Please, Understand Me ! Part 5

 

-HAN SUNGBI POV-

 

“Neoneun, Han Sungbi imnikka?”

Aku menoleh pada suara itu. Sungguh aku terkejut melihat namja yang berada di depanku itu. Postur tingginya hampir sama dengan Sungmin oppa. Hanya saja, dia lebih kurus. Wajahnya sangat familiar, seperti pernah tahu siapa dia. Tapi aku lupa atau mungkin tidak tahu apakah aku pernah mengenalnya atau tidak. Kecuali jika wajahnya itu memang pasaran. Dari raut wajahnya, tak ada tanda-tanda apakah dia mengenalku sebelumnya. Mungkin sebenarnya dia mengerti siapa aku, tapi tidak menunjukkannya? Aku hanya diam tidak ingin berkata apapun. Hanya menatap wajahnya yang mungkin sok bingung. Tiba-tiba tanpa di suruh, namja itu duduk di depanku sambil mengembangkan senyumannya.

“Aku rasa aku benar jika kau Han Sungbi,” katanya santai. Tidak hanya santai, wajahnya yang like a boss itu sungguh menyebalkan. Dan terlihat lagi saat dia memanggil pelayan cafe ini.

“Kau siapa? Aku tidak kenal siapa kau,” ketusku sambil memasang wajah super jutek.

“Mwoya? Appa menyuruhku kemari untuk bertemu dengan gaetku. Kau Han Sungbi kan?”

“Ga— kau pikir aku apa?” tanpa sadar aku membentaknya. Semua orang memperhatikan kami. Aku menutup mulutku saat mulai tersadar dengan kelakuanku yang memalukan. Sial. Untuk apa Appa menyuruhku bertemu dengan namja sombong seperti dirinya.

“Hahaha, semua orang memperhatikan kita karena ulah bodohmu itu,” kata namja itu tanpa menoleh sedikitpun. Pelayan yang mencatat pesanan namja itu hanya tersenyum kecil. Benar-benar memalukan.

“Kau benar anak dari keluarga Lee?” dia mengangguk. Kali ini ia menatapku sambil menopang dagunya dan tersenyum dengan gummysmile-nya. Memuakkan. “Berhentilah menatapku seperti itu tuan Lee, dan bisakah aku pulang sekarang?”

“Tuan Lee? Eh… Kita kan belum berkenalan. Bagaimana mungkin aku bisa menyuruhmu pulang sekarang?”

“Mwoya?” benar juga, aku tidak tahu nama namja ini dan babo-nya aku, kemarin aku tidak bertanya sekalipun pada appa.

“Untuk satu bulan kedepan, aku adalah tuanmu. Mengerti?”

“Andwe.”

“Kau tadi saja sudah memanggilku Tuan Lee, kan? Dan Minjoong-ssi menyuruhmu untuk menemaniku. Berarti kau adalah gaetku kan?”

“Aku tarik kata ‘Tuan Lee’ yang aku sebutkan tadi. Asal kau tahu, aku tidak pernah peduli denganmu. Sedikitpun. Biarkan aku pulang sekarang, aku mau istirahat,” aku berdiri dan mengambil tasku segera. Tetapi namja itu memukul gips siku kananku tiba-tiba.

“Arggghh..” teriakku menahan sakit dan membuatku kembali terduduk  di kursi. “Kau babo atau tidak pernah sekolah sih? Kau tak tahu kalau ini luka?”

“Ini adalah hukumanmu.”

Aku menatap wajahnya geram. Wajah tanpa dosa yang ia perlihatkan di depan mataku benar-benar membuatku ingin memukul wajahnya. Tangan kananku mulai terasa nyerinya. Namja tidak punya otak itu dengan sombongnya hanya melipat kedua tangan di atas dadanya tanpa peduli dengan keadaanku.

“Menyebalkan,” ucapku sambil mengambil tas dan meninggalkannya.

