Not Only Dream (Part 1)

DOR DOR DOR !!

ANNYEOOONG !! kkk…

Setelah bertahun tahun lamanya tidak posting FF baru, akhirnya dengan ini author bawa FF baru nih.. Maincastnya Yesung Oppa.. Sudah lama gak bikin FF tentang beliau *natap langit* /plak/

Oke, Hope You like it Guys… Don’t forget to Comment yaak !! XDDD

 

Author : Aira aka H. Sungbi

Title : Not only Dream (Part 1)

Main Cast : Kim Jongwoon as Yesung, Kim Raemun as Choi Raemun, Ahn Ran-bi as Kim Ran-bi, Choi Siwon as Choi Siwon

Genre : Angst, Romance

Rating : PG-18

Notes : Rere-unni… Akhirnya part 1 nya selesai juga.. Sudah gak ngerti lagi mau nulis apaan di dalemnya. Part 2 nya nyusul yaaa.. XDD Hope you like it🙂 Happy Reading..🙂

 

Jam 12 malam. Kenapa dia belum menelponku? Apa dia belum pulang? Apa dia baik-baik saja? Harus berapa lama lagi aku menunggu namja itu. Astaga oppa, beri aku kabar walaupun hanya lewat pesan. Aku benar-benar khawatir sekarang. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Sedikitpun dia tidak mengangkat teleponku. Ini mungkin sudah ke seribu kalinya aku mencoba menelponnya. Apa dia tidak sadar jika handphonenya bergetar? Apa aku harus menelpon sahabatku saja? Tapi ini sudah terlalu malam untuk menelponnya.

Tak ada gentar aku mencoba menelpon namjachinguku itu. Setiap telepon itu mati, aku tetap mencoba terus menerus menelponnya. Walaupun sudah waktunya jam tidurku dan aku sudah sangat mengantuk tetap saja rasa khawatir yang telah memenangkan semua itu. Uh, beginilah jika memiliki pacar sangat sibuk seperti Yesung oppa. Tidak, aku bukan lagi pacarnya. Tetapi calon istrinya. Calon istri dari kakak sahabatku sendiri.

na momunda… na momunda…..

Itu…. Yesung oppa……

“Yak.. Yeoboseyo. Kemana saja kau? Huh, apa kau tak tahu aku menunggumu dari tadi?” teriakku pada Yesung oppa.

“Hahaha, mianhae chagiya… Aku sangat sibuk malam ini. Ini saja baru selesai” jawabnya sambil tertawa. Yang benar saja, dia masih sempat tertawa saat aku benar-benar merasa khawatir padanya.

“Aku benar-benar khawatir padamu, oppa” kataku dengan sedikit manja. Dia hanya diam tidak membalas. Hanya terdengar suara ‘ehem’ saja dari arah sana.

“Uhuk uhuk…. Uhuk uhuk” ia terbatuk. Batuknya semakin keras. Apa yang terjadi padanya?

“Yesung oppa? Oppa… Gwenchana?” tiba-tiba rasa bersalah muncul di benakku. Dia hanya diam tidak mau menjawab sedikitpun. Apa kurang dia membuatku khawatir?

“Yak oppa.. Jangan diamkan aku. Jawab pertanya—“ BRUK !! Apa itu? Suara apa itu? Oppa…. apa… yang.. ter…jadi.

“Yesung oppa?” panggilku. Dia tidak menjawab lagi. Hanya ada suara gemuruh hentakan kaki. Kaki siapa itu? Kenapa sangat banyak? Suaranya seperti menggerombol.

“Ye…Oppa” aku mencoba mendengar apa yang terjadi disana. Semakin aku mendengar, suara itu makin banyak yang mendekat. Tanganku sudah sangat dingin sekarang. Aku menggenggam telepon genggamku dengan sangat erat. Sungguh aku benar- benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Berisik. Sesekali terdengar ada yang berkata tolong dan angkat.

Aku menelan ludahku. Aku tidak siap dengan apa yang akan terjadi pada namjachinguku itu. Tuhan…. Aku mohon… lindungi calon suamiku…

“Yeoboseyo” seorang yeoja memanggilku. Siapa dia?

“Ne… yeoboseyo” suaraku serak. Kering. Mulutku sangat kering sekarang. Dadaku berdegup dengan sangat dan sangat kencang.

“Apakah kau istri dari namja pemilik handphone ini?” tanyanya padaku dengan sopan.

“Aniyo. Aku yeojachingunya. Ada apa?” tanyaku dengan takut. Kenapa handphone itu ada di tangan yeoja itu?

Suara sirine. Itu suara sirine ambulans. Sebenarnya apa yang terjadi pada Yesung oppa? Kenapa sangat mendadak?

“Ada apa? Sebenarnya ada apa disana? Kenapa Yesung oppa?” tanpa sadar aku berteriak. Sangat panik.

“Tadi, namjachingumu ambruk saat dia akan menyebrang jalan. Mianhae. Rumah saki—”

 

Suara itu semakin mengecil dan membuatku diam seribu bahasa. Aku mencoba mencerna setiap kata dan kalimat yang yeoja itu katakan. Rasanya tidak ada oksigen yang masuk ke dalam tubuhku, dadaku terasa sangat sesak. Apa yang terjadi padanya? Airmataku mengalir. Mengalir deras. Aku benar-benar tidak kuat mendengarnya. Telepon genggamku jatuh begitu saja di depanku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku harus bertemu dengannya sekarang.

Kuambil handphone yang tergeletak di lantai dan mengambil cardigan hijau di belakang pintu kamar. Dadaku masih saja berdegup kencang. Tangan kakiku bergetar tidak bisa biasa. Aku yang sedang panik langsung berlari menuruni tangga rumahku. Aku mencari kunci mobil di kotak sebelah televisi ruang tengah.

“Raemun… Mau kemana? Ini sudah jam 1 malam dan kau mau pergi?” tanya umma sambil hampir berteriak. Sedikitpun aku tidak menghiraukan umma yang duduk di sofa ruang tengah.

