(Ryeowook) Meet You Again (Part 1)

Sliiiipppppp…. ANYEOOONG !!! author kembali dengan lanjutan sequelnya… sapa nunggu hayo? hahaha…

Yang nunggu pasti komen ntar.. hahaha…

Yuk lanjut… Akhirnya setelah beberapa minggu galau tidak mau harus kemana, sekarang author sudah membuat kepastian untuk melanjutkan ff ini sampai part satunya selesai. dan author akan membuat kalian penasaran. *semoga* bunuh author ya kalo gak penasaran.. Pokoknya komentar.. hahaha

tarik mang… Oke.. karena author capek tak perlu berlama-lama lagi deh, happy reading semua XDD

Author : Aira aka L. Sungbi

Title : [RyeoAe] (Ryeowook POV) Meet You Again (Part 1)

Main Cast : Kim Ryeowook, Lee Sungmin – Shin Yong-ae, Han Sungbi (Nama keluarga di ganti di sini)

Genre : Sequel , Romance

Rating : PG – 17

Notes : For my Dearest Unni, Friska J

Penat. Bosan di kantor. Dan untung saja semua pekerjaan kantor untuk hari ini sudah beres. Tak ada lagi yang perlu aku kerjakan disana. Sedikit bersantai sebelum pulang ke rumah. Aku ingin membeli sebuah kado kecil untuk keponakanku yang kemarin sedang berulang tahun. Tetapi aku tidak tahu apa yang dia suka. Harusnya aku mengajak seorang yeoja, setidaknya mengajak sahabat kecilku Sungbi, tetapi aku tahu, hari ini dia sangat sibuk untuk mengurusi rencana pernikahannya dengan Sungmin hyung, sahabatku sendiri.

Aku pun mencari di toko-toko mainan yang berada di dalam mall besar ini. Apa aku harus menelpon noonaku untuk menanyakan apa yang dia suka? Tapi kalau anak itu dengar namanya bukan surprise kan? Aku harus mengurungkan niat itu sekarang. Aku benar-benar ingin membelikannya sesuatu, tetapi lagi, aku tidak tahu apa yang di suka yeoja kecil berumur 8 tahun itu.

Semua pelayan di toko pun memberikan banyak rekomendasi, tetapi aku tidak cocok dengan pilihan mereka. Jadi, aku harus kembali keluar dari toko ke empat yang aku datangi hari ini dan berjalan menuju toko yang lain dengan agak malas.

“Ryeowook oppa” panggil seseorang. Aku mengenal suara itu. Suara lembut yang terkesan anak kecil. Aku menoleh ke arah suara itu, dan benar saja tebakanku, dia adalah Sungbi. Aku berjalan menghampirinya. Ia juga berlari ke arahku dengan melayangkan senyuman manisnya itu.

“Sungbi” panggilku balik dan memeluknya. Ini selalu kami lakukan jika kami bertemu. “Waeyo kau disini. Astaga wajahmu masih saja” aku mencubit pipi Sungbi hingga merah.

“Aish, pipiku” dia memegang pipinya yang panas. Aku pun  mengacak-acak rambut Sungbi sambil tertawa. Tiba-tiba ada seorang yeoja datang menghampiri kami berdua. Dia sekarang berada di belakang Sungbi dan tersenyum padaku. Aku terkejut melihat wajah yeoja itu

“Annyeong haseyo” sapanya padaku. Sungbi menoleh dan ia memeluk pundak yeoja itu.

“A—annyeong” aku membalasnya dengan salah tingkah. Aku menunjuk ke arahnya. Dia merangkul lengan Sungbi.

“Loh, kau kan—“

“Ne, dia dongsaengnya Sungmin oppa. Jangan bilang oppa lupa padanya” kata Sungbi. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang.

“Yong-ae unni, ini Ryeowook oppa sahabat kecilku yang sering aku ceritakan”

“Yong-ae-yah, kau sudah berubah sejak terakhir kita bertemu” kataku sambil tersenyum, matanya terlihat sangat bingung. Aku rasa dia tidak mengenaliku.

“Ah, ne..” ia menjawab sangat singkat sambil tersenyum. Terpaksa.

“Bi, katanya mau makan. Ayo kita cari cafe” ajaknya pada Sungbi.

“Kalian mau makan? Kalau begitu bareng aja ya? Ottoke?” Sangat pas. Aku bisa berbicara banyak dengannya. Aku sudah lama tidak bertemu dengan Yong-ae. Dan aku rasa sekarang dia semakin… Cantik.

“Ne, ayo unni” Sungbi menarik tanganku dan tangan Yong-ae untuk segera mencari cafe. Aku jadi banyak tersenyum karena bisa bertemu lagi dengan yeoja cantik ini.

‘Sungmin hyung, dongsaengmu membuat rasa itu kembali lagi’ batinku.

~o~

Yeoja itu. Awal aku bertemu dengannya adalah saat aku kembali ke Korea saat liburan di tahun kedua aku kuliah di salah satu universitas Jepang. Yeoja itu adalah dongsaeng dari sahabatku sendiri, Sungmin hyung. Aku dan Sungmin hyung saling mengenal sejak awal masuk kuliah dan satu tempat tinggal selama 5 tahun berkuliah disana. Lama? Ne, itu menurutku sangat lama daripada yang aku bayangkan. Saat liburan datang dan saat kami kembali ke Korea, aku sangat sering berkunjung ke rumah Sungmin hyung dan berkenalan dengan Yong-ae. Yeoja yang aku temui sekarang. Dan sejak saat itu aku mulai menyukainya. Mungkin ini adalah cinta pandangan pertama.

Sungmin hyung tahu jika aku menyukai saudara kandungnya itu. Awalnya dulu dia pernah menggodaku akan memberitahukan perasaanku itu pada Yong-ae, tetapi aku selalu mencegahnya. Aku tidak mau dia tahu aku menyukainya karena fisikku saat itu. Apakah kalian tahu? Aku benar-benar gemuk saat itu. Benar-benar bulat dan tidak berani lagi untuk berpacaran setelah SMA. Ada satu alasan lagi sebenarnya, karena aku pernah sakit hati oleh seseorang. Sebagai ganti tutup mulut, Sungmin hyung memintaku untuk mengenalkan pada salah satu teman yeojaku. Awalnya aku menolaknya, karena aku tidak memiliki seseorang teman yeoja kecuali Sungbi. Ya hanya dia. Sahabatku dari kecil.

Hingga suatu hari, Sungmin hyung datang ke rumahku. Disana Sungbi juga sedang bertamu ke rumahku. Dan akhirnya mereka berdua bertemu. Sungmin hyung memaksaku lagi untuk tetap mengenalkan dirinya pada teman yeoja yang sedang ada bersama ummaku itu. Aku pun mengiyakan dan mengenalkan namja pemaksa itu pada Sungbi, sahabat kecilku . Dan aku tidak pernah berpikir jika mereka akan seawet ini hingga merencanakan pernikahan. Tapi aku bersyukur, karena sebenarnya mereka sangat cocok. Setidaknya aku memilihkan seorang namja yang baik untuk sahabat yang sudah aku anggap dongsaeng kandungku sendiri itu.