Aku menangis. Rasa nyeri di siku kananku benar-benar tidak tertahan. Entahlah, mungkin tidak hanya karena nyeri, aku jengkel pada namja itu. Sangat jengkel hingga aku tidak bisa mengungkapkan pada dirinya. Tidak ada orang yang pernah kasar padaku. Mungkin hanya membentak, tapi aku rasa aku akan memakluminya jika itu benar salahku. Tetapi ini beda, namja itu, baru 10 menit bertemu, dia membuat kesalahan dan menjadi orang pertama yang kasar padaku. Sungmin oppa saja tidak pernah melakukan itu. Sama sekali tidak pernah.

Aku berlari meninggalkan cafe itu dengan mata yang sudah membengkak dan mulai sesenggukan. Amarahku sudah hampir di ubun-ubun dan aku yakin dia tidak akan peduli denganku, sedikitpun.  Aku sudah tidak ingin memperdulikan namja itu lagi. Biar saja dia mau melakukan apa, yang penting aku tidak akan pernah ingin bertemu dengannya  lagi.

“Sungbi-ssi!!” teriak suara namja dibelakangku. Aku rasa itu suara dia. Untuk apa dia mengejarku? Menyebalkan. Kupercepat lariku, aku masih tetap tidak ingin bertemu dengannya.

“Yak !! Kau mau kemana? Mengapa kau meninggalkanku di cafe?” suaranya menjadi sangat dekat. Aku rasa dia ada di belakangku. Percuma rasanya, sejauh apapun aku berlari, namja itu akan tetap mengejarku.

“Tinggalkan aku sendiri.”

“Sirheoo.. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

“Aku mohon tinggalkan aku,” Ucapku dengan nada tinggi. Namja itu menarik tangan kiriku kasar.

“Kau tidak dengar? Aku bilang sirheo.. Dengarkan aku, aku tidak akan meninggalkanmu. Mianhae.. Aku tidak tahu jika lenganmu masih begitu sakit. Aku minta maaf padamu. Aku tidak akan mengulangi hal itu lagi,” ucapnya dengan tetap memegang tangan kiriku dengan erat.

Aku tidak melihat wajahnya. Tetapi menengar suaranya saja, sepertinya dia benar-benar menyesal. Hatiku sedikit ciut. Berharap dia benar-benar menyesal, dan dia adalah orang yang baik. Kubalikkan badanku menghadap dirinya. Ia melepaskan pegangan tangannya dan membuatku bisa mundur beberapa langkah menjauhinya. Ia terlihat sangat bingung dengan apa yang aku lakukan. Kurentangkan dan membuka telapak tanganku di depan badannya. Ia mengerutkan alisnya. Sangat terlihat jelas jika ia benar-benar bingung.

“Mana handphone?” tanyaku datar.

“Untuk apa?”

“Kau butuh aku untuk menemanimu tidak?”

“Oooo… Ne.. Jamkkanman,” ia mengeluarkan handphonenya dari saku celananya. Terlihat sedikit kesusahan, membuatku ingin tertawa. “Ini handphonenya.”

Kuketikkan saja nomer handphoneku di handphone namja itu. Sesekali ia melirik ke arah handphonenya, tetapi aku dengan reflek menutupi layar handphone miliknya. Aku menelpon nomorku melalui handphonennya, dan setelah handphoneku bergetar, aku mengembalikan handphone itu kepada pemiliknya yang sudah bertampang aneh. Dan kami akhirnya sudah bertukar nomor agar mudah menghubungi satu dengan yang lain.

“Siapa namamu?” tanyaku sambil melihat layar handphoneku. Sejak tadi, aku benar-benar tidak mengetahui siapa nama namja di hadapanku ini. Tetapi, Ia hanya diam tidak menjawabnya.

“Siapa namamu?” tanyaku lagi, kali ini sambil melihat ke arah wajahnya. Ternyata dia terkejut.

“M—mwo? Kau tidak tahu siapa aku?” masih saja bersikap sombong seperti itu di hadapanku, menyebalkan sekali namja ini.

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa bertanya?” aku menghela napasku panjang.

“Aku tahu jika namamu monyet. Kau mau aku menyimpan nomormu dengan nama monyet?”

“Ish… Lee Hyukjae. Panggil aku Hyukjae..” aku mengetik namanya. Bagus juga.

“Eo.. sudah aku simpan. Sekarang biarkan aku pulang. Aku mau istirahat.”