“Raemun-ah.. Kamu mau kemana? Kenapa kau menangis?” umma terus bertanya. Beliau membalikkan badanku agar aku bisa berhadapan langsung dengan umma.

“Jangan diamkan umma seperti ini. Apa yang terjadi Raemun?” pertanyaan itu membuatku teringat kata-kata yeoja di telepon tadi.

“Aku harus ke rumah sakit umma” kataku dengan sesenggukan.

“Ada apa? Tak bisakah nanti saja, ini sudah malam anakku” aku menggeleng dengan sekuat tenagaku. Aku harus bertemu dengan Yesung oppa sekarang juga.

“Siapa yang masuk rumah sakit?” aku memeluk umma. Umma mulai memelukku erat.

“Ijinkan aku ke rumah sakit sekarang umma. Aku ingin bertemu dengan Yesung oppa”

“Ada apa dengan Yesung?” aku hanya diam dan tetap melanjutkan tangisanku.

“Jawab pertanyaan umma, apa yang terjadi pada Yesung?” aku mencoba sedikit menenangkan diriku. Tapi aku tidak bisa melakukan itu sekarang.

“Aku tidak tahu umma, aku tadi mendengar suara sirine. Dan kata seorang yeoja disana, dia ambruk” airmataku terus saja jatuh. Umma memelukku hangat. Tapi bukan ini yang aku butuhkan. Yang aku butuhkan adalah bertemu dengan Yesung oppa.

“Raemun-ah.. Lebih baik sekarang kau tidur dulu. Biar besok Siwon oppa yang mengantarkanmu ke rumah sakit. Umma tidak mengijinkanmu pergi sendirian nak. Berbahaya, apalagi kau menangis seperti ini” ucap umma. Aku hanya diam dan mencari cara supaya bisa pergi ke rumah sakit sekarang.

Na momunda… na momunda….. saranghaetdeon gieokdeuri…

Suara dering teleponku memecahkan ketegangan yang terjadi. Aku melepaskan pelukan umma dan melihat siapa yang menelpon. Ran-bi. Sahabatku. Aku menelan ludahku yang sudah berkumpul di dalam mulutku saat akan mengangkat telepon itu. Tanganku sedikit bergetar. Aku harap dia memberikan kabar yang membuatku sedikit lebih tenang. Semoga.

“Yeoboseyo”

“Yeoboseyo? Raemun-ah” suara Ran-bi disana.

“Ne” jawabku masih terisak. Aku tahu dia pasti akan memberitahu kejadian ini kan? Ran-bi-yah, aku sudah tahu.

“ Kau sudah mendengar berita itu ya. Yesung oppa di rumah sakit internasional sekarang. Tapi kamu jangan kesana sekarang. Besok aku akan menjemputmu”

“Waeyo? Aku ingin bertemu dengannya sekarang”

“Jangan, mungkin dia butuh istirahat sekarang. Dan semoga besok dia sudah sadar Raemun-ah” jawabnya. Apa yang sebenarnya mereka semua pikirkan? Aku calon istrinya tetapi aku tidak boleh bertemu dengannya. Aku ingin bertemu dengannya sekarang juga.

“Raemun-ah?” panggilnya. Aku tersadar dari kediamanku.

“Ne”

“Istirahatlah sekarang. Besok aku akan menjemputmu pagi-pagi”

“Tak perlu repot-repot Bi. Aku kesana sendiri saja”

“Aniyo, tak apa. Aku tahu kau pasti sangat khawatir dengan oppaku kan. Lebih baik kau istirahat sekarang”

“Kau memang sahabatku. Baiklah aku akan istirahat sekarang. Jaga Yesung oppa baik-baik Bi-yah..” sebelum dia menjawab aku sudah menutup telepon itu. Aku akan menunggu esok pagi. Aku harap Yesung oppa baik-baik saja.

 

~o~

Aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidurku. Sesekali aku menggerak-gerakkan tubuhku. Ke kanan, ke kiri, mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Aku akhirnya menghadap ke arah jendela karena ku pikir aku bisa melihat langit walaupun hanya dari gorden yang terbuka sedikit. Pikiranku kemana-mana. Aku tidak bisa tidur karena memikirkan keadaan Yesung oppa. Benar-benar khawatir. Aku ingin kabur dari rumah sekarang juga dan menemani calon suamiku itu di rumah sakit.

Di tengah kesedihanku, tiba-tiba pinggangku seperti ada yang memeluk dari belakang. Aku melirik tangan itu. Sepertinya aku mengenalnya. Tangan yang tidak terlalu besar. Dan tetapi tidak terlalu kecil juga. Hanya saja sedikit berat. Aku melihat siapa pemilik tangan besar itu.

“Yak ! Yesung oppa. Apa yang kau lakukan disini?” aku terduduk melihat Yesung oppa berada di depanku.

“Mwo? Aku kan merindukanmu. Apa aku tidak boleh bertemu dengan calon istriku sendiri?” tanyanya dengan bibir yang di kerucutkan. Sangat lucu.

“Harusnya kau di rumah sakit sekarang. Bukan disini kan?” tanyaku. Dia melengos ke arah yang lain. Tidak mendengarkanku. Kebiasaan buruknya masih saja ada.

“Ish, dengarkan aku namja babo. Mengapa kau disini?”

“Aku bukan namja babo. Harusnya kau senang aku di sini. Tapi mengapa kau malah memarahiku?”  dan tetap saja dia tidak menjawab pertanyaanku.

“Aku mengkhawatirkanmu babo !! aish… Susah memang bertemu denganmu. Paling susah di khawatirkan” aku benar-benar marah padanya sekarang. Sifatnya tak pernah bisa berubah dari dulu hingga sekarang. Bagaimana dia bisa menjadi seorang suami jika dia tetap memiliki sifat childish seperti ini.