Beberapa bulan setelah Sungbi berpacaran dengan Sungmin hyung, aku baru menyadari jika Sungbi dan Yong-ae bersahabat sejak SMA. Dan itu semakin membuatku semakin menyukai Yong-ae, karena walaupun kami jarang bertemu, aku masih bisa bertanya tentangnya lewat Sungbi. Dan setelah itu, aku pun berencana untuk hilang dari Sungmin hyung dan Yong-ae untuk beberapa waktu. Karena aku ingin menjadi seperti Sungmin hyung yang memiliki badan atletis dan tidak gemuk seperti aku sekarang. Dan aku berhasil melakukan itu sampai hari ini aku bertemu lagi dengan yeoja yang aku cintai.

~o~

Aku memilihkan tempat di sebelah jendela cafe. Mumpung kosong dan tidak ada yang menempati. Tempat ini adalah tempat favoritku. Kedua yeoja itu duduk di depanku sekarang. Aku tidak berani sedikit pun mengajak Yong-ae berbicara. Karena aku benar-benar tidak tahu harus bertanya apa padanya. Dengan isyarat mata dari Sungbi, aku tahu dia menyadari bahwa aku salah tingkah. Sesekali aku melirik ke arah Yong-ae. Dan kali ini aku mendapatinya sedang menatap wajahku dengan sedikit melamun. Aku memberikan kode pada Sungbi karena Yong-ae hanya diam saja daritadi. Tetapi Sungbi menyuruhku untuk mengajaknya bicara.

“Yong-ae-yah, wae kau diam saja? Dan sepertinya kau terlihat bingung” aku memulai sedikit mengajaknya bicara. Dia pun terkesiap dan bangun dari lamunannya.

“Mwo? Aniyo. Itu hanya perasaan oppa saja” jawabnya singkat. Aku hanya mengangguk pelan. Agak kecewa dengan jawabannya.

“Unni, apakah kau sakit?” Sungbi bertanya dengan hati-hati dengan wajah khawatir.

“Aniyo Bi. Aku hanya lapar” katanya pelan. Ia mengambil minumnya dan meminumnya sambil melihat ke arah lain. Astaga wajahnya sungguh lucu.

“Bi, mungkin dia lupa siapa aku?” aku menebak. Ntah itu benar atau salah. Yang pasti aku tahu dari wajahnya yang cantik itu. Tetapi pertanyaanku membuatnya tersedak. Aku sekarang jadi ikut salah tingkah.

“Unni.. Unni tidak apa? Apa kau baik-baik saja?” tanya Sungbi khawatir. Ia mengelus punggung Yong-ae dengan sabar. Aku hanya tersenyum kecil.

“Unni, minum air ini dulu. Jangan minum soda dulu” Sungbi memberikan botol air mineral pada Yong-ae. Aku hanya diam tidak tahu apa yang harus berbuat apa. Yang pasti harus sok cool.

“Unni lupa dengan Ryeowook oppa?” tanya Sungbi. Yong-ae menggeleng.

“Jangan berbohong Yong-ae-yah” wajahnya terlihat terkejut.

“Ah, ne, aku memang lupa siapa dia, Bi” JACKPOT. Aku benar. Pasti dia lupa siapa aku. Tak mungkin dia mengenalku. Lihat badanku saja pasti dia tidak mengenalinya. Apalagi dulu aku memakai kacamata.

“Aku benar kan, Bi?”

“Kau selalu pintar menebak oppa. Tapi kau tidak pernah bisa menebak pikiranku”

“Omona ! Yang itu tidak mungkin. Yong-ae-yah, aku Kim Ryeowook sahabat kecil Sungbi dan teman kuliah Sungmin”

“Teman kuliah Sungmin oppa?”

“Ne, yang di Jepang” kataku meyakinkannya. Ia mencoba mengingat-ingat.

“Oh, Kim Ryeowook yang gemuk itu kan?” katanya sambil menunjukku. Ternyata dia hanya ingat badan gemukku saja.

“Ne.. Yang itu Yong-ae-yah. Kau lupa denganku?” tanyaku lagi.

“Ne.. Aku lupa tadi.. Karena oppa sudah sangat berubah. Aku tidak menyangka oppa bisa sekurus ini sekarang”

“Ahaha, ne.. Aku saja yang sahabatnya saja tidak percaya kok un, Ryeowook oppa bisa sekurus ini”

“Aish, tapi kan kau kan sudah lama tahunya, Bi” Sungbi hanya tertawa kecil.

Melihatnya tertawa aku benar-benar benar bahagia. Sejak awal bertemu siang ini, aku belum melihat senyuman semanis itu dari wajahnya. Dan sekarang aku bisa mendapatkan senyuman manis itu dari wajahnya yang cantik dan bersinar itu. Astaga, apa yang aku pikirkan sekarang?

Aku melirik sedikit ke arah jam tangan. Dan sekarang sudah hampir jam 5 sore. Kami terlalu banyak berbincang-bincang. Lepas rindu. Aku tidak tahu apakah dia merindukanku atau tidak. Tetapi, yang pasti aku sangat merindukannya. Aku harus mendekatinya. Harus. Semoga dia tidak memiliki pacar. Tapi kalau dia sudah memiliki pacar, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus bunuh diri? Aku harap dia tidak memiliki pacar sekarang.

“Bi, sudah sore, sepertinya kita harus pulang” kata Yong-ae setelah melihat ke jendela cafe. Ia pun melihat jam tangannya sambil memastikan apakah benar-benar sudah sore.

“Ne unni.. Oppa, kita harus pergi. Besok ke rumah ya, umma sangat merindukanmu” kata Sungbi. Kalau begitu aku akan mampir ke rumah Sungbi saja malam ini.

“Ne pasti. Kalau begitu aku juga pulang” kataku. Aku masih canggung walaupun sudah berbicara banyak dengannya.

“Ne.. Gomawo oppa” kata mereka serempak. Dan mereka meninggalkanku begitu saja. Aku akan menunggunya sampai mereka keluar dari cafe ini.

Setelah mereka keluar dari cafe, aku segera mengambil iphoneku dan mengirim pesan untuk Sungbi.