“Ne.. Silakan.. Uljima.. Mianhaeyo, Sungbi-ssi.”

“Mwo? Panggil dengan informal saja, sepertinya kau lebih tua daripada aku.”

“Ne.. Panggil aku oppa, Sungbi-ah.”

“Sirheo.”

Tanpa melihat responnya lagi, aku segera meninggalkannya dengan cepat. Aku menengar dia berteriak, tetapi aku tidak peduli apa yang ia ucapkan. Masih sedikit kesal pada sikap sombongnya itu, tetapi sudah kuhapus kata ‘kasar’ yang hampir melekat di dirinya. Semoga dia tidak semenyebalkan hari ini.

Drrt… Kulihat layar handphoneku dan menghentikan jalanku.

1 message received from Lee Hyukjae

Annyeong. Mianhaeyo Sungbi-ah. Jeongmal mianhaeyo.. Aku akan menunggumu besok dengan memanggil oppa. Istirahatlah. Hwaiting’ -Hyukjae

Aku menoleh kebelakang, menoleh padanya yang aku rasa dia masih berada di sana. Tepat sekali, namja itu berdiri di tempat tadi sambil melihatku dan tersenyum manis padaku. Tanpa sadar aku terbawa untuk membalas senyuman Lee Hyukjae.

~o~

Karena tak ada yang bisa aku kerjakan, aku hanya bisa duduk diam di depan televisi sambil ber-sms ria dengan Hyukjae. Sejak tadi ia terus saja mengirimiku pesan. Awalnya aku tidak menggubris sama sekali sms darinya, karena menurutku itu sangat-sangat mengganggu. Tetapi karena nyatanya aku sangat bosan di apaertemen, dan sepertinya Sungmin oppa masih sangat sibuk, mau tidak mau aku harus melepas rasa bosanku dengan menjawab sms dari namja itu.

Ia banyak bercerita tentang kehidupannya di Belanda. Dia tinggal di Amsterdam sudah hampir 11 tahun setelah sebelumnya ia tinggal di Seoul sampai berumur 10 tahun. Appanya adalah seorang pelukis alam, karena itu Hyukjae tinggal ditempat yang bisa di katakan agak pedalaman. Walaupun tinggal di daerah pedesaan, Hyukjae berkata jika keluarganya termasuk keluarga kaya yang tinggal di pedesaan itu. Hampir setara dengan kekayaan orang yang tinggal di kota, bahkan mungkin bisa lebih kaya lagi.

Dan sejak dia SMA, dia tidak lagi tinggal di pedesaan itu, karena appanya menyekolahkannya di kota. Jarak dari kota dan rumahnya di desa memiliki jarak yang cukup jauh. Sekitar 30 kilometer. Dan itulah sebabnya, ia dibelikan sebuah rumah yang cukup besar untuk dirinya agar tidak terlalu jauh dari tempat ia bersekolah.

‘apa kau sedang sibuk?’ itu pesan terakhir dari Hyukjae. Aku mengerutkan keningku. Seharusnya ia bertanya seperti itu tadi, bukan sekarang. Namja aneh.

‘Hng, mungkin.. Tapi sebenarnya tidak juga,’ jawabku.

‘Yak !! Jadi sebenarnya kau sibuk atau tidak? Mengapa semua ucapan appamu berbeda dari kau yang sebenarnya?’ tanyanya. Sepertinya ia benar-benar sering bertemu dengan appa. Apakah aku juga sering bertemu dengan appanya? Tetapi, sepertinya aku tidak pernah sekali pun menengar cerita tentang dirinya.

‘Apa kau bertemu dengannya?’ balasku setelah agak lama. Agak ragu, tapi aku rasa tidak ada salahnya untuk bertanya.

‘Ne.. Minjoong-ssi selalu menginap dirumahku jika ia mampir ke Belanda. Apa kau tidak tahu hal itu?’

‘Mungkin, aku tidak pernah peduli dengan hal-hal yang tidak penting seperti itu. Kkk.. Apa yang sering appa katakan padamu?’

‘Banyak. Aku lupa. Sudahlah, aku ingin menelponmu sekarang. Apa kau sibuk?’

