dia? Ia membantuku berdiri. Belum kulihat wajahnya. Karena dia sangat tinggi. Lebih tinggi dari Ryeowook sepertinya. Tinggiku hanya sampai sedadanya. Dadanya sangat bidang dan gagah.

“Gwenchana?” tanyanya lembut. Aku melihat kearah wajah namja itu. Aku tidak kenal. Sangat tampan.

“Ne, gwenchana” kataku singkat. Senyumannya membuatku sadar jika aku tidak boleh terus-terusan menatap wajah namja itu.

“Loh hyung.. Ada apa? Kok tumben? Kangen sekolah ya?” kata Ryeowook dengan nada seperti sangat mengenal namja itu.

“Hahaha, aniyo.. Eh, mungkin juga iya. Aku hanya datang kemari untuk menanyakan sesuatu pada sonsaengnim” katanya. Aku mundur beberapa langkah dan berada di garis yang sama dengan Yong-ae dan Ririn.

Mereka jadi berbicara satu sama lain dan tidak sadar bahwa kami disini untuk menunggunya. Mungkin ini saat yang tepat untuk mengajak kedua sahabatku yang lain menanyakan hal rahasia yang selama ini aku tutup-tutupi dari mereka. Aku menarik kedua tangan mereka dengan cepat. Mereka terkejut dan aku membuat mereka hampir terjatuh karena tarikanku. Kami berlari meninggalkan dua namja yang sedang asyik sendiri di lorong sekolah.

“Bi, bi.. Sakit bi.. Aduuh” kata Yongae memegang tangannya yang aku tarik. Tapi aku tidak menggubrisnya.

“Bi, pelan-pelan” ganti Ririn yang menyuruhku pelan. Di tangga saja aku masih menarik mereka dengan berlari. Tapi mereka tidak memberontak hanya memegang tangannya yang aku tarik agar menjadi tidak terlalu sakit. Di taman belakang sekolah aku melepaskan tangan mereka dan membiarkan mereka duduk di bangku panjang.

“Capek” kata Ririn sambil duduk. Kami mengatur napas kami yang sangat tidak teratur karena lari dari lantai tiga sampai sejauh ini.

“Ne, aku juga” kataku.

“Kau capek? Terus kenapa mengajak lari tadi? Sebenarnya untuk apa kau mengajak kami berlari seperti tadi?” kata Yong-ae yang awalnya bernada tinggi dan terus merendah.

“Karena aku mau bertanya pada kalian. Dan aku rasa aku tidak ingin semua mendengar ini” kataku.

“Hng, apa kau ada masalah?” tanya Yong-ae sambil menarikku duduk di antara mereka. Sangat nyaman jika berada di antara mereka. Tidak seperti ketika di rumah.

“Tapi apa kalian janji tidak akan kaget dengan pertanyaanku?”

“Ne” jawab mereka serentak.

“Kalau kalian sudah menjawabnya, aku akan menjawab semua pertanyaan kalian” kataku sambil tersenyum.

“Sudahlah, apa yang ingin kau tanyakan Bi?” tanya Ririn penasaran.

“Hng.. Aku mau tanya.. Seandainya.. Kalian punya teman anaaknya seorang artis. Hng… kalian apa masih mau berteman dengan dia?” tanyaku sambil menutup mata. Aku tidak berani menatap kearah mereka.

“Ha? Artis? Ne, anak artis itu juga manusia kan? Dan lagi jika mereka baik pada kami, kami tidak akan jahat padanya”

“Apa kalian tidak akan me—hng.. memanfaatkan dia?”

“Kalau aku tidak, untuk apa? Aku masih punya orang tua. Dan aku juga bekerja” kata Ririn. Dia memang sering kerja part time untuk membeli sebuah mainan yang harganya sangat mahal. Padahal dia adalah anak orang mampu sebenarnya. Tetapi dia sangat ingin membeli dengan uang hasil kerjanya sendiri.

“Ne, aku juga. Sebenarnya ada apa Bi? Jangan-jangan…” kata Yongae sambil menunjuk kearahku.