‘Bi, aku akan ke rumahmu sebentar lagi. Kalau sudah sampai rumah bilang aku ya’

Aku menunggu balasan Sungbi selama 15 menit. Ternyata tidak lama. Aku bergegas  menuju mobil dan pergi ke rumahnya yang tidak jauh dari mall ini. Aku harus menyuruhnya cerita apa reaksinya bertemu denganku. Aku harus bertanya apakah dia suka penampilanku. Aku mau bercerita tentang apa yang aku rasakan sekarang setelah bertemu dengannya setelah 2 tahun tidak bertemu dengannya. Dan satu lagi, aku harus mendapatkan nomer handphonenya. Karena aku tadi tidak berpikir untuk memintanya. Ya, aku tidak berani memintanya secara langsung. Apa in berlebihan? Aku rasa tidak untuk sekarang.

Memang tak perlu waktu yang lama untuk sampai ke rumah Sungbi. Hanya butuh 15 menit setelah aku mengebut dengan indahnya. Ini pertama kalinya aku sangat heboh karena soal perasaan. Heboh untuk mengejar cintaku yang tak pernah hilang sejak beberapa tahun terakhir ini. Aku segera keluar mobil, membanting pintu mobil dan masuk ke rumah Sungbi yang cukup besar itu. Aku berharap ummanya sedang tidak ada di rumahnya sehingga ummanya tidak terkejut aku datang kemari dalam keadaan heboh seperti ini. Aku menekan bel rumah berulang kali. Aku berharap Sungbi yang membuka pintu rumahnya.

“Oppa ! Kau pikir kau sedang ada di dalam sebuah studio acara kuis?” Bingo ! Sungbi yang membukakan pintunya. Aku segera memeluknya sambil melompat-lompat di depan pintu rumahnya.

“Siapa Bi?” tanya seseorang di belakang Sungbi. Aku segera melepasnya dengan wajah malu. Aku tidak menyangka perkiraanku kali ini meleset.

“Ryeowook oppa umma” kata Sungbi sambil cemberut.

“Aigoo, Ryeowook-ah. Kau sekarang sudah dewasa ya” kata umma Sungbi sambil menepuk lenganku.

“Annyeong haseyo komo” sapaku sambil membungkukkan badan 90 derajat. Aku sangat malu.

“Annyeong, komo merindukanmu Ryeowook-ah”

“Nado komo, komo semakin cantik” kataku. Semoga beliau lupa apa yang aku lakukan tadi.

“Aigoo, kau sekarang sudah tidak polos ya. Hahaha” kata komo. Mungkin karena aku memujinya. Karena tidak biasanya aku melakukan itu pada ummanya, bahkan ummaku sendiri saja tidak pernah.

“Aniyo komo, aku masih polos seperti biasanya kok” kataku pada komo. Beliau sudah aku anggap menjadi ummaku sendiri sejak kecil.

“Kau bisa saja, sudah duduklah dulu. Jangan peluk-peluk Sungbi sampai seperti itu, dia kan sudah punya Sungmin” ternyata aku salah. Beliau masih mengingatnya. Aku hanya tertawa kecil menahan malu.

“Ummaaa, sudahlah.. Ryeowook oppa kan sahabatku” kata Sungbi dengan wajah manja. Ummanya tidak mendengarkan dia berbicara, dan kembali ke kamarnya. Tinggallaah kami berdua di ruang tengah. Aku menhela napas panjang.

“Mana nomer handphonenya?” tanyaku to the point. Ia terlihat bingung. Sangat bingung sampai alisnya ia naikkan.

“Nomernya siapa?”

“Siapa lagi? Kenapa kamu bingung gitu? Jadi bagaimana reaksinya saat bertemu denganku?”

“Oh, tak ada reaksi, hanya saja Yong-ae unni hanya tersenyum lebar saja hari ini. Eh, jangan-jangan….” katanya. Sedikit kecewa tapi tetap senang. Dia memberikan langsung iphonenya supaya aku mencari sendiri nomer Yong-ae. Sungbi memang sangat percaya padaku.

“Sudah sana coba telpon” suruhnya dengan wajah menggodaku.

“Telepon?”

“Ne, mau apa lagi?”

“Sms saja deh” kataku sambil menekan iphoneku yang aku pegang. Hanya menyapanya. Aku tidak berani jika lebih.

“Pasti tidak di balas” dengan penuh keyakinan dia menghempaskan semangatku begitu saja.

“Mwo? Kenapa tidak bilang dari tadi?” kataku meneriakinya. Dia menutup telinganya.

“Haish, tapi aku tadi sudah nyuruh telepon aja kan?” katanya santai. Aku menyandarkan punggungku di sofa empuk yang aku duduki sekarang.

“Terus bagaimana?”

“Nanti waktu sampai rumah, oppa telepon saja dia. Aku yakin pasti di angkat”

“Begitu, kalau tidak berani?”

“Itu urusanmu” kata-kata cuek, tetapi di memakai wajah aegyonya. Aku langsung menjitak kepalanya hingga dia kesakitan. Dasar yeoja.

“Bi, apa dia suka penampilanku?”

“Dia tidak cerita”

“Kalau yang lain? Kalau kau jawab dengan wajah datar aku jitak kepalamu lagi”

“Hah? Mwo? Aku tidak mau. Tapi aku tidak bohong oppa, dia memang tidak bilang apa-apa. Dia hanya menyetir, menghela napas, tersenyum, menggelengkan kepalanya sambil tertawa. Hanya itu saja” kata Sungbi mencoba meyakinkanku. Wajahnya memelas agar tidak di jitak lagi. Sangat lucu.

“Kalau begitu, untuk apa aku kemari jika kau tidak menjawab pertanyaanku”

“Tidak tahu. Oh ya oppa, kau bertanya reaksinya. Terus bagaimana reaksimu sendiri tadi?” aku ingat apa yang akan aku lakukan di sini. Aku tersenyum senang dan langsung mencubit kedua pipinya dengan sangat keras. Dan aku yakin, itu pasti sangat sakit.

“Lepaskan ! Kenapa selalu cubit pipi sih?”” katanya cemberut. Aku melepaskan tanganku dan kembali tersenyum.

“Jadi, aku sangat senang. Astaga kenapa dia makin cantik?”

“Karena dia yeoja oppa”

“Kau, sudahlah terserah. Nanti aku telepon kau saja apa lanjutannya. Aku mau pulang dan segera menelponnya”

“Ne, terserah kau saja oppa. Semoga kau berani hahaha”

“Hng, memang semuanya terserah aku anak muda. Sudah aku pulang dulu. Ini sudah malam. Nanti aku telepon kamu, Bi” kataku sambil berdiri.

“Ne, kecuali Sungmin oppa menelponku. Hwaiting oppa !!” katanya. Semangat lagi. Yeoja aegyo ini selalu membuat aku semangat lagi dengan setiap senyumannya. Semoga saja Yong-ae belum tidur.

Kali ini, Aku harus mengejar cintaku.