Tiba-tiba dia memelukku. Hangat. Aku rasa ini yang aku harapkan dari dia. Hatiku rasanya ciut sekarang. Perasaan lega menyelimuti diriku. Melihat Yesung oppa dengan keadaan sehat. Aku tersenyum di balik pelukannya. Aku merasakan suatu yang aku inginkan setelah mendengar berita itu. Airmataku keluar lagi. Apakah ini airmata kebahagiaan? Jika bukan, aku tidak tahu ini airmata apa.

“Jangan khawatir chagiya.. Aku baik-baik saja” katanya pelan di telingaku.

“Ne, aku percaya kau baik-baik saja oppa. Buktinya kau kemari kan. Dan tidak di rumah sakit kan?”

“Hahahah.. ne… Kau benar chagiya. Aku baik-baik saja. Lihatlah, ada yang kurang? Tidak ada kan?” senyumannya membuatku percaya dia baik-baik saja. Ya dia sehat.

“Oppa, aku ingin pergi denganmu”

“Aku sibuk”

“Ish, alasanmu. Pokoknya aku mau pergi denganmu sekarang”

“Aku sibuk Raemun-ah. Aku kesini saja diam-diam”

“Apa maksudmu diam-diam?” kataku sambil memberikan deathstare padanya.

“Hehehe” katanya sambil menganggaruk-garukkan kepalanya. Sangat lucu. Aish, calon suamiku memang sangat tampan. Beruntunglah aku memiliki calon suami seperti dia.

“Dasar. Baiklah terserah kau saja” kataku mengalah. Mau marah rasanya susah jika melihat wajahnya yang sangat polos.

“Raemun-ah..”

“Hng” kataku sambil melihat ke arah langit di sela-sela gorden lagi. Ia memelukku hangat. Sangat hangat hingga aku hanya bisa tersenyum saat merasakan pelukan itu.

“Mianhae” ucapnya pelan. Aku menoleh padanya, ternyata dia sudah tertidur pulas.

o——o

Aku membuka mataku karena sinar matahari yang masuk melalui sela-sela gorden. Aku mencari dimana Yesung oppa. Tidak ada. Tidak ada dimana-mana. Kamar mandi juga tidak ada. Aku segera berlari turun ke bawah. Disana Siwon oppa dan umma berada di ruang tengah. Mereka sedang sibuk sendiri, Siwon oppa membaca koran pagi dan umma membereskan barang-barang di ruang tengah.

“Umma, Yesung oppa mana?”

“Di rumah sakit kan?” kata umma heran mendengar pertanyaanku.

“Tadi malam dia di kamarku kok. Dimana Yesung oppa?” aku masih percaya dengan jawaban umma.

“Yesung hyung kenapa umma?” tanya Siwon oppa pada umma.

“Kata dongsaengmu tadi malam Yesung ambruk di jalan dan sekarang masuk rumah sakit” jawab umma. Siwon oppa hanya diam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mana mungkin dia ada di rumah jika dia di rumah sakit. Raemun-ah, kau terlalu berlebihan. Mungkin itu hanya mimpimu saja” kata Siwon oppa dengan gesture tangannya yang menunjuk ke arahku.

“Tidak mungkin. Jelas-jelas tadi malam dia ada di kamarku oppa” aku tetap tidak percaya.

“Tadi malam, setelah 5 menit kamu masuk kamar, umma mencoba memanggilmu, tetapi ternyata kau sudah tidur. Dan di sebelahmu tidak ada siapa-siapa” kata umma lagi.

Deg. Mimpi. Jadi itu hanya mimpi saja? Mengapa itu hanya mimpi? Rasa legaku karena mimpi itu dengan cepat hilang begitu saja. Aku hanya diam di tempat tidak berkata apa-apa. Kakiku melemas dan tidak bisa bergerak. Rasanya tidak mungkin itu hanya mimpi. Itu kenyataan. Aku yakin itu kenyataan.

 

Tingtong !! Suara bel itu mengejutkanku. Itu pasti Yesung oppa. Aku yakin tadi bukan mimpi. Pasti kenyataan. Sebelum umma sampai di depan pintu aku segera mendahului beliau. Aku menabrak umma dan membuat umma terpelanting ke arah bufet. Semoga umma tidak marah padaku. Aku segera membuka pintu rumah dengan wajah penasaran. Dan aku…

“Belum siap?”

Kecewa.

“Raemun-ah?” panggilnya. Aku tersadar saat dia memanggilku.

“Belum. Kau tunggu di dalam saja bi” ucapku menyuruhnya masuk. Ternyata Ran-bi. Jangan bilang tadi malam hanya mimpi dan semua ini sudah kenyataan. Yesung oppa hanya datang ke mimpiku saja.

“Jangan lesu, aku yakin oppa akan baik-baik saja saat kau datang, Rae” ucap Ran-bi dengan senyumannya. Menghangatkanku sementara. Rasanya ingin menangis. Tidak, aku tidak boleh menangis sekarang.

“Ne, aku siap-siap dulu ya.. Tunggu sebentar” kataku sambil berjalan menuju kamar mandi.

 

Di sela membersihkan badanku aku menangisi mimpiku itu. Kecewa. Mengapa itu hanya mimpi? Aku hanya ingin lebih. Hanya ingin bertemu dengannya, bercanda lagi, tertawa, melihat senyumnya, dan jujur aku rindu sifat kekanak-kanakannya. Aku merindukan sosok Yesung oppa. Sungguh, aku tidak berbohong. Tiba-tiba aku menangkap sosok Yesung oppa di cermin. Ia terlihat sangat sedih. Seakan mengatakan uljima padaku. Aku tersenyum kecil dan segera meninggalkan kamar mandi untuk berangkat ke rumah sakit bersama Ran-bi.

Setelah mengambil tas kecil berisi dompet dan handphone, aku segera menemui Ran-bi yang sudah menungguku di ruang tengah. Wajahnya terlihat khawatir saat melihatku dengan mata sembab. Aku yakin dia tidak tega melihatku seperti ini. 100 persen aku yakin.

“Kau menangis lagi?” tanyanya. Aku mengangguk. Ran-bi menghela napasnya.