Ha? Untuk apa dia ingin menelponku? Ish.. Dasar namja aneh. Aku tidak ingin menengar suaranya.

Drrt…. Drrt..

Handphoneku yang sedari tadi aku silent bergetar dan membuatku kaget. Hampir saja aku lempar sebelum akhirnya diriku melihat layar handphoneku. Tak perlu di tanya siapa yang menelpon. Nama Lee Hyujae terpampang jelas disana. Aku letakkan handphoneku yang bergetar mengganggu di atas sofa. Kutunggu telepon itu berhenti bergetar. Tidak sampai 2 menit getaran itu berhenti. Kuangkat handphoneku lagi dan mulai mengetik pesan untuk namja babo itu.

‘Haji—‘

Drrtt… Drrtt… klik

“Yeoboseyo?” aish… salah… Aku salah menekan tombol layar handphoneku. Aigoo…

“Sungbi-ah.. Yeoboseyo… Kau menengarku?” panggilnya berulang kali. Ish.. Kenapa aku benar-benar bodoh. Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Tidak mungkin aku mematikan telepon itu tiba-tiba.

Aku menghela napas agak panjang. Tetap dengan wajah sebal karna kesalahanku sendiri.  Aku harus bisa mengendalikan diriku. Lebih baik sekarang aku menjawab panggilannya. “Yeobo—“

“Sungbi-ah aku pulang.” suara Sungmin oppa dari arah pintu rumah. Kudengar suara pintu terbuka. Dengan wajah terkejut, aku menoleh ke arah pintu rumah. Aku menelan ludahku sendiri. Apa yang harus aku lakukan. Kututup telepon Hyukjae dan segera berlari ke pintu depan. Aku berdiri di pembatas ruang tengah dan ruang depan dengan wajah yang… entah bagaimana aku menjelaskannya. Sungmin oppa mengerutkan keningnya melihatku seperti orang aneh.

“Annyeong oppa,” sapaku sambil sedikit terengah.

“Annyeong, Bi. Ada apa? Tidak seperti biasanya,” tanyanya bingung. Sungmin oppa masih mengerutkan keningnya. Aku hanya tersenyum kecil tidak tahu harus menjawab apa. Ku garukkan kepalaku yang tidak gatal dengan tangan yang sedang menggenggam handphoneku.

Drrt… Aku terkejut saat kepalaku mulai bergetar. Handphoneku bergetar. Kulempar handphoneku, jatuh mengenai lenganku sendiri. Aish.. Itu sakit. Sungmin oppa terkejut menengar suara barang jatuh dan menoleh lagi padaku untuk memastikan aku baik-baik saja. Aku rasa. Senyumku mungkin terlihat aneh, karena dadaku berdegup kencang takut sewaktu-waktu Sungmin oppa bertanya apa yang tidak ingin aku buka. Kuambill dan lihat layar handphoneku, Bisa ditebak nama siapa yang tertera. Hyukjae lagi. Apa yang sebenarnya yang ia inginkan? Kulirik Sungmin oppa cemas. Ia menekatiku dengan wajah yang sedikit panik. Sedangkan aku, aku benar-benar sangat panik sekarang. Aku rasa dia sangat curiga padaku.

“Nugu?” tanya Sungmin ketika sampai di hadapanku. Ia melirik handphoneku yang masih menyala. Kututupi layar handphoneku seerat mungkin dengan tangan kiriku. “Siapa yang menelpon, Bi?”

“Hng.. Itu… Itu…” jawabku tergagap. Ia makin mengerutkan keningnya. “Oppa.. Sebentar aku mau ke kamar.”

“Taa—“ aku meninggalkan Sungmin oppa masuk kedalam kamar.

Sejak aku keluar dari rumah sakit, apartemen ini di tata ulang oleh Sungmin oppa. Dibantu juga dengan para sahabatku. Salah satunya kamar ini. Karena apartemen ini hanya ada satu kamar tidur yang sangat besar, Sungmin oppa rela membagi dua kamarnya untukku. Awalnya kamar ini memiliki satu kasur king size. Dan sejak aku tinggal disini, kasur itu aku yang menempati. Tetapi sejak aku kembali dari rumah sakit, kasur itu menghilang dan digantikan oleh 2 kasur yang hanya cukup di tempati satu orang di setiap bednya.