~o~

Aku membaringkan tubuhku di atas kasur besar di kamarku. Menatap langit-langit kamar berwarna netral itu. Sangat menenangkan. Aku mulai menutup mataku yang sudah lelah sejak pagi terus-terusan melihat jalan. Jarak dari rumah Sungbi ke rumahku memang agak jauh. 10 tahun yang lalu aku pindah rumah keluar kota karena appa yang memiliki usaha pertanian harus bekerja full di pegunungan. Dan 3 bulan yang lalu aku membeli rumah di sini dengan uang hasil kerjaku selama 2 tahun terakhir.

Sungbi. Ah, aku ingat, aku harus menelpon Yong-ae. Seandainya tadi aku tidak mengingat Sungbi, pasti aku akan melupakan janjiku. Aku mengambil Iphoneku yang aku letakkan diatas meja komputer yang bersebelahan dengan pintu kamar. Aku harus berdiri untuk mengambilnya karena meja itu berhadapan dengan kasurku.

Aku memberanikan diri untuk menekan gambar buku di iphoneku. Terpampang sudah nama Yong-ae disana. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku sudah siap? Atau aku harus menelponnya besok pagi saja. Aku bingung sekarang. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Tapi jika tidak aku lakukan sekarang, aku akan menyesal sendiri.

Karena ketakutanku, aku tidak sadar bahwa aku menekan nama Yong-ae dan telepon kami terhubung. Tiba-tiba aku mendengar suara yeoja dari arah sana. Aku yang terkejut langsung mendekatkan Iphone ke telingaku.

“Yeoboseyo” suara yang lucu. Terkesan cuek.

“Yeoboseyo” aku memberanikan diriku mengatakan yeoboseyo padanya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak tahu.

“Ne, nugu?” tanyanya. Astaga, aku tidak berani menjawabnya. Aku menutup telepon itu dengan segera. Astaga sekarang dadaku benar-benar berdegup sangat kencang.

Tanpa berpikir panjang, aku segera menelpon Sungbi. Aku harap dia masih belum tidur dan mau menemaniku mengobrol sebentar saja. Bunyi tut tut ini membuat aku sebal sendiri. Mengapa Sungbi tidak segera mengangkatnya. Tidak mungkin ia sedang menelpon Sungmin hyung, karena operator tidak berkata nomor ini sibuk. Kemana dia? Aku yakin Iphonenya selalu ia pegang.

“Yeoboseyo” kataku saat telepon itu diangkatnya. Akhirnya ia mengangkat teleponku.

“Hng… Ne” jawabnya. Sepertinya aku menganggunya tidur. Aku melihat jam, belum jam 9. Dan tidak mungkin dia sudah tidur sekarang.

“Kau darimana Bi?”

“Aku? tidak dari mana-mana. Tadi hampir ketiduran di kamar umma. Hehehe. Ada apa oppa? Sudah telepon Yong-ae unni?”

“Ne, dan dia mengangkatnya. Dan aku tidak tahu harus berkata apa. Dan aku menutup teleponnya”

Kau babo oppa, sana telepon lagi” dan dia menutup teleponku dengan paksa. Aku terkejut. Dengan rasa agak takut, aku menelpon Yong-ae lagi.

Aku menunggu telepon itu diangkat oleh Yong-ae. Tapi semakin lama menunggu telepon itu makin tidak di angkatnya. Sekali, dua kali tetap saja dia tidak mengangkat telepon itu. Aku takut dia menjadi marah padaku karena aku tadi langsung menutupnya. Sampai tiga kali aku mencoba menelpon wanita itu, ia tetap saja tidak mengangkatnya. Rasanya ada rasa bersalah muncul dari benakku. Aku pun kembali menelpon Sungbi dengan rasa bersalah yang sangat besar.

“Yeoboseyo, Bi” sapaku dengan lemas saat telepon itu diangkat Sungbi.

“Loh? Waeyo oppa? Kenapa sedih gitu?” tanyanya lembut tapi nada khawatir masih terdengar dari suaranya. Menenangkan.

“Dia tidak menjawab teleponnya” kataku.

“Mungkin sudah tidur oppa. Ryeowook oppa jangan sedih gitu. Besok lagi kan masih bisa” katanya. aku hanya mengangguk dari kamarku. Sudah pasti dia tidak akan melihatnya.

“Ne, besok pagi saja. Temani aku”

“Mwo?”

“Kau tega mendengar oppamu ini sedang sedih?”

“Aish, okelah. Aku akan menemani oppa. Jadi apa oppa mau bercerita sesuatu?”

“Ne, mungkin. Ceritakan sesuatu tentang dia”

“Dia? Yong-ae unni? cerita apa lagi? Semuanya sudah aku ceritakan kan?”

“Aku mau dengar lagi untuk mengingat apa saja yang ia suka”

“Tidak mau. Aku bosan jika setiap hari menceritakannya”

“Aku tidak pernah meminta menceritakannya setiap hari kan? Apa dia masih suka tiramisu? Aku tahu dimana tempat tiramisu enak di tempat ini”

“Masih.. Dimana? Apa oppa juga mau membelikannya untukku?”

“Aish, kau bisa membuatnya sendiri kan? Untuk apa aku membelikannya untukmu? Minta saja pada Sungmin hyung”

“Kalau dia aku akan meminta yang lain. Dasar oppa pelit”

“Aku tidak pernah pelit padamu. Bi, tanyakan padanya mengapa dia tidak mengangkat teleponku. Aku sangat sedih sekarang”

“Apa penting? Baiklah, aku besok pagi kesana kok”

“Itu sangat penting. Tapi jangan bilang kalau aku yang menelponnya”

“Waeyo?”

“Aku malu Bi. Aku mohon jangan bilang”

“Ne.. Aku tidak akan bilang padanya”

“Oke, apa menurutmu jika aku mengajaknya jalan-jalan atau bertemu itu salah?”

“Tidak, itu malah makin baik. Bagaimana jika oppa melamarnya saja. Aku yakin Yong-ae unni akan menerimanya”

“Apa kau yakin?”

“Tadi yakin sekarang tidak”

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Tak ada maksud apa-apa. Aku hanya iseng saja. Sudah oppa aku tidur saja kalau begitu. Annyeoong”

“Ka—“ telepon itu di matikan begitu saja sebelum aku sempat memarahinya. Dasar yeoja.

Aku pun segera tidur agar matahari segera datang menemuiku besok pagi. Aku harap besok dia akan mengangkat teleponku.

~o~

DOK DOK !! Aku membuka mataku karena mendengar suara ketukan dari luar kamarku. Tak bisakah pelayan itu tahu betapa lelahnya aku semalam. Aku mengusap mataku dan segera keluar dari kamar. Iphoneku? Aku kembali ke kamar dan mengambil Iphoneku. Ada beberapa sms masuk dari Sungbi.

‘Oppa, kau telpon dia saja setelah ini, mungkin dia belum bangun. Bangunkan dia ya ^^ Aku sedang perjalanan ke rumah Yong-ae unni.’ Itu sms terakhir darinya. Sebelum-sebelumnya adalah sms tadi malam yang isinya adalah apa saja yang akan aku lakukan. Dia selalu punya rencana gila untuk membantuku.