“Jangan-jangan yang menjadi gosip di sekolah ini benar ya?” kata Ririn diikuti anggukan Yong-ae dengan cepat. Aku mengangguk pelan.

“HAH ? JADI KAU BENAR ANAK SHIN MIN AH?” teriak mereka sambil berdiri di depanku. Aku menutup mulut mereka secara refleks tapi terlambat.

“Ne, dia memang ummaku. Jangan terkejut seperti itu. Nanti yang lain dengar”

“Eh, mianhae. Jadi benar? Jadi kau anak Han Min Joong pemilik MJ entertainment? Kenapa kau tak pernah bilang pada kami?” tanya Yong-ae yang sudah duduk lagi di sebelahku.

“Aku tidak siap”

“Waeyo? Tapi memang benar, kalian sebenarnya sangat mirip. Aih, beruntung sekali dirimu, Sungbi-yah” kata Ririn. Siapa yang tidak kenal sosok ummaku. Sangat cantik dan menawan. Bagi mereka, sangat berungtung memiliki umma seperti dia.

“Aniyo. Itu tidak benar. Aku malah muak berada di rumah jika mereka berdua pulang ke rumah. Mereka terus saja berakting hingga masuk ke dalam rumah”

“Akting?”

“Ne, mereka selalu berakting mesra di depan kamera. Mereka selalu bercerita tentang anak mereka yang manis dan sangat menurut—“

“Ne, kau memang manis Bi”

“Aish, bukan itu… Tapi mereka saja tidak pernah bertemu dan mengajakku bicara. Pernah sih, itu pun jika mereka ada maunya. Dan setelah mereka sama-sama dirumah tidak akan ada waktu untuk tidak bertengkar. Semuanya di permasalahkan termasuk aku”

“Kau juga?”

“Ne, sampai aku bosan. Dan sonsaengnim menyuruhku meminta mereka untuk menjadi pembicara saat kelulusan nanti”

“Hah? Jadi pembicara?” mereka terkejut. Aku hanya mengangguk sambil menghela napas.

“Dan pasti itu akan menjadi masalah baru bagi mereka. Aku yakin”

“Sebentar, apakah kau sudah mencobanya?” tanya Yong-ae. Aku menggeleng.

“Lalu kau menyerah? Sungbi menyerah dalam hal kecil seperti itu? Bukan Han Sungbi namanya” kata Ririn sambil menepuk punggungku keras. Aku menghela napas. Memang ini mudah tapi ini susah untukku. Mereka tidak ada yang mau mendengarkanku.

“Ryeowook sudah tahu masalah ini Bi?” tanya Yong-ae.

“Ne, dia tahu dari kecil. Dia kan sahabatku dari SD Yong-ae-yah”

“Uh, jagiya babo. Kenapa dia tidak mengatakannya padaku” aku dan Ririn menoleh kearahnya bingung.

“Jagiya?” tanya kami bebarengan. Yong-ae yang menutup matanya terkejut dan meringis pada kami.

“Eh? Hng… Bukan”

“Jadi kalian—“ kataku. “Pacaran?” dan di lanjutkan oleh Ririn.

“Eh.. Hng.. Aniyo” kami memberikan evilstare pada Yong-ae. Dan sudah di pastikan dia tidak akan tahan dengan evilstare yang kita beri.

“Ne, ne… aku pacaran dengan dia. Sudah hampir 2 minggu. Sudah puas.. Jangan tatap aku seperti itu lagi” kami berdua tertawa terbahak-bahak.

“Ini jam—omona, ayo kita kembali ke kelas” kami pun segera berlari kekelas dengan penuh tawa. Aku pun sedikit merasa lega karena mereka tidak marah dan meninggalkanku karena masalah bodohku yan terus saja mengalir setiap waktu. Mereka memang keluargaku.

~o~

Aku keluar dari mobil saat mobilku sudah masuk ke dalam garasi besar rumahku. Aku melihat mobil umma ada di dalam garasi di depan mobil yang biasanya aku pakai. Jarang-jarang umma ada di rumah waktu aku pulang sekolah. Dan sungguh, walaupun aku sangat marah dan muak padanya, aku masih merindukan sosok ummaku itu.