Sungmin oppa berkata bahwa ia memiliki alasan tersendiri mengapa ia menjual kingsize bednya itu. Di samping tidak mungkin kami tidur di tempat tidur yang sama, ia berinisiatif agar tidak susah saat aku membutuhkannya dan juga supaya lebih mudah menjagaku. Awalnya aku agak keberatan dan berniat untuk membeli kamar apartemen di sebelah apartemen Sungmin oppa. Tetapi ia melarangku, dan meyakinkanku agar aku tetap tinggal disini bersamanya.

“Bi…” ketuk pintu kamar yang sudah aku kunci dari dalam. Aku berusaha untuk tidak menggubrisnya.

Aku berusaha menelpon Hyukjae, tetapi dia tidak menjawabnya. Uh.. Sial. Dengan terpaksa aku mengirimnya sebuah pesan agar dia tidak menghubungiku dulu.

1 message received from Lee Hyukjae

‘Mianhae.. Aku tidak tahu jika kau sedang sibuk. Kau di rumah? Aku tadi menengar suara namja. Dia siapa?’

Untuk apa dia tanya seperti itu. Tidak penting. Aku tidak membalas pesannya lagi. Menyebalkan.

“Yak !! Bi.. Apa yang kau lakukan? Gwenchanaeyo?” teriaknya.

Aku berlari menuju pintu kamar dan segera membukanya. Sungmin oppa terlihat sangat khawatir. Aku tersenyum lebar. Saat Sungmin oppa melihat wajahku, raut wajahnya berubah. Tangannya di tepukkan ke kepalaku pelan. Menyenangkan. Aku sangat menyukai saat dia menepuk kepalaku seperti itu.

“Jangan membuatku khawatir dongsaeng-ie.”

“Mianhae oppa,” ucapku singkat. Aku yakin diantara wajah paniknya tadi, dia sebenarnya curiga apa yang terjadi padaku. Muncul rasa bersalah yang sangat, tetapi tetap saja, aku tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi.

Sungmin oppa menabrakku pelan agar dirinya bisa masuk kedalam kamar dan membuatku terseret masuk ke dalam kamar. Ia melepas bajunya dan seakan-akan tidak peduli jika disini aku melihatnya. Aku hanya diam tak bergerak dan tetap melihatnya berjalan menuju lemari bajunya. Aku tidak pernah tahu Sungmin oppa mempunyai badan yang bagus seperti itu. Membuatku…kagum. Ya, hanya kagum pada badannya yang memiliki abs yang menurutku sangat bagus itu.

“Sungbi-ah.. Kenapa kau ada di situ? Dan mengapa kau tersenyum seperti itu?” aku menjadi salah tingkah. Semoga wajahku tidak memerah seperti tomat.

“Hng.. Aniyo.. Hng… aku tidak sengaja oppa. Mianhae,” kataku sambil keluar kamar dan menutup pintu kamar cepat.

“Ah… Baboya!!” rutukku dalam hati sambil memegang dadaku yang berdegup kencang.

 

~o~

-LEE SUNGMIN POV-

 

Aku merasakan ada yang berubah disini. Entah apa itu. Atau mungkin karena aku merasa akhir-akhir ini Sungbi agak berubah. Dia jarang membalas smsku dan saat aku pulang ke rumah, dia tidak ada di rumah. Ada apa dengannya? Seperti malam ini, tadi sebelum aku training ini selesai, aku mengirim pesan padanya agar stay di apartemen karena aku akan mengajaknya makan di luar rumah. Tetapi saat aku sampai di rumah, apartemen ini dalam keadaan bersih dan rapi tanpa penghuni.

Di otakku, aku hanya bertanya pada diriku sendiri seperti orang tidak waras. Kemana dia pergi. Heran saja, apa dia marah padaku? Tapi apa salahku padanya. Atau mungkin dia akan memberikanku kejutan kecil. Dan rasanya itu tidak mungkin. Apa dia baik-baik saja? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya.