Aku segera turun ke bawah  untuk memakan sarapan yang sudah di siapkan pelayan rumahku. Setelah berterima kasih padanya aku duduk di kursi sambil mengambil kopi susu kesukaanku. Aku hampir saja mengambil koran, tetapi setelah melihat Iphone di sebelah koran, yang aku ambil adalah Iphone. Aku penasaran apakah jika aku menelponnya sekarang dia akan mengangkatnya atau tidak.

Aku menekan gambar buku kontak dan mulai mencari nama Yong-ae. Apa aku harus membangunkannya sekarang juga? Tapi apa yang harus aku katakan? Apa aku telepon setelah selesai sarapan saja? Atau saat di kantor saja? Tidak mungkin. Itu terlalu lama. Setelah sarapan dan mandi saja aku telepon Yong-ae.

Dengan segera aku menghabiskan roti bakar yang sudah tersedia di atas piringku. Tak berlama-lama di atas kursi, aku yang masih mengunyah langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan badanku yang lengket karena tidur tadi malam. Satu alasan, aku ingin cepat menelponnya. Dengan cepat aku menggosok gigiku hingga bersih, memakai kaos dan dan boxer. Aku hampir saja terpeleset karena berlari dari kamar mandi menuju kamar. Cinta itu selalu membuat orang menjadi babo.

Aku mencari Iphone di atas kasurku. Tidak ada. Panik. Sangat pani. Aku mencari dimana Iphoneku. Waktu terus berjalan, dan aku ingin segera mendengar suara Yong-ae. Astaga, babonya aku. Aku meninggalkan Iphoneku di atas meja makan tadi. Aku berlari dari kamar menuju ruang makan. Dan hampir menabrak seoarang pelayan rumahku.

“Ahjussi, jangan lari di dalam rumah” nasehatnya. Pelayan yang dari kecil menjagaku. Dan sampai saat ini masih bersamaku untuk menjagaku. Umma menyuruhnya tinggal di rumah baruku agar ada yang menjagaku di kota ini.

“Ne, mianhae” kataku. Aku kembali duduk dan mengatur napas. Ini adalah olahraga pagi yang tidak sehat. Cinta memang membuat panik. Oke, aku tidak menyalahkan cinta. Ini salahku sendiri.

“Sekarang apa yang harus lakukan? Menelponnya.. Bicara apa? Annyeong saja? Aniyo, harus ada yang lain? Tapi apa?” aku bertanya dan menjawab pertanyaanku sendiri. Sesekali aku menggaruk-garuk kepalaku. Aku membaca lagi sms dari Sungbi.

‘Oppa, kalau kau berani ajak dia jalan saja besok. Besok dia tidak pergi kemana-mana. Mungkin’ itu salah satu isi smsnya. Tapi mengapa dia bilang mungkin. Apa au harus mengajaknya jalan? Aku tidak berani. Tapi jika tidak berani, berarti aku bukan seorang namja. Oke, aku akan melakukan itu.

Akhirnya aku menekan nama Yong-ae di Iphoneku. Aku menunggunya mengangkat teleponku. Tanganku menjadi dingin. Ingin rasanya menutup telepon ini. Aku masih belum berani menelponnya. Sekarang apa yang harus aku lakukan.

“Yeoboseyo?” dia mengangkatnya. Apa yang harus aku katakan? Aku sangat gugup. Aku menghela napasku.

“Yeoboseyo” jawabku dengan nada menciut.

“Jangan di matikan oppa, aku tahu siapa dirimu” katanya. Jangan bilang Sungbi berkata padanya jika aku akan menelponnya. Akan aku jitak kepalanya. Aku sangat malu sekarang.

“Eh, ka—kau sudah tahu?” tanyaku.

“Ne, Ryeowook oppa. Ada apa?” katanya. Apakah dia marah padaku? Nadanya terdengar sangat sebal.

“Hng, sebenarnya hari ini aku ingin mengajakmu bertemu” Yes, aku berhasil mengatakannya. Tapi apakah dia akan mengiyakan? Kepalaku sejak tadi penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku gila.

“Sebentar oppa” suaranya mengecil. Aku mendengar suara hentakan kaki yang sedang berlari. Kenapa dia berlari? Sebenarnya dia dimana? Apa aku mengganggunya? Pertanyaan-pertanyaan itu.

“Ne oppa, lanjutkan”

“Hmm, apa kau hari ini sibuk?” tanyaku. Semoga dia menjawab tidak. Aku mohon.

“Aniyo” katanya tegas. Berhasil.

“Kalau begitu aku tunggu di cafe kemarin saat makan siang ya” Dengan setengah berteriak aku mengajaknya ke cafe terakhir kita bertemu.

“Ne, tunggu aku di sana oppa”

“Simpan nomerku, dan hng, kita smsan saja ya, karena aku harus kembali bekerja”

“Ne, Hwaiting oppa !” dia memberiku semangat. Hatiku benar-benar..  Benar-benar tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.

“Ne, Hwaiting ! Jangan lupa datang ya” kataku lagi.

“Kalau begitu aku tutup ya, Annyeong Yong-ae” Rasanya aku tidak ingin mematikan telepon ini.  Tapi aku harus kembali bekerja sekarang. Benar-benar menyenangkan bisa mendengar suaranya.

~o~

Jam 10. Jam makan siang masih lama. Pekerjaanku pun belum selesai aku kerjakan. Berkali-kali aku melihat ke arah jam tangan ungu tua yang aku kenakan. Sangat lama. Menjemukan. Walaupun kami tetap berbalas pesan sejak berangkat ke kantor, tetap saja menunggu jam makan siang itu sangat lama. Aku sangat-sangat tidak sabar. Aku harap nanti aku tidak terlambat dan membuatnya menunggu.

“Ryeowook-ah” panggil seseorang. Aku tidak menghiraukan karena masih memikirkan waktu yang berjalan.

“Ryeowook-aaaah. Apakah kau tidak mendengarkanku?”  teriaknya.

“Jong—jongwoon hyung..” aku tidak sadar bahwa yang memanggilku adalah kepala bagian.

“Kau kenapa? Sepertinya kau sedang ada masalah?”

“A—aniyo, aku sedang bingung dengan pekerjaanku hyung” kataku sambil membereskan semua pekerjaan yang hampir beres.

Drrt.. Iphoneku bergetar. Jongwoon hyung yang melihat, menyeringai ke arahku.

“Jadi, kau tidak fokus karena sedang smsan dengan seseorang?”

“Itu ummaku hyung”

“Kau ada masalah dengan ummamu?”

“Aniyo, dia hanya merindukanku. Hyung, aku meminta ijin pulang lebih awal. Aku sedang tidak enak badan” ijinku pada Jongwoon hyung.