Aku segera berlari masuk kedalam rumah tanpa melepas sepatuku. Umma duduk di atas sofa sambil mendengarkan managernya itu berbicara panjang lebar. Aku tersenyum senang melihat ummaku masih dalam keadaan sehat saat pulang ke rumah. Semoga setelah ini umma tidak ada kerjaan lagi dan di rumah untuk beberapa hari.

“Umma !!” teriakku dan langsung memeluk ummaku. Umma yang terkejut langsung ikut memelukku. Ah jarang sekali bisa di peluk umma seperti ini. Rasanya aku ingin menangis.

“Ah, sayaang.. Kamu sudah pulang. Bagaimana di sekolah?” tanya umma. Jarang sekali umma bertanya tentang aku. Aku sangat senang.

“Ne, tidak ada yang beda kok. Hng, tadi Sungbi di panggil sonsaengnim, umma”

“Apa kau berbuat salah?”

“Aniyo, umma. Aku kan anak baik”

“Lalu?” umma kembali sibuk ke Iphonenya dan tertawa sendiri. Aku tidak tahu apakah umma benar-benar mendengarkanku atau tidak.

“Umma, apakah tanggal 7 Juli umma bisa mengkosongkan jadwal untukku?” tanyaku. Umma menolehku heran.

“Untuk apa?”

“Itu hari kelulusanku umma. Apakah umma tidak bisa datang?”

“Kamu sudah lulus? Bukannya kamu masih kelas 2 SMA?” aku benar-benar terkejut mendengar ucapan umma. Apakah sampai segitunya umma tidak tahu tentang aku.

“Hahaha, umma bercanda saja. Aku sudah mau lulus umma” aku hanya tertawa dengan terpaksa. Benar-benar kecewa.

“Oh begitu, tanya saja pada manager umma. Apakah bulan depan jadwal umma bisa kosong atau tidak” aku melirik ke arah manager umma. Ia pun menggeleng. Aku menghela napas.

“Kalau tidak bisa, minta appamu saja, Bi. Kau masih punya appa kan?” kata-katanya begitu menusuk. Aku menelan ludahku. Hampir saja aku menangis di hadapan umma. Tak percaya mendengar ucapan umma yang begitu santainya.

“Begitu? Ya sudahlah. Aku mau kembali ke kamar saja” hanya suara ‘hng’ saja yang keluar dari bibir seorang SHIN MIN AH. Benar-benar tidak peduli pada anaknya sedikit pun.

Aku langsung menuju kamar. Sudah tidak mood untuk melakukan apa pun. Lagi-lagi aku mencerna kata-kata umma barusan. ‘Kalau tidak bisa, minta appamu saja, Bi. Kau masih punya appa kan?’ Kata-kata yang paling menyakitkan yang aku dengar dari mulut ummaku. Apa ia sudah tidak cinta lagi pada appa. Aku langsung mengambil Iphoneku untuk menelpon appa di kantor.

“yeoboseyo appa” salamku saat appa mengangkat teleponku.

“Ne, ada apa Bi?” tanyanya. Lembut. Appa memang lembut, tapi tetap saja mengingat semuanya, aku juga jadi malas jika harus meminta tolong pada appa.

“Appa, Tanggal 7 Juli appa ada jadwal kosong?”

“Untuk apa, Bi? Tanggal itu appa kan ada di Jepang”

“Mwo? Jepang? Jauh sekali.. Itu hari kelulusanku appa, apakah appa tidak bisa sedikit punya waktu untukku?”

“Eh? Minta umma saja ya.. Appa sedang sibuk me—“

“Sibuk lagi? Ya sudahlah terserah kalian saja. Tidak ada kalian juga aku bisa hidup. Kalian selalu tidak pernah punya waktu untuk bertemu dengan anak kalian. Padahal anak kalian cuman aku” tanpa sadar aku membentak appa. Aku benar-benar kesal dan tidak tahan lagi.