 

TEEET….

Aku segera berlari kearah pintu. Kuharap itu Sungbi yang ada di depan. Pintu itu kubuka dengan cepat.

“Annyeong…” sapa orang yang ada di hadapanku. Bukan Sungbi. Tetapi ketiga sahabatnya.

“Ne.. Annyeong.. Masuklah” ucapku lirih dan sedikit kecewa. Tidak, tapi sangat kecewa.

“Hyung, waeyo?” tanya Ryeowook yang entah sejak kapan sudah berada di sebelahku.

“Hng? Ani… Gwenchaneyo.. Aku pikir kalian Sungbi.”

“Sungmin oppa, Sungbi……dimana?” tanya Yongae, pacar Ryeowook.

“Mollayo.. Dia belum pulang saat aku pulang.”

“Huh?” dua yeoja itu terkejut. Beda dengan Ryeowook yang hanya berpose datar. Diam tak bersuara. Sepertinya dia mengetahui sesuatu yang tidak aku tahu.

“Sudahlah, kalian duduk dulu saja. Aku akan membuatkan kalian minum dulu. Ryeowook-ah ayo ikut,” kataku sambil menarik tangannya.

Sedikit kuseret Ryeowook hingga menuju dapur. Dia sedikit bingung tetapi tetap saja ia mengikutiku dari belakang. Aku menyuruhnya duduk di kursi makan. Tanpa disuruh dua kali ia langsung duduk. Aku menyiapkan 3 gelas tamu, sebotol sirup dan air. Ryeowook membantuku membuat sirup untuk para yeoja dan dia sendiri.

“Ryeowook-ah, ntah mengapa aku merasa dia berubah,” kataku sambil duduk di kursi.

“Nuguya?” tanyanya sambil menuang air. Aku menghela napas. “Aah… arraseo.. Sungbi kan?”

“Siapa lagi?”

“Ah… mianhae hyung” aku hanya diam melihatnya masih menuangkan air di gelas terakhir. “Apa yang berubah? Sepertinya tidak ada yang berubah.”

“Saat aku pulang, dia tidak pernah ada di apartemen. Apartemen ini selalu kosong dan dia pulang selalu saja malam. Dia tidak pernah lagi membals smsku dan tidak mengirim pesan padaku untuk sekedar ijin jika ia pergi. Dan saat dia kembali, dia terlihat lelah dan aku tidak berani bertanya apa-apa padanya,” ceritaku panjang lebar.

“Hyung tidak tahu jika dia pergi dengan namja dari Belanda?”

“MWO?” teriakku terkejut. Aku benar-benar terkejut menengarnya bumi seakan terbalik di hadapanku sekarang. Badanku tiba-tiba melemas begitu saja.

“Sssttt.. Kenapa harus berteriak hyung? Sungbi tidak berkata apa-apa padamu, hyung?” aku menggelengkan kepalaku pelan dengan wajah datar.

“Dia tidak pernah berkata apa pun padaku.”

“Sungbi tidak pernah mengajak mengobrol?”

“Pernah, sebelum berangkat ke MJ building, dia mengajakku mengobrol, tapi tidak pernah bercerita tentang hal itu padaku,” kataku. “Jadi siapa namja itu?”

“Namja siapa?” tanya seorang yeoja pada kami. Kami menoleh ke arah suara itu.

“Ya, jagiya… Waeyo kau menganggetkan kami?” tanya Ryeowook pada Yongae.

“Kalian lama. Nomor Sungbi tidak bisa di hubungi. Kita pulang saja deh. Ririn sudah di tunggu Kyuhyun di cafe.”

“Ne… Aku harus cepat-cepat kesana,” Ryeowook menoleh padaku.

“Kalian pulang saja. Sungbi mungkin masih lama.”

Para yeoja itu kembali ke ruang tengah. Sedangkan kami berdua masih duduk di kursi makan. Aku penasaran siapa namja yang sekarang sedang bersama Sungbi. Rasanya tidak hanya penasaran saja tetapi juga geram dan marah yang menjadi satu.

“Hyung?” panggil Ryeowook melambaikan tangan di depan wajahku. Aku menoleh asal.