“Kau sakit?”

“Hng, ne” jawabku seadanya. Aku tidak pandai berbohong.

“Kau yakin? Sebenarnya kau tidak terlihat sedang sakit”

“Mwo? Aku benar-benar sakit hyung.. Hng… aduh…” aku memegang dadaku yang sebenarnya tidak apa-apa. Wajahku terlihat kesakitan hingga membuat Jongwoon hyung terlihat sedikit khawatir.

“Kau benar-benar sakit?” Jongwoon hyung menopang bahuku agar tidak jatuh. Aku mengangguk kecil.

“Ne, setelah semua selesai, segeralah ke rumah sakit untuk mengobati sakitmu. Kau sakit apa?”

“Tidak tahu hyung, sejak kemarin dadaku sakit” Ya, sakit karena sering berdebar-debar. Indahnya cinta.

“Segeralah ke dokter. Aku doakan kau baik-baik saja Ryeowook-ah” katanya seraya meninggalkanku.

Aku masih memegang dadaku hingga Jongwoon hyung meninggalkan ruangan kecilku ini. Aku hanya menyeringai kemenangan pada diriku sendiri sambil menggerakkan kedua lenganku tanda kemenangan yang paling berarti untukku hari ini. Semoga saat aku kesana dia belum sampai di cafe itu.

Selesai mengerjakan segala tugasku yang menumpuk untuk hari ini. Benar-benar melelahkan. Tapi aku masih sangat bersemangat apalagi setelah melihat kearah jam tanganku. Jam 11 lebih 20 menit. Aku segera membereskan seluruh barangku dan ke ruangan Jongwoon hyung. Sekali lagi aku berakting sakit agar dia mengijinkanku pulang lebih cepat. Aku mengetuk pintu ruangan itu, Jongwoon oppa yang mendengarnya menyuruhku masuk ke dalam.

“Ne, ada apa Ryeowook-ah?” tanyanya padaku.

“Hyung, apakah aku bisa pergi sekarang?” tanyaku dengan sopan. Jongwoon hyung memang lebih dariku, ia tidak mau aku panggil dengan Jongwoon-ssi karena dia sudah menganggapku seperti dongsaengnya sendiri.

“Mwo? Kemana?” tanyanya balik.

“Hng, aku mau ke rumah sakit sekarang” kataku beralasan Tidak lupa dengan akting memegang dadaku yang sebenarnya tidak ada masalah.

“Mwo? Hng, pekerjaanmu sudah selesai?”

“Ne, sudah hyung”

“Sebentar” dia sedang mengecek semua jadwalku.

“Bukannya hari ini ada training jam 3?” astaga aku melupakan yang satu itu.

“Mwo? Aku baru ingat hyung” aku menepuk dahi karena benar-benar lupa dengan training penting itu.

“Jadi kau ingin istirahat atau—“

“Aniyo hyung, aku akan kembali setelah makan siang. Mungkin sampai jam 2 hyung”

“Begitu? Apa kau yakin?” aku mengangguk cepat. Aku tidak mungkin meninggalkan training penting itu karena itu hidup dan matiku untuk bekerja disini.

“Baiklah, silakan pergi sekarang”

“Ne, kamsahamnida hyung” aku membungkukan badanku pada Jongwoon hyung dan segera meninggalkan ruangan besar itu.

Aku meninggalkan ruangan itu dengan rasa menyesal. Entah mengapa sekarang aku bimbang. Tetapi setelah Iphoneku bergetar dan muncul nama Yong-ae disana, aku kembali bersemangat untuk bertemu dengan yeoja yang aku cintai itu. Aku segera meninggalkan kantor ini dengan jantung yang terus berpacu.

~o~

Tidak terburu-buru aku datang ke cafe. Karena aku bilang padanya istirahat makan siangku sekitar jam 12 siang. Dan ini masih belum jam setengah 12. Aku mengirim sms pada Sungbi apakah dia masih di rumah atau tidak. Dan aku harus membeli apa untuknya. Untuk hal semacam ini, hanya Sungbi yang bisa membantuku sekarang. Tak ada yang lain. Dan dia selalu siap membantu walaupun ada banyak angin utara yang mengganggunya. Tidak, itu hanya akal-akalanku saja.

‘Oppa, jangan lupa tiramisunya, kau ingat kan? Siapkan semuanya dengan baik. Jangan salah ngomong ataupun tidak berbicara apapun. Jangan sakiti unniku. Awas saja sampai kau membuatnya menangis atau aku tidak akan membantumu lagi Xp’ isi sms Sungbi padaku. Aku hanya tertawa sendiri di dalam mobil yang sudah berhenti di parkiran mobil mall ini.

Aku segera berjalan ke arah cafe yang jaraknya tidak jauh dari parkir mobil. Cafe yang kemarin kami dan Sungbi datangi. Tak ada yang berubah, tempatnya masih kosong dan tidak ada yang menempati. Sebenarnya aku ingin mengajaknya makan di restoran seafood di depan mall ini. Tapi karena di sini tiramisunya sangat lezat, aku urungkan saja niatanku untuk mengajaknya makan di tempat itu.

“Mau pesan apa ahjussi?” tanya seorang pelayan cafe itu padaku.

“Hng, mint caffelatte, whitechoco cheesecake dan tiramisu cake”

“Saya ulang pesanannya ahjussi, mint caffelatte satu, white choco cheesecake satu dan tiramisu cake satu. Apa ada lagi yang ingin di pesan?”

“Blue ocean satu. Ah, pesannya di antar ketika teman saya datang saja ya” pintaku padanya.

“Ne, ahjussi” pelayan itu kembali menuju tempatnya dan meninggalkanku sendirian. Sambil menunggu Yong-ae datang, aku mulai mengecek Iphoneku.

Aku menekan nama Sungbi di Iphoneku agar bisa terhubung olehnya. Aku sangat gugup. Aku memang sering bertemu dengan yeoja. Tetapi mereka adalah klienku. Bukan seseorang yang aku cintai. Sama sekali aku tidak pernah mengajak Yong-ae pergi berdua sebelumnya. Walaupun itu bersama Sungmin hyung ataupun dengan Sungbi.

“Yeoboseyo” sapa Sungbi saat teleponku ia angkat.

“Apakah dia sudah berangkat?” tanyaku langsung.

“Baru saja berangkat. Oppa dimana?” suara ramai televisi sangat terdengar jelas dari arah Sungbi. Aku yakin dia sedang bersama umma Sungmin hyung dan Yong-ae.

“Aku sudah di cafe, Bi menunggunya datang” aku menyandarkan badanku di sofa cafe yang aku duduki sekarang.

“Bukannya… Ini belum jam makan siang?”

“Sudah, Bi.. Pasti Sungmin hyung lagi sibuk. Sudah kau jangan iri padaku” aku menggodanya. Aku yakin dia akan ngambek beberapa detik lagi.