“Kamu itu bicara apa? Ini semua kan juga un—“

“Aish, aku tidak peduli dengan alasan kalian lagi. AKU-SUDAH-BOSAN” aku menekan kata-kataku dan mematikan sambungan telepon kami. Aku segera melemparkan badanku ke atas ranjang sambil membenamkan wajahku dengan bantal yang biasa aku gunakan saat tidur. Airmataku mengalir sangat deras. Aku merasa sangat kesal dengan ucapan mereka.

Kabur dari rumah. Apakah ini satu-satunya cara agar mereka sadar bahwa aku masih hidup? Apakah ini satu-satunya cara agar mereka sadar kalau aku juga butuh mereka. Aku bosan hidup seperti ini. Aku benar-benar bosan bertemu orang yang tidak pernah mengerti apa yang aku butuhkan. Tiba-tiba aku mendengar suara teriak-teriak dari bawah. Sepertinya itu suara umma. Entah apa yang umma lakukan.

Aku duduk sambil menghapus air mataku. Suara teriakan-teriakan itu masih terdengar jelas dari lantai satu. Aku yang penasaran keluar dari kamar untuk melihat ada apa di bawah. Teriakan itu makin keras. Sepertinya umma sedang bertengkar dengan seseorang. Siapa lagi kalau bukan appa. Aku mengerti karena ia berkata ‘anakmu’. Aku yakin mereka bertengkar masalah permintaanku.

“YAK !! SELALU SAJA AKU YANG SALAH ! APA KAU TIDAK BISA MENYEMPATKAN WAKTU JUGA UNTUK ANAKMU ITU? KAU SELALU SAJA MENYURUHKU UNTUK MENEMANINYA, APA KAU LUPA AKU JUGA SIBUK?” teriak umma di teleponn. Rasanya sangat sakit. Aku terduduk dan hanya menangis sambil memeluk lututku yang sudah bergetar saat mendengar obrolan umma.

“TERSERAH KAU SAJA ! URUSI SEMUA PEKERJAANMU ITU, AKU TIDAK PEDULI ! AKU MUAK BERBICARA DENGAN MANUSIA SEPERTI KAMU !” teriak umma semakin menggebu. Aku menutup telinagku. Aku tidak tahan dengan semua ucapan umma. Ya, aku memang selalu salah. Aku adalah beban untuk mereka. Aku memang tidak akan pernah menjadi penting untuk mereka. HAH. Aku benar-benar sangat muak !

Aku yang tidak tahan langsung mengambil tas sekolahku yang tadi aku pakai dan segera keluar dari neraka ini tanpa peduli apa yang akan di katakan orang rumah nanti. Aku sudah benar-benar tidak tahan. Semua pembantu dan tukang kebun yang melihatku, bertanya aku akan pergi kemana. Tetapi aku hanya diam dan tidak mau berkomentar apa pun.

Aku menyuruh semua orang yang melihatku keluar dari rumah untuk diam. Dan mereka hanya mengiyakan tanpa bertanya lebih lagi. Airmataku masih mengalir saat berjalan keluar rumah. Sangat menyakitkan. Hanya karena tidak bisa datang saja mereka bisa bertengkar seperti itu. Aku tidak memaksa mereka. Dan sekalipun dari kecil hingga detik ini aku tidak pernah meminta apa pun dari mereka. Mereka hanya berpikir memberikan aku uang itu lebih baik daripada bertemu denganku.

Harus kemana? Aku tidak tahu harus pergi kemana. Benar-benar tidak tahu lagi. Terus berjalan dengan seragam yang kusut dan rupa yang acak-acakan seperti ini. Semua orang menatapku aneh. Tak jarang mereka jadikan aku bahan obrolan mereka. Orang awam memang tidak pernah tahu apa yang terjadi sebenarnya. Mereka hanya tahu aku kusut dan sangat bermasalah. Aku berhenti di depan restoran fast food yang ada di ujung jalan. Aku mengambil Iphoneku di dalam saku rok seragamku yang sedang aku kenakan. Yang harus kulakukan sekarang hanya satu. Menelpon Ryeowook. Hanya dia yang aku percaya sekarang. Segera aku menekan nomernya dan menekan dial call di Iphoneku.