“Simpan tangismu nanti. Semoga Yesung oppa sudah sadar” katanya lagi. Aku hanya diam dan melihatnya berpamitan pada umma dan Siwon oppa. Lalu ia menarikku keluar rumah.

 

~o~

Kamar 24-VIP. Rumah sakit besar ini memiliki bangsal yang sangat banyak. Dan kamar ini, tempat Yesung oppa terbaring lemah. Alat-alat itu membuatku sesak sendiri. Entah apa yang harus ku katakan saat melihatnya terbaring tidak berdaya di ranjang itu. Hanya bisa memeluk Ranbi. Ya, karena hanya dia yang ada di sebelahku sekarang.

Rasa tidak tega itu menghampir dan menyelimutiku. Air mataku sudah mengalir lagi. Aku mendekatinya dan menyentuh tangan berinfus namja itu. Dingin. Tangan itu aku usapkan ke pipiku yang basah. Seperti saat dia mengusapkan airmataku saat aku menangis. Tangannya tidak bergerak sedikit pun. Padahal aku ingin ia menggerakkan jari kecilnya itu. Tapi aku rasa ini tidak mungkin.

“Oppa, lihat apa yang kau lakukan. Kau membuat calon istrimu menangis” ucap Ran-bi di sisi Yesung oppa yang lain. Aku hanya diam saja. Tidak bersuara sedikitpun.

“Oppa, sampai kapan kau tidur seperti ini? Raemun menunggumu. Bukalah matamu sedikit. Jujur saja aku sendiri merindukan banyolan babomu itu” katanya lagi.

Ranbi adalah yeodongsaeng Yesung oppa. Mereka hanya tinggal berdua. Karena orang tua mereka sudah meninggal sejak Ran-bi masuk SMA. Di kota ini pun mereka juga tidak memiliki saudara karena saudara mereka lebih banyak berada di kota kelahiran Yesung oppa, Chunan. Aku bertemu dan menjadi dekat dengan Ran-bi pun karena kami satu jurusan di kampus. Apalagi sejak aku berpacaran dengan Oppanya ini.

Aku melihat Ran-bi menundukkan kepalanya. Aku tahu perasaannya. Ia pasti lebih sedih dariku sekarang. Hanya Yesung oppa yang ia punya di kota ini. Aku meletakkan tangan Yesung oppa dengan pelan dan mendekati Ran-bi yang masih menundukkan kepalanya. Tangannya ia genggamkan karena sedang menahan airmatanya yang seharusnya jatuh. Kupeluk bahunya pelan. Ia yang sedikit terkejut langsung melingkarkan tangannya ke pinggangku.

“Kau tahu aku sudah menangis tadi malam. Dan aku tahu kau belum menangis. Jangan sok kuat, Bi” ucapku. Kebiasaan buruknya membuatku hapal apa yang harus aku katakan padanya.

“Ne” hanya itu yang keluar dari bibirnya. Aku memeluk sahabatku itu seperti saat dia memelukku ketika aku sedang sedih.

“Oppa, dengarkan kami. Kami sangat merindukanmu” kataku pelan. Ran-bi masih menangis di pelukanku. Aku tidak yakin apakah dia benar-benar mendengarkan ucapanku barusan.

 

Setelah hampir siang, aku meminta Ran-bi mengantarkan pulang. Bukan karena aku tidak ingin menjaga Yesung oppa yang masih belum sadar. Hanya saja, sungguh aku tidak bisa melihat ia terbaring lemah di ranjang itu. Itu sangat menyakiti hatiku. Aku harus menyiapkan batinku lagi. Lagi. Dan lagi.

“Mau mampir?” tanyaku memecah keheningan ruangan sempit ini. Ran-bi hanya menggeleng pelan.

“Lebih baik kau masuk dulu daripada nanti ada apa-apa di jalan” kataku. Ia menoleh padaku. Senyuman nanar itu membuatku sesak dan teringat lagi pada Yesung oppa. Tidak, aku tidak kuat. Sungguh.

“Mianhae Raemun-ah.. Kasihan calon suamimu itu kan? Sendirian di ruangan besar  dengan alat-alat yang menyeramkan” ucapnya. Masih sempat dia tersenyum. Masih sempat juga dia berusaha melawak, walaupun tidak lucu. Masa-masa susah.

“Hmm.. Kau benar, andaikan hari ini aku kuat, aku akan menggantikanmu di ruangan itu supaya kau bisa istirahat, Bi”

“Aniyo.. Yesung oppa kan oppaku. Jadi tetap saja dia tanggung jawabku kan. Lagi pula aku sudah ijin pada atasanku untuk cuti sementara”

“Mwo?”

“Ye, aku tidak ingin merepotkanmu. Setidaknya kau harus bisa setiap hari ke rumah sakit untuk menemui oppaku. Aku tahu dia membutuhkanmu” aku menghela napas mendengar kata-kata Ran-bi. Menyesakkan. Masih bisa dia berkata ‘repot’ padaku.

Aku menyeringai. Dia melirik padaku. Dan mengerutkan dahinya.

“Waeyo?” tanyanya.

“Masih sempat kau bilang repot? Aku sahabatmu, dan juga calon istri Oppamu. Tak ada yang merepotkan untukku. Kau tahu—”

“Ne, arraseo. Raemun membenci kata-kata Ran-bi yang seperti itu kan? Aku sudah hapal apa yang akan kau bahas”

“Heeh.. Jangan marah dong. Aku kan mengucapkan kata-kata yang seharusnya aku ucapkan”

“Ne.. Aku tidak akan marah pada sahabatku sendiri”

“Tidak mau turun?”

“Kau tega melihat calon suamimu sendirian?” lagi-lagi ia berkata seperti itu. Aku menggeleng.

“Jaga Yesung oppa. Jaga kesehatanmu. Besok jangan jemput aku”

“Ne.. Semoga tidak lupa”

“Kita lanjutkan via telepon aja, ne?” anggukkan kecil dari Ran-bi mengakhiri obrolanku dengannya. Dengan senyum paksaan dari wajah kami, aku pun segera turun dari mobil yang sudah hampir satu jam berada di depan rumahku.