“Aish, jangan membuat aku berteriak padamu oppa. Di sebelahku ada umma Sungmin oppa”

“Aku tahu kau pasti sangat sebalkan? Sampaikan salamku pada umma” aku menahan ketawaku yang sudah hampir keluar. Sangat menyenangkan menggoda bocah satu ini.

“Ne, apa kau mau berbicara dengan umma, oppa?”

“Hng, tidak usah. Aku malu sudah lama tidak berbicara pada umma Yong-ae. Kalau begitu aku tutup saja teleponnya Bi, aku tidak mau menganggu acara calon mertua dan calon menantu. Hahaha”

“Aish, kau memang mengganggu kami. Hahaha. Oppa, dia memakai baju ungu sangat manis. Jangan sakiti dia ya” katanya. Yong-ae memakai baju warna ungu? Warna kesukaanku. Tanganku tiba-tiba mendingin.

“Ne, aku akan menjaganya. Annyeong” aku menutup teleponnya dengan wajah yang sangat malu. Dadaku benar-benar berdegup sangat kencang sekarang. Aku tidak sabar untuk menemuinya. Benar-benar tidak sabar.

Aku melihat kearah jam tangan. Jam analog yang aku pakai sudah menunjukkan angka 12. Apa dia lupa dengan janjinya? Sudah hampir 30 menit aku menunggunya. Aku jadi takut apakah dia baik-baik saja. Aku harap dia benar-benar sampai ke cafe ini dengan selamat.

Tiba-tiba seorang yeoja berpakaian ungu muda datang memasuki cafe dengan berlari. Rambutnya yang terikat ekor kuda ikut bergerak ke kanan dan ke kiri saat yeoja itu berlari ke arah mejaku. Ia terlihat sangat lelah dan memegang dadanya karena ia seperti kehabisan napas. Titik-titik keringat di dahinya membuatku sadar sejauh apa dia berlari. Mungkin dia memarkirkan mobilnya di bawah atau di parkiran lantai 3. Aku menoleh ke arahnya dan memberikan senyuman terbaikku agar dia tidak curiga jika aku khawatir padanya.

“Hh, hh.. Annhh—yeoong” ia membungkukan badannya sebesar 90 derajat. Aku mengerutkan dahi karena mendengar napasnya yang tersengal.

“Annyeong.. Mwo? Kau tak apa?” aku bertanya dengan nada heran padanya.

“Hanya lelah berlari” kata-katanya yang cepat karena masih harus mengatur napasnya.

“Berlari? Untuk apa? Apakah ada yang mengejarmu?” Aku berdiri dan mencari ke arah luar. Aku tidak akan memaafkan seseorang yang membuatnya lelah berlari. Walaupun itu adalah sebuah benda.

“Hahahaha, wajahmu oppa” DEG ! tawanya.. membuatku sangat malu.

“Astaga, duduklah Yong-ae. Aku tadi sudah memesan kue untukmu” aku menggaruk-garukkan kepalaku. Dan tak perlu mengulang untuk kedua kalinya dia sudah duduk berhadapan denganku.

“Eh? Memesan kue untukku? Hng.. Gomawo oppa” wajahnya berubah. Dia melamun. Apakah ada yang salah denganku? Apa yang membuatnya melamun seperti ini?

“Ne” Yong-ae tersenyum lagi. Sangat manis. Tapi dia masih saja melamun. Sebenarnya ada apa dengannya? Aku harus meminta tolong pada siapa sekarang? Aku menghela napasku berulang kali. Sangat panik.

“Yong-ae?” aku melambaikan tanganku di depan wajahnya. Agak takut, tapi jika dia terus memperhatikanku seperti itu aku yakin tidak ada seorang namja yang kuat. Ini akan sangat memalukan.

“Ah? Mwo oppa?” dia terkejut. Dan aku pun juga ikut terkejut. Aku menggenggam tanganku kuat-kuat. Dingin dan gemetar. Semoga dia tidak melihatnya. Aku pasti akan sangat malu sekali.

“Jadi, waeyo kau berlari tadi?” tanyaku dengan nada sedatar-datarnya. Aku ingin tertawa mendengar suaraku sendiri.

“Tadi? Kapan aku berlari?” aku mengerutkan keningnya. Kali ini kemungkinan besar dia sadar jika aku menahan tawaku. Kata-kata yang polos keluar dari bibirnya. Astaga, dia sangat cute.

“Eh, kau sudah lupa? Tadi, baru saja kau berlari saat masuk cafe” aku mencoba berkata selembut mungkin. Tak jarang aku menghela napas agar tidak terlihat gugup di hadapannya.

“Hng, aku tidak mau terlambat oppa. Harusnya kan aku yang menunggumu, bukan oppa yang menungguku” katanya malu. Aku mendelik mendengar ucapannya. Aku melihat ke arah lain dan sesekali menggaruk-garukkan kepalaku. Aku memang selalu malu jika di tempatkan di posisi seperti ini.

“Oh, gwenchana. Aku memang sengaja datang lebih awal saja. Aku yakin di jalan menuju rumahmu kan sangat ramai”

“Ne, kau benar oppa. Jadi oppa memang sudah menungguku lama?”

“Hampir 30 menit Yong-ae-yah” dia terkejut mendengar perkataanku. Tapi ini memang benar-benar 30 menit dan aku sangat menikmatinya.

“Astaga, Mianhamnida oppa. Sungguh mianhae membuatmu menunggu selama itu” katanya dengan wajah memelas.

“Tidak apa Yong-ae-yah. Sungguh. Yang penting kau selamat saja, aku sudah tenang”

“Ah mwo? Ne, gomawo oppa” wajahnya memerah. Aku menutup mataku. Tuhan, aku membuat wajah seseorang yeoja memerah. Apakah ini berlebihan? Aku benar-benar merasa bersalah. Tapi aku senang. Astaga, hatiku benar-benar teraduk-aduk sekarang.

Tiba-tiba suasana menjadi sangat sepi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apa harus tertawa, menangis atau diam saja seperti ni. Aku melihat ke arah luar agar tidak terlalu kelihatan bahwa aku sangat-sangat malu bertemu dengannya. Badanku aku gerakkan dengan cepat. Sesekali aku mengatur napasku yang sangat tidak teratur. Kami berdiam diri seperti ini hingga seorang pelayan datang memecahkan keheningan di antara kami. Aku merasa gagal sekarang.. Tidak berani mengajak seorang yeoja yang aku cintai untuk mengobrol.

“Ti—ra—m, Oppa.. Darimana kau tahu aku suka tiramisu?” Yong-ae tiba-tiba berteriak agak kencang. Dia terlihat sangat terkejut melihat kue yang sudah ada di atas mejanya.