“Hng? Siapa namja itu, Ryeowook-ah?”

“Aku tidak tahu pasti siapa dia. Yang aku tahu, Sungbi hanya bertemu dengan namja itu saja, hyung.”

“…” aku diam tidak merespon. Mataku menatap tajam gelas yang ada di depanku. Apa dia memiliki pacar?

“Hyung aku pulang dulu,” suara Ryewook berpamitan terdengar samar-samar. Aku tidak menoleh sedikit pun. Yang kupikirkan hanya Sungbi dengan namja itu.

Aku masih terdiam di depan meja makan. Tetap bertanya-tanya pada diri sendiri siapa namja dari Belanda itu. Untuk apa dia bertemu dengan Sungbi hingga Sungbi tidak memberitahu padaku. Backstreet? Apa mereka menyembunyikan hubungan padaku? Rasanya aku telah kalah begitu saja dengan namja yang tidak aku kenal itu.

Ku ambil handphoneku di atas meja makan dan mencoba menghubungi Sungbi untuk kesekian kalinya. Gagal. Sungguh sial. Handphone itu benar-benar tidak aktif. Membuatku semakin geram pada diriku sendiri. Rasa khawatir, rasa takut pun juga ikut mengelabui diriku disini. Tanganku sudah menggenggam sendiri tanpa kusadari, Ingin rasanya memukulkan tanganku ke dinding. Mataku terus saja melihat kearah atas televisi sejak aku berjalan meninggalkan ruang makan. Jam dinding. Sudah hampir jam 8 malam dan Sungbi juga masih tetap tidak ada di rumah.

TING TONG !!

Aku berlari kecil menuju layar kecil yang terpasang di sebelah pembatas ruangan. Wajah yang tidak asing bagiku terpampang jelas disana. Kulihat dia dengan seseorang yang memang tidak aku kenal. Siapa dia? Seorang namja. Apakah dia yang dimaksud oleh Ryeowook? Terus menerus aku berpikir dengan langkah menuju pintu depan dan membuka pintu apartemenju dengan wajah datar tanpa masalah.

“Annyeong, Sungmin oppa,” salamnya sambil tersenyum bahagia. Dan aku sepertinya tidak suka.

“Ne,” jawabku singkat. Kutoleh ke arah namja itu dengan mengerutkan keningku bingung.

“Waeyo kau masih disini? Sana pulaang,” usir Sungbi. Mengapa dia mengusir namja itu? Dan mengapa dia tidak memperkenalkannya padaku? Menyebalkan.

“Kyaa.. Kau tak mau memperkenalkan namja itu padaku?” tanyanya. Dia bilang ‘namja’ padaku? Persetan. Jangan harap aku mau berkenalan dengan namja kurang ajar seperti dia. Sungbi menoleh ke arahku.

“Aniyo.. Aku lelah. Sana pulang.”

Sungbi menutup apartemen dengan perlahan. Wajahnya terlihat sangat lelah, sedikit kasihan padanya, tetapi aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi, aku ingin tahu siapa namja yang tadi bersamanya. Dia berhenti di hadapanku dan tersenyum kecil.

“Annyeong oppa!” sapanya dengan berjalan seakan tidak terjadi apa-apa. Aku menghembuskan napasku berat dan menarik wajahku ke arah ia berjalan.

“Darimana?” tanyaku dingin. “Namja dari Belanda? Mengapa aku tidak tahu siapa dia, Han Sungbi?”

Dia berhenti di tempat, menundukkan kepala, tidak menoleh sedikit pun padaku.

“Jeo saram nuguya? Kau tidak menengarku?” bentakku. Dia tersentak menengar bentakanku.

“Lee Hyukjae. Anak teman appa dari Belanda. Dia berlibur disini 1 bulan,” ucapnya masih tidak memutar badannya. “Aku tidak berani mengatakan itu pada Sungmin oppa, karena kau sibuk dengan training.”

“Lalu kau mengatakan itu pada Ryeowook. Ah, mungkin aku memang tidak ada apa-apanya dibandingkan Ryeowook. Benarkan? Kau menumpang di rumahku dan kau bisa seenaknya saja seperti ini, Han Sungbi?”