 

~o~

 

Tempat yang sangat indah. Tapi… Ini dimana? Mimpi lagi? Atau ini sebenarnya nyata? Aku mencari sesuatu yang mungkin bisa membuatku menemukan petunjuk. Tapi aku rasa tidak ada satupun orang yang bisa aku tanyakan. Padahal tempat ini sangat ramai dengan suara. Walaupun tak ada orang sama sekali.

Hanya ada burung-burung kecil yang berhenti di bangku panjang tempat aku duduk sekarang. Ya, setelah lelah, aku hanya bisa duduk dan menunggu seseorang untuk melewati tempat ini. Kalau benar ini mimpi, aku bisa tanya pada burung. Mungkin saja dia bisa menjawab pertanyaanku. Aku mengambil sebungkus roti di dalam tas kecil yang entah sejak kapan aku bawa. Ku ambil rempahan itu dan dengan sedikit keraguan ku dekatkan rempahan itu pada salah satu burung kecil yang ada di sebelahku. Burung kecil itu mendekat dan mulai memakan rempahan itu. Aku tersenyum kecil. Ku biarkan burung itu memakan rempahan seraya menyiapkan hatiku untuk bertanya pada burung itu. Semoga tidak terbang.

“Ehem.. Annyeong, apa kau bisa bicara denganku?” tanyaku. Burung itu diam tidak menjawab. Aku merasa seperti orang bodoh.

“Tidak bisa ya? Berarti ini bukan mimpi kan? Jadi aku sekarang dimana?” tanyaku masih pada burung kecil itu.

“Kau ada di taman bermain” terdengar suara namja. Apakah burung itu yang menjawabnya?

“Kau bisa bicara? Mengapa kau tidak menjawabku tadi?” tanyaku kesal. Ia diam lagi. tidak menjawabnya.

“Yak ! Enak sekali kau makan. Sekarang kau tidak menjawab pertanyaanku lagi. Ini taman bermain? Ini yang selalu aku impikan saat Yesung oppa punya waktu senggang. Tapi apa daya dia tidak punya waktu untuk itu”

“Karena itu kau ada di sini”

“Mwo? Kau menjawabnya?” dia kembali diam. Menyebalkan. Dasar burung aneh.

“Oke, kau akan menjawab saat aku bercerita. Aku ada disini? Kenapa sendirian? Aku ingin dia ada di sini juga. Aku ingin berdua dengannya di taman bermain. Semacam kencan. Tapi aku rasa itu tidak mungkin”

“Waeyo? Bagaimana kalau dia ada disini?”

“Tapi nyatanya ti—“ seseorang menutup mataku. Aku menangkap kedua tangan itu.  Tangannya tidak terlalu besar. Tapi juga tidak terlalu kecil. Ku dengar kepakan sayap dari arah burung itu. Sepertinya burung itu meninggalkanku.

“Aku disini. Mengapa harus berkata tidak mungkin?” aku melepaskan tangannya yang menutupi mataku. Ku lihat siapa namja yang menutupi mataku itu. Terkejut. Senang. Semua bercampur aduk.

“Berhentilah memandangku seperti itu Raemun-ah” katanya sambil duduk di sebelahku. Ia tidak peduli dengan ceceran rempah roti yang ia duduki. Aku tetap memandanginya. Aku yakin wajahku memerah sekarang.

“Wajahmu.. Aku bilang berhenti memandangku seperti itu. Aku malu”

“Kenapa harus malu?” tanyaku heran. Aku berhenti memandangnya dan melihat ke arah depan. Tetapi sekarang ganti dia yang menatapku.

“Karena yang memandangku itu kamu” ucapnya.

“Aigoo.. Kau belajar dari mana kalimat seperti itu Oppa? Kau benar-benar membuatku malu”

“Ne, mukamu memerah” ucapnya memebenarkan. Bisakah dia tidak memandangku seperti itu. Aku tidak tahan dengan pandangan lembutnya itu.

“Hentikan ! Aku sudah tidak memandangmu. Berhentilah memandangku seperti itu”

“Andwe” jawabnya.

“Mwo? Hentikan Yesung oppa”

“Tidak sebelum aku puas melihat wajahmu itu” aku menutup wajahku dengan tanganku. Tetapi tangannya segera menangkapnya.

“Tidak boleh”

“Aigoo… Oppa.. Kau tega melihatku dengan wajah seperti ini?”

“Ne, aku merindukanmu. Sudah lama kita tidak berpandangan seperti ini kan?”

“Ye.. arraseo.. Tapi hentikan oppa. Aku benar-benar tidak kuat”

“Ahahaha… Oke oke.. aku hentikan sekarang juga. Jangan-jangan kau tidak suka aku disini ya?”

“Aku tidak seperti itu. Aku benar-benar merindukanmu”

“Ne, aku tahu kok” ucapnya. Terlihat wajahnya sangat sedih.

“Oppa” panggilku. Ia menoleh padaku. Aku memeluknya erat. Ia  tidak bergerak ataupun membalas pelukanku. Aku tetap menunggunya.

“Oppa, aku ingin kau segera sadar” bisikku. Ia mencoba melepaskan pelukanku. Aku yang bingung hanya menerima perlakuannya. Tiba-tiba dia tertawa.

“Ya chagi.. Kau pikir aku gila? Aku tidak gila” katanya sambil tertawa. Aku mengerutkan keningku. Apakah ini bukan mimpi?

“Apa maksudnya?” tanyaku bingung. Yesung oppa masih saja tertawa.

“Aku baik-baik saja. Kau lihat sendiri aku sehat kan?”

“Ne.. Tapi kan Yesung o—“ dia berdiri sambil memegang tanganku.

“Ayo kita kesana saja. Aku bosan duduk disini” katanya seraya menarik tanganku.