Sedikit terisak. Sering aku menutup wajahku dengan satu tangan atau menundukkan kepalaku agar semua orang tidak terlalu curiga padaku. Aku tidak mau menjadi bual-bualan mereka. Terdengar suara dari operator. Ryeowook tidak mengangkatnya. Apa aku harus menelpon Ririn atau Yong-ae? Tapi kalau aku melakukannya, berarti aku akan menjadi beban untuk mereka.  Tidak tega, tidak mau mereka memikirkan kebodohanku sekarang. Hanya itu yang aku pikirkan. Kuurungkan saja niat menelpon mereka berdua. Dan sekarang hanya satu kata yang harus kuucap, putus asa.

“Sungbi” panggil seorang namja di belakangku. Aku dengan spontan aku menoleh ke arah namja itu.

“Ye” kataku lemas sambil tersenyum kecil. Namja ini adalah namja yang tadi siang menabrakku secara tidak sengaja. Darimana dia tahu namaku.

“Boleh aku duduk?” aku mengangguk pelan padanya. Dia pun duduk sambil meletakkan segelas kopi hangat yang ia beli di fast food itu.

“Kau menangis?” aku mengangguk lagi. Dia terlihat sangat khawatir. Aku menutup mataku tidak mau melihat namja itu.

“Waeyo Bi? Mau cerita?” aku menoleh padanya. Siapa dia? Aku saja tidak kenal dia. Mana mungkin aku bercerita pada orang yang belum aku kenal. Yang aku tahu dia adalah teman Ryeowook. Dan juga, baru hari ini aku bertemu dengannya.

“Oppa siapa? Dari mana aku tahu namaku?” tanyaku polos. Dia tertegun mendengar pertanyaanku.

“Jadi kau tidak tahu siapa aku?” aku menggeleng. Dia tersenyum. Sangat manis.

“Lee Sungmin imnida. Panggil aku Sungmin. Aku kakak kelasmu saat SMA. Kita hanya beda 2 tahun saja. Dan aku rasa, siapa yan tidak mengenal seorang Han Sungbi?” bibirku mengerucut berbentuk ‘O’.

“Banyak yang tidak mengenalku. Aku rasa” kataku pelan.

“Tidak untuk angkatanku dan 5 tahun di bawahku, Bi” katanya tersenyum.

“Mwo? Maksudnya?” aku tidak paham.

“Ya, seorang Han Sungbi, Siswi berprestasi, cantik, baik dan sempurna di mata murid namja, apa itu tidak terkenal? Kau itu sangat terkenal, Bi. Dan beruntungnya aku bisa mengobrol denganmu sekarang” katanya dengan menggebu-gebu. Aku hanya tersenyum kecil.

“Aku tidak yakin oppa. Aku tidak sesempurna yang kau bilang. Terus kenapa 5 tahun?”

“Ne, jika kau kelas 1, aku kelas 3. Ada yang kelas 2, dan ada yang kelas 1. Sudah tiga tahun kan?” aku mengangguk.

“Dan dua tahunnya adalah hoobae kelas 2 dan kelas 1 saat aku kelas 3. Begitukah?”

“Kau memang jenius” katanya sambil tertawa. Aku ikut tertawa. Sedikit saja aku melepas masalahku. Hanya sedikit. Namja yang baik. Smile eyesnya terlihat jelas dan membuat Sungmin oppa terlihat lebih cute.

“Oppa habis darimana?” tanyaku polos.

“Training” katanya singkat. Aku melihat dirinya mulai dari atas hingga bawah. Memakai baju training, dan sudah pasti dia tidak berbohong padaku.

“Jadi kenapa kau menangis Bi?” aku yang masih melihatnya dari atas sampai bawah terkejut.