Kali ini dia menoleh padaku. Wajahnya…. mengapa wajahnya seperti itu? Mengapa matanya memerah?

“Ne, aku memang menumpang di rumah Sungmin oppa. Memang aku salah tidak memberitahumu tentang hal ini, tapi apakah harus kau mengatakan hal seperti itu padaku? Aku minta maaf, kalau kau tidak suka, aku bisa pergi dari rumah ini sekarang juga.”

Aku berdiri diam, melihatnya menangis dan masuk ke dalam kamar. Aku tidak bisa bergerak. Apakah aku terlalu keras padanya? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku hanya bisa melihat dirinya keluar dan masuk kamar dengan membawa tasnya. Air matanya mengalir deras, sesekali ia hapus dengan tangan kirinya yang sudah penuh dengan barangnya. Dia masih belum bisa menggunakan tangan kanannya. Gips yang masih menempel itu pasti membuatnya susah untuk bergerak. Aku sendiri masih saja berdiam diri di tempatku, lemas. Apakah ia benar-benar akan meninggalkanku sekarang?

“Mianhae oppa, jeongmal mianhae. Aku sudah membuatmu marah seperti ini. Aku akan pergi sekarang. Terima kasih untuk semuanya,” seperti ada angin yang kencang yang menabrakku saat Sunbi berkata seperti itu. Aku rasa aku akan jatuh. Aku tidak bisa lagi menjawab ataupun hanya sekadar berkata ‘oh’ padanya.

Aku melirik ke arah pintu, dimana Sungbi sudah bersiap untuk pergi. “Kajima,” ucapku pelan. Sungbi masih berjalan ke arah pintu. “Kajima,” lagi-lagi aku mengucapkannya, tetapi Sungbi masih saja tidak menggubrisnya.

“Kajimalago!” teriakku. Sungbi berhenti. Aku berharap dia kembali. Tetapi ternyata aku salah. Dia membuka pintu apartemenku dan keluar tanpa mengucapkan apa-apa.

Drrt Drrt…….

1 message received from Han Sungbi

‘Mianhae oppa. Mungkin ini sudah waktunya aku untuk meninggalkanmu. Terima kasih untuk semuanya. Semua yang kau beri selama ini. Aku terkejut kau membentakku seperti tadi, karena aku tidak pernah melihatmu seperti ini. Maafkan aku juga selama ini membuatmu repot, apalagi dengan keadaan tanganku yang seperti sekarang, aku tahu ini pasti sangat berat untukmu jika kau terus menerus menjagaku. Sekali lagi terima kasih untuk semuanya.’

‘Jaga dirimu baik-baik. Kita pasti akan bertemu jika kau datang ke MJ building. Aku harap kita bisa bertemu dan menjadi teman baik.’ – balasku.

1 message received from Han Sungbi

‘Mianhae oppa, aku tidak yakin aku bisa melakukan itu. Selamat tinggal.’

Aku menyesal melakukan ini padanya. Jika aku tidak melakukan itu, mungkin sekarang dia tidak pergi dari apartemenku. Mungkin semua ini akan berakhir begitu saja. Secara tidak langsung, aku merasa bahwa dia telah menolakku. Tidak ada lagi tempat dan jalan lagi untukku. Mungkin karena namja itu, Lee Hyukjae.

~ooo~

 

 

Hai guys…. sebelumnya aku harus minta maaf. FF yang udah aku buat untuk Sungmin ini akan terus lanjut tanpa adanya POV punya Sungmin lagi. Tapi FF ini masih akan aku lanjutin dengan main cast yang baru. Bukan berarti Sungmin akan musnah (?) di FF ini. Cuman, aku agak bosen kalo ceritanya sama Sungmin terus. Kalau ada saran sapa yang jadi main cast selanjutnya silakan komen di bawah yaa… Terima kasih sebelumnya… Aku harap kalian tetap membaca FF ini dan menyukainya…. Thx alot🙂

One thought on “Please, Understand Me ! Part 5

BE A GOOD READER GUYS ! PLEASE COMMENT IN HERE :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s