 

Ia berlari menuju arena bermain. Tak jauh dari bangku tadi, Yesung oppa berhenti di depan panah yang memberitahu arah tempat yang harus kami datangi. Ia terlihat berpikir tempat mana yang harus ia datangi lebih dulu. Matanya tertuju ke salah satu tulisan. Love Train. Sebenarnya aku tidak ingin pergi ke arena itu. Sangat membosankan.

 

“Love train. Ottoke?” tanyaku pada Yesung oppa. Ia menoleh padaku. Wajahnya terlihat bingung. Aku tersenyum simpul untuk membuatnya menjawab pertanyaanku.

“Kau yakin? Aku pikir kau tidak ingin kesana”

“Hng, dan aku tahu Yesung oppa ingin ke tempat itu” jawabku tersenyum.

“Kau membaca pikiranku ya?” aku menarik tangannya menuju arena itu.

 

Tak ada orang yang menjaganya. Heran. Kenapa tempat ini sangat sepi? Hanya aku dan Yesung oppa yang bisa aku lihat. Sisanya, aku tidak melihat satupun sosok manusia yang ada di sini. Yesung oppa berjalan memasuki arena itu sendirian. Aku masih diam tidak paham apa yang harus ku lakukan. Ia menoleh dan mencari sesuatu yang hilang di sebelahnya. Aku menahan tawaku.

“Chagiya.. Kau bilang—“

“Aku hanya bingung mengapa tak ada yang menjaganya”

“Sudahlah, ini otomatis kok. Tak perlu menunggu yang menjaga” katanya sambil menarik tanganku. Aku mengikutinya.

 

Sudah beberapa wahana yang kami mainkan berdua. Hanya berdua. Sangat menyenangkan. Aku melihat senyum yang merekah di wajah Yesung oppa. Aku menjadi lebih semangat. Walaupun lelah, melihat senyumannya saja sudah membuatku melupakan rasa lelahku. Kalau benar ini adalah mimpi, aku ingin mimpi ini benar-benar menjadi mimpi terindah untukku dan untuk Yesung oppa juga. Aku juga berharap ini bukan hanya sebuah mimpi.

 

“Sebentar Raemun-ah. Daritadi hampir semuanya aku yang memilih permainan”

“Lalu kenapa oppa?” tanyaku heran.

“Mengapa kau mengiyakan? Padahal pilihanku kan tidak sesuai dengan keinginanmu?”

“Aniyo.. Apa yang kita pikirkan sama kok. Semuanya menyenangkan dan aku menyukainya”

“Hng, aku tahu dirimu seperti apa chagiya, jangan bilang kau terpaksa karena aku yang memilih permainan?” dia berjalan ke arah bangku panjang. Aku mengikutinya dari belakang.

“Aku.. Aku tidak terpaksa oppa. Jangan sok tahu deh” ucapku menutupi semuanya. Tidak semua ucapan Yesung oppa salah. Tetapi aku memang tidak terpaksa sama sekali.

“Lalu?” aku menundukkan kepala. Ia menarikku duduk di sebelahnya. Entah sejak kapan dia duduk di bangku ini.

“Aku hanya ingin bersama Yesung oppa saja” hanya itu jawaban yang bisa aku katakan.

 

Yesung oppa menundukkan kepalanya. Rambut yang sedikit memerah itu menutupi wajahnya. Entah reaksi apa yang akan ia berikan padaku. Sedikit khawatir. Tapi tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak.

“Waeyo oppa? Apakah ada yang salah?” tanyaku heran.

“Yaa chagiya, kau tahu aku disini untukmu kan? Aku menyempatkan waktuku hanya untukmu sekarang. Jadi kita sedang bersama bukan?”

“Bukan itu maksudku oppa” uh sepertinya dia tidak paham. Tapi aku bingung harus berkata seperti apa? Apa aku harus bilang padanya yang ada di pikiranku? Kalau dia sedih mendengar ucapanku aku rasa itu memalukan untukku.

“Lalu?”

“Hng.. Itu… Oppa aku mau membeli minum dulu. Tunggu di sini” ucapku seraya meninggalkannya. Tapi sebelum jauh, ia berdiri dan menarikku lagi. Sepertinya dia sangat penasaran dengan ucapanku.

“Aku tidak haus. Katakan apa yang harusnya kau katakan padaku” aku menelan ludahku. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

“Hng.. Aku hanya merindukanmu oppa. Hanya itu. Dan juga, hng.. karena ini sangat jarang, bukan salahku kalau aku mengiyakan semua apa yang kau ingin mainkan kan? Kau terlalu banyak kerja, pasti sangat lelah. Dan.. Aku rasa Yesung oppa lebih baik mendapatkan refreshing seperti ini. Kalau aku yang memintanya, aku tidak yakin jika op—“ ia menghentikan ucapanku dengan telujuknya.

Ia memelukku erat. Lebih erat dari pelukannya yang biasanya. Aku membalas pelukannya sangat erat. Ia mendekatkan kepalanya di atas bahuku.

“Neoreul saranghae” katanya. Aku tersenyum kecil.

o——o

Seharusnya aku tidak bangun dari tidurku. Aku masih ingin bersamanya. Sangat ingin bersamanya. Walaupun hanya sebatas mimpi. Tidak sesakit kemarin, tetapi tetap saja, rasa sakit itu masih muncul di benakku. Kehilangan dan kesedihan itu masih tetap ada.

Aku berdiri dan menghadap ke arah gantungan salib yang ada di pojok kamarku. Dengan bersimpuh, aku menggenggam kedua tanganku. Kupejamkan mataku agar kekhusyukan mengalir dalam darahku dan bisa menenangkanku sementara.

“Tuhan, kembalikan Yesung oppa seperti semula. Aku ingin dia sehat dan bahagia bersamanya. Berikanlah aku kekuatan untuk menunggunya. Selalu menunggunya. Aku janji tidak akan membuatnya kesusahan dan menjaga kesehatannya. Kabulkanlah pintaku Ya Tuhan. Amen” doaku. Walaupun permintaan singkat aku harap doaku terkabul kali ini.