“Hanya masalah kecil” ia mengangguk-angguk. “aku rasa”

“Mwo? Kamu rasa? Pasti ada masalah. Jadi kenapa kau menangis. Ceritalah. Aku akan mendengarkan semuanya, Bi” aku melihat ke arah matanya. Muncul kelembutan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Pernah aku lihat sebuah kelembutan dari mata Ryeowook, tapi mata namja ini jauh lebih lembut dari Ryeowook.

Tanpa di suruh dua kali, pada akhirnya keluh kesahku keluar tanpa melupakan identitas orang tuaku. Ini masih rahasia. Tidak mungkin aku membukanya kan. Ia hanya mengangguk pelan. Sesekali ia seruput kopi yang ia minum. Dan aku hanya bercerita semua yang aku pikirkan sekarang. Aku menangis lagi di hadapan namja itu. Tidak pernah kuat batinku jika harus menceritakan masalah ini tanpa tangisan. Walaupun aku masih bisa mengontrol emosiku, airmataku tetap saja keluar dari kelenjarnya. Dia berpindah tempat duduk dan mengelus punggungku lembut. Muncul rasa ingin memiliki oppa seperti dia. Sikapnya yang dewasa membuat aku tenang saat bercerita semua masalahku pada Sungmin oppa.

“Jadi intinya, kau kabur dari rumah karena pertengkaran orang tuamu itu?”

“Ne, aku benar-benar tidak tahan oppa” jawabku masih terisak.

“Tapi kau mau tinggal dimana? Tidak mungkin kau tinggal sendirian kan? Dan juga, kau masih memakai baju seragam Han Sungbi” katanya sambil melirik tubuhku dari atas hingga bawah.

“Antar aku ke rumah Ryeowook saja, oppa”

“Aniyo, aku tidak mau”

“Waeyo?” tanyaku kesal.

“Kau lebih baik pulang sekarang, Bi”

“Andwe.. Aku tidak akan pulang ke neraka itu lagi. Sudah cukup aku tersiksa oppa. Aku tidak mau”

“Tidak bisa, Bi.. Kau harus pulang ke rumah”

“Aku mohon oppa.. Jangan suruh aku pulang ke rumah.. Aku tidak akan pernah mau kembali” kataku sambil memohon. Aku hampir menekuk lututku agar dia tidak menyuruhku pulang ke rumah. Tapi dia langsung menyuruhku berdiri dan kembali duduk.

“Jangan seperti itu. Aku tidak pernah tahan dengan tangisan seorang yeoja”

“Tapi aku mohon oppa, jangan suruh aku pulang ke rumah” ia tidak bersuara. Hanya mengangguk dan menatapku dalam-dalam.

-TBC-

gimana gimana? Penasaran sama lanjutannya? wehehehe… Bener bener deh..

Kalo mau tahu lanjutannya ini di komen dulu yak.. hahaha

Author cinta orang yang ngomen di blog author.. Yang gak komen gak cinta hahaha XDD

42 thoughts on “Please, Understand Me (Part 1)

  1. APAH DDD::
    sejak kapan kau anak artis ?? *banting leptopmu*😄

    kkk.. ceritanya bagus kok~
    tapi kurang greget..
    apalagi itu endingnya :[] :[] :[] !!
    kurang.. kurang JENGJENG gitu rasanya (?)😄
    kkkk~

    oke, itu sajaah komen saya..
    karena sy sudh komen, skrg post part 2 *angkat leptop kyu (?)*😄

  2. Eiiii, eonni. Mwoya igeo? No comment not loved? Mending gak usah comment kalo gitu. Dicintai bi eonni menyeramkan… Lol!
    Huaaaaa! Gak nyangka itu min loh… /plak kupikir bakal yesung lagi ._. Hahahaha! Daebak~ neomu joha joha johaaaaa! XDD
    Lanjut lanjut lanjut *demo bareng telor ungu* X3

  3. Annyeong unnie bi… Cieee akhirnya ada FF minbi hahaha unnie part 1nya sedih ya semoga yg part 2 dan seterusnya engga ya kasian sungbi nya hehe makanya cepet post kelanjutannya ya unnie hehhe gomawo😀