“Dari Sungbi. Katanya kau sangat menyukainya. Itu untukmu” kataku sambil menjulurkan tanganku agar kue itu ia makan. Tapi ia malah menatapku heran. Aku tersenyum puas. Dia segera mengambil Iphonenya dan segera menyentuh setiap huruf yang ada di Iphonenya. Aku yakin dia akan mengirim pesan pada Sungbi. Wajahnya terlihat kesal.

“Kau tak suka? Apakah aku salah?” tanyaku sedikit berakting. Sungbi memberitahuku apa yang dia suka, dan aku yakin Sungbi sangat bisa di percaya.

“A—aniyo oppa, aku sangat menyukainya” Bingo ! Sekarang ia memakan sepotong kue tiramisu. Aku tersenyum melihatnya senang memakan tiramisu yang aku berikan untuk dia. Dan juga, pasti dia sangat senang karena tiramisu di sini memang sangat enak.

Aku memakan White choco cheesecake yang aku pesan. Aku pecinta strawberry, tetapi hari ini aku ingin memakan kue yang cheesy seperti ini. Sangat menggiurkan. Ia melihatku sambil tersenyum saat memakan sepotong demi sepotong kue tiramisunya.

Meja kami bergetar. Yong-ae mengambil Iphonenya yang memang bergetar. Sudah di balas oleh… Sungbi? mungkin. Ia terlihat terkejut saat membaca smsnya. Apa yang di balas Sungbi? Aku sangat penasaran.

“Oppa, kau memberitahu Sungbi kalau hari ini kita bertemu?” tanyanya tiba-tiba.

“Ne, salahkah? Aku tidak tahu harus berkata pada siapa lagi, hehehe” tanyaku polos. Tapi sungguh, tidak ada lagi orang yang bisa aku ceritakan tentang Yong-ae kecuali Sungbi. Tiba-tiba suasana agak menghening.

“Oppa, jujur saja, aku benar-benar senang bisa bertemu lagi denganmu. Kau sangat berubah” katanya. Aku mendelik saat mendengarnya. Astaga, ini… adalah… sebuah… tanda… yang sangat… WOW.

“Berubah? Ne, banyak yang bilang aku berubah. Tapi hanya badan saja yang berubah”

“Ne, kau terlihat sangat lebih kurus oppa” katanya sedikit tertawa.

“Dan wajahmu juga berubah”

“Berubah? Berubah bagaimana?”

“Ne, semakin can—“ aku mengecilkan suaraku karena malu. Aku sungguh malu.

“Ah mwo? Semakin apa oppa?” tanyanya. Tidak, tidak mungkin aku mengatakannya sekarang. Bukan waktu yang tepat Ryeowook-ah. Tahan. Tahan. Lagi-lagi aku menghela napasku.

“Ah, lupakan saja. Pokoknya kau juga berubah lebih dewasa. Tidak seperti pacar oppamu itu” aku mencoba melucu. Tapi, gagal.

“Hahaha, dia tidak berubah sejak SMA oppa” katanya. Apakah itu lucu? Astaga mengapa dia sangat manis saat tertawa. Aku benar-benar ingin memiliki tawa itu.

“Yong-ae-yah, apa hari Sabtu ada waktu?” tanyaku tiba-tiba.

“Sabtu? Hng, sepertinya aku tidak ada jadwal”

“Ah, kalau begitu aku akan menjemputmu hari Sabtu” woohoo! Semoga dia mau, semoga dia mau.

“Mau kemana oppa?” tanyanya. Apakah itu sebuah tanda menerima ajakanku. Aku benar-benar berharap.

“Hanya jalan-jalan. Aku bosan setiap hari harus di kantor dan melihat komputer setiap hari. Untuk refreshing saja. Kalau begitu aku harus kembali ke kantor sebelum terlambat”

“Ne oppa. Kau harus cepat kembali ke kantor. Kalau begitu aku akan pulang juga” aku tersenyum senang. Rasanya dadaku makin berdegup dengan kencangnya. Aku harap dia tidak menyadarinya. Aku mohon jangan sampai dia sadar ya Tuhan.

“Kabari aku kalau sudah sampai rumah jagi” oh tidak, mengapa aku memanggilnya seperti itu. Ini karena terlalu senang. Aish, babonya kau itu Ryeowook-ah. Ingin rasanya aku menonjok wajahku sendiri sekarang juga.

“Eh, mwo? Oppa memanggilku apa barusan?”

“Aniyo, lupakan saja. Yong-ae-yah. Aku kembali ke kantor ya” aku langsung berdiri agar dia tidak sadar bahwa aku sedang sangat-sangat senang. Aku meninggalkannya dan segera kembali ke kantor.

Aku menoleh ke meja sebelah. Seorang yeoja berdiri di tempatnya sambil menatapku dalam-dalam. Tiba-tiba dia menyeringai padaku. Sebentar, sepertinya aku mengenal yeoja itu. Tetapi dia siapa? Aku mencoba mengingatnya sambil berjalan kembali ke parkiran untuk mengambil mobil. Setelah jauh, aku mencoba mengingat ingat wajah yeoja yang familiar itu. Aku harap itu bukan….

“Annyeong, sampai bertemu nanti jagi” yeoja tadi menabrakku. Suara itu.. Jangan-jangan yeoja itu adalah dia.

-TBC-

Begimana begimana? Aku tunggu di box komennya.. wooohooo..

Pokoknya yang penasaran komen gak penasaran tetep komen..

Author mencintai semua yang komen, kalo gak komen nanti author jitak satu satu *siap siap jitak*

Oke, gomawo all.. lope you… kkk XDD

13 thoughts on “(Ryeowook) Meet You Again (Part 1)

  1. 22.48 jam eonni😀 selesai bca part 1 , part 2 yah sungbi ah~ SEGERA ! eonni bnr” g nyangka wookie ngejer” eon smpe sgtuny😀 n kembali eon terlarut hanyut dlm cerita mu😀 *sok puitis* #tendangkeIncheon

  2. Serius deh aku jadi penasaran, eon😄 cewek yg ada diakhir cerita itu siapa?
    Ah Wook sama Yong-ae ne.. Yowes aku sama Ryeonggu aja *eh *sama aja babo–‘
    Aku tunggu part selanjutnya! Jangan membuatku tambah penasaraaannn, eonnie x)

  3. Wook oppa neomu kyeopta! >< hoaaah, ngejar yeoja ampe segitunyaaa kkkk chaps 2 nya ya Bi eon!😄

  4. Annyeon unnie… Bingung unnie mau komen apa yg pasti ceritanya itu lucu, menarik dan bikin penasaran sama kelanjutannya cepet di post ya unnie part selanjutnya heheh gomawo😀

  5. Ahh ini lebihh seruu bikin prila senyum senyum sendiri ahhh lanjutinn un , lanjutinnn😀 tapi lanjutinnya jgn lama-lama ya un biar ga penasarannn😀

BE A GOOD READER GUYS ! PLEASE COMMENT IN HERE :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s