 

~o~

 

Satu minggu sudah berlalu. Tak ada perubahan yang pasti dari Yesung oppa. Namjaku itu masih saja setia pada ranjang tidurnya dengan mata yang masih tertutup. Dan itu berarti, aku juga masih tetap sabar menunggu di ruangan ini untuk menggantikan Ran-bi yang sudah sibuk dengan pekerjaannya. Kami membagi waktu jaga kami. Pagi hingga sore aku, dan sisanya sahabatku itu.

Aku tidak pernah mendengar berita yang buruk dari dokter spesialis yang menangani Yesung oppa. Atau mungkin karena dokter itu datang saat aku tidak ada. Dokter itu datang setelah pukul 6 sore. Dan di jam itu, Ran-bi sudah kembali dari kantornya dan menggantikanku menjaga Yesung oppa. Ran-bi sendiri juga tidak memberikanku kabar buruk tentang Yesung oppa. Walaupun sedikit khawatir, aku terus saja berdoa agar Yesung oppa cepat sadar dan kembali sehat seperti semula.

Drrrt… Drrrt….

Aku ambil handphoneku yang sengaja aku silent di meja sebelah ranjang pasien. Satu pesan masuk dari Ran-bi.

‘Raemun-ah.. Nanti jangan pulang dulu ya.. Temani aku makan di cafe rumah sakit. Aku bosan sendirian’

Aku hanya tersenyum kecil. Ternyata dia mengajakku makan. Atau mungkin dia sedang ada masalah di kantor atau pun dengan pacarnya. Jarang-jarang dia mengajakku tidak secara langsung. Dan biasanya dia melakukan ini karena dia memiliki masalah yang tidak bisa ia pecahkan sendiri atau bisa di katakan butuh bantuan orang lain.

‘Ne, pasti ada masalah ya?’ balasku. Tetapi ia tidak membalasnya. Semoga tidak terjadi apa-apa padanya.

o——o

“Mau pesan apa Rae-yah?” tanya Ran-bi padaku. Aku masih melihat daftar menu yang sedari tadi ku pegang.

“Hng, soft caramel coffee saja. Sebenarnya ada apa denganmu? Tidak biasanya kau memintaku menemani makan?” tanyaku. Pelayan yang sedari tadi menunggu akhirnya pergi setelah kami memesan.

“Tidak apa. Aku hanya ingin makan berdua saja. Aku merasa penat di kantor. Dan terus memikirkan Yesung oppa” ucapnya sambil menggaruk kepalanya sendiri.

“Kenapa Yesung oppa?” tanyaku. Sepertinya sudah saatnya aku tanya tentang keadaan Yesung oppa lebih. Wajah Ran-bi berubah secara tiba-tiba. Ia tidak pandai berbohong di depanku.

“Ti—tidak apa kok” katanya sambil mengalihkan pandangan.

“Bi, kau mau bohong padaku ya? Kau tidak bisa dengan mudah melakukan itu kan?”

“Sungguh. Aku tidak bohong” ia menjawab tanpa melihatku. Aku semakin penasaran apa yang terjadi.

“Kau yakin? Aku tidak percaya padamu. Tidak biasanya kau melakukan ini”

Dia terdiam. Keheningan menyelimuti kami. Aku menopang kepalaku diatas meja melihat ke arah Ran-bi yang sudah terlihat sedikit murung. Curiga. Hanya itu yang ada di benakku. Aku menatapnya. Ia mengusap-usap matanya. Kecurigaanku semakin besar. Aku menarik tangan kanannya dengan cepat.

“Kau menangis?” tanyaku terkejut. Matanya memerah karena airmata yang jatuh tiba-tiba.

“Hng” ucapnya.

“Ada apa?” tegasku. Aku tidak mau lebih lama lagi melihatnya seperti ini. “Katakan padaku. Tentang siapa, karena apa”

“Tidak apa” aku menatapnya lebih tajam. Dia tidak pernah tahan dengan ini.

“Jangan tatap aku seperti itu, aku pasti cerita kok” ucapnya dengan nada sedih.

“Sebenarnya tentang siapa, Bi?” tanyaku penasaran.

“Yesung oppa” jawabnya pelan.

Aku menelan ludahku yang sudah penuh di dalam rongga mulutku. Hatiku benar-benar seperti di hempas angin. Rasa penasaran itu muncul tetapi hatiku tidak siap untuk menerima kenyataan yang akan terjadi nanti. Aku menatap Ran-bi dengan pandangan penuh pertanyaan. Sesekali mendengar hempasan napas darinya yang juga tidak siap untuk mengucapkan masalah itu.

“Sebenarnya…” katanya memulai kata-katanya. Aku mencoba mendengar dengan sangat teliti.

“Hng?” hanya itu yang terucap. Aku tidak tahu harus menjawab apalagi sebelum ia menyelesaikan ucapannya. “Jangan bikin aku semakin penasaran Bi”

“Ne, arraseo” katanya sambil menghela napas untuk yang kesekian kalinya. “Dengarkan baik-baik ya”

“Sebenarnya……”

Dengan agak takut, Ran-bi mulai menceritakan apa yang terjadi. Aku membulatkan mataku tidak percaya saat mendengar. Darah di tubuhku seakan berhenti mengalir. Jantungku sudah bersiap untuk meledak. Otakku sudah susah mencerna kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut Ran-bi. Ini benar-benar menyakitkan untukku. Sangat terlalu menyakitkan.

 

-TBC-

 

Uhuk Uhuk… Mian ya kalo gak jelas… Aku yang bikin juga gak mudeng. Karena beberapa faktor. Satu, karena sudah lama gak lanjutin FF, dua jarang bikin angst, tiga lupa sama ceritanya, empat lupa bikin judul awal. Mian kalo ceritanya gak nyambung sama judulnya. Hehehe..