  4. Bi! aku datang😄 *muncul dari kandang ddangko-brothers* (?) kkk kenapa Wook harus punya pacar? T^T aku ga relaaaaaa DX *ditabok* kkkk~ crtnya bgs Bi, rasanya nyes gitu (?) kkk😄 ditunggu chaps” slnjtnyaa😄

  5. Kyaaaa eonnie ffnya keren>o<
    Cie Bi eonnie anak artis ciee~
    Itu Ryeowooknya jadian sama Yong-ae? Kenapa tdk sama aku? xD
    Ah udh ah komennya, aku bawel bgt yak kkkkk

  6. Hiks…hiks…huaaaaa…………. Kok sedih sih Chingu *tissue mana tissue..

    Aku cemburu nih Sungbin nubruk Sungmin😦
    Tapi gapapa, kereeen ceritanya. Ditunggu ya lanjutannya. Jangan lupa mention di @TrianiB

    Whuaaa, Ryeowook udah punya pacar, Sungmin pedekate ma Sungmin. Aku sama Kyuhyun aja dehhh… Hehehe… ^^

  7. Unni datang *bawa spanduk yeye* #plaaak..
    Wahh.. Han Sungbi seorang artis?? -___- artis apa dulu #jdaaar..
    Romance di part 1 Kurang greget ya ^^ #plaaak *dihajar Sungbi*
    ini rate T? kenapa gk bikin rate M aja wkwkwkw *yadong.kumat*

    Unni gk bisa banyak comment, soalnya unni juga author straight baru ^^// tapi over all bagus kok FF’nya..
    lanjut part 2 nya ya ^^

    Keep writing Saeng ^^
    Fighting

    • bukan Sungbi yang artis.. ummanya unni yang artis (nangis)
      romancenya memang belum di perlihatkan *tutup mata*
      jangan bawa rate M… ntaran aja kalo itu kalo udah belajar sama unni.. okeh.. *eh tambah ngaco*

      oke.. gomawo unni.. Baca yang lain un… yang oneshootnya juga di baca.. biar gak mikir rate M terus *promosi*

      Hwaitiiing !!!

      • huaaaaa… jangaaan duluuuu… ajarin dulu /plakkk

        gomawo gomawoo.. wooohooo… aku tunggu komen yang lain un.. kkk

        HWAITIING LAGII !! XDD

    • huahaha… iya nih kasian si sungmin bias utama malah gak dapet peran.. bahahah..

      mana ffnya? mau baca… kasih tau aku ya nak.. kkk

      sip sip… tunggu tunggu… XDD

  8. HI eonni, akhirnya meluncur di blog ini dengan kece B) *diusir mibi
    mian eonni, aku udah baca dari kemarin tapi belum comment :’) aku komen sekarang ya haha, tapi aku masih ragu buat comment, soalnya aku cintanya sama kyubumhae :p haha *dilempar
    ciee ciee yang anak artis haha
    itu ryeowook chukae ya udah punya pacar, trus akunya di kemanain? </3
    bagus eonn, ada sedihnya, ada romancenya juga😀
    romancenya di tambahin lagi ya eonn biar lebih greget😀 haha

  9. Gyaa..ternyata tokoh utamanya Sungbi (evil smirk)
    Konsepnya bagus, hanya kata2 pertengkaran antara appa & eomma nya masih agak datar..kurang thriller gitu (dipikir mau buat cerita horor kali xD)
    overall bisa diselesaikan sampai tamat gaa ini ff-nya? penasaran dg akhir ceritanya hahahaa

    P.S.: kenapa mbak Min Ah yg jadi ibunya?? >_< (salah fokus)

    • bisa eon… pasti bisa XDDDD
      aku beberapa hari setelah ngeposting ini, aku nyari nama Shin Min-Ah itu ternyata ada artis namanya itu… abahahahaha… padahal gak niat bkin si Min-ah yang itu eon…

BE A GOOD READER GUYS ! PLEASE COMMENT IN HERE :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s