 

Oke, segitu dulu.. Kalo kamu ngebash jangan yang nikin sakit ati ya.. Hahaha (bilang aje thor gak mau di bash) Sip, kalo begitu author pamit…

 

Annyeooong…

 

Bi🙂

26 thoughts on “Not Only Dream (Part 1)

  1. ha! new ff!
    keren loh eon, tapi ada bbrp kata yg bikin ku bingung, tp its okay lha.
    kok Raemunnya kebanyakan berhayal ya, kan kasian-.-
    lanjutannya kapan nih? ohiya, yg itu eon, yg castnya Ryeowook *lupa nama ffnya-_-* kapan dilanjutin? aku penasaran kkkkk
    Yaudahdeh, mungkin segini dulu aja komentarku, kepanjangan soalnya kwukwukwuk😄
    jangan lupa lanjutin ffmu yg keren-keren itu, eon;p

  2. Annyeong unnie , cieee unnie comeback *lol* hahhaha
    Ahh susah mau ngomen apa, FFnya sedih nih unn untung ga sampe nangis deg degan sama kelanjutannya semoga yesung oppanya ga kenapa2 *ngarep* tapi kereeeennn, maaf ya unn komennya gaje gomawo😀

  3. Mian baru bs baca skrg eonni🙂
    Eonni ffnya seru kok tp mian, jeongmal mianhae, menurutku suasananya kurang menegangkan ><

    Eonni skali lg mian yaa kalo gk suka sm tanggapan aku, tp aku ttp suka kok ^^

    Next part di tunggu yaa ^^

  4. Biii!!! Ceritamu selalu menyebalkan-_- selalu saja bikin penasaran. Kamu tdk tau kan. Grgr aku baca ffmu yg belom selesai. Itu cerita sampe masuk ke mimpi tauu *mukasedih*-___- cepat selesaikan! Biar aku gak tidur penasaran nih *loh

  5. Yesung oppaaaaa😄 aaa, sikap babonya dapet banget dia disini ._.v #plak lanjut Bi eon X3

  6. Whuaaaaa…. Bikin penasaran aja, sebenarnya ada apa dengan Yesung Oppa, kenapa gak sadar2….
    Semoga Yesung oppa yg asli baik2 aja, hehe… ^^

  7. Bagus Chingu, tapi kok menyedihkan gituuu…. (╥﹏╥)

    Bikin penasaran aja, emangnya apa yg sebenarnya dengan Yesung oppa, hmmm…..
    Kalau dah ada part 2, aku di mention ya Chingu. Gomawo ^^

  8. UNNI SUKAAAAAAAAAA UNNI SUKAAAAAAAAAAAAAAA….
    NYESEK BADAAAAAIIIIIII TTVTT

    kasihan si rere (aku)😀
    kenapa yesung oppa seperti itu sih… kenapa terlalu sibuk hingga tidak ada waktu buatku….. huaaaaaa😦
    Oppa.. kau tau aku tidak bisa hidup tanpamu, kau adalah semangatku, kau adalah nafasku, kau adalah segala-galanya bagiku.. *oke mulai lebay*

    tapi suweeerrr…
    unni udah mulai berkaca-kaca pas moment di taman walau cuma mimpi..
    huweeeeee😦
    apa yesung Oppa benar2 mati😥
    sakit apaaaaa,,

    BIIIIIIIIII… UPDATE CEPET!!!
    UNNI UDAH GK SABAR LIAT LANJUTANNYA!!!
    UDAH GK BISA NGOMONG NIH!! >_<"
    BAGUUUUUUUUUUUUUUS!!!

    Pokoknya mau gk mau besok harus update -_- #maksa
    gak mau tau,, u,u

    nb : mian baru comment, kemarin modem di rumah belom di isi heheh.. tapi udah penasaran sih n baru baca sekarang T_T
    hwaiting Bi!!
    gomawo udah bikinin buat unni ff angst ini,, Moga chapter berikutnya malah bkin unni nangis ngejer ya😦

    • INI APAAAA?? PANJAAANG SEKALI DDDXXXX
      WKWKWKWKWK..

      sabar un… masih ada part 2nya… tapi tunggu dulu sampek aku bisa melanjutkan… stres juga ternyata bikin angst.. otakku agak gak nyampek.. ahahaha.. XDD

      gomawo pujiannya (itu pujian kan? /plak)
      bayangkan apa yang akan terjadi dengan yesung oppa disana.. huuuaaaaa…
      gak tega baca lagi :))

      mana ceritanya minbi? aku juga menunggu nih un :DD

      HWAITIING !!!

      • UNNI SUDAH BILANG AKAN MEMBOMBARDIR WP MUUUUUU!!!!

        Part 2’nya kapan -_-
        padahal kan angst itu sesuatu (?) bgt wkwkwk..

        hahaha..
        anggap aja pujian deh –”
        aish.. gk kebayang bagaimana ditinggal yesung Oppa😦
        gk ada MREVET’nya ya XDDD *MulaiNgaco*

        BELUUUUUUUUUUM… FF MU BELUM KELAAAAARRRR…
        FF INI DULU, UNNI HARUS NANGIS GULING-GULING.. XDD..

        semangat biiii!!!!
        unni tiap hari berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa *lebay*
        semoga km mendapat WANGSIT untuk segera menyelesaikan FF ini -_-

        hehehe
        HWAITINGGGGG!!!!

      • aaaah unni…. itu dan itu… banyak sekaliiiii…. >< seriusan nih :p

        HWAITIIING !! UNNI !! HOOOOWAAAAAIIIIIITTEEEEENGGG !!!!

      • ahahahaha..
        pasti unni akan mengatakan yang banyak sekali wkwkwk..

        hoho..
        hwaiting!!!
        unni tunggu ya ff itu dan yang -eheeem- kemarin wkwkwk
        semangat biii!!!😀

  9. Unni, lanjutin dong.. jangan bikin orang penasaran.. mataku udh berkaca-kaca nih
    Ngomong-ngomong FF yg klo gak salah judulnya Please Understand me itu… part 3 nya bikin dong… penasaran nih ><. FIGHTING UNNI !!!!!

BE A GOOD READER GUYS ! PLEASE COMMENT IN HERE :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s