No Title

Matahari pagi tidak terlihat dari kamarku hari ini. Tidak hanya hari ini saja, hari-hari yang lain pun sebenarnya tidak juga terlihat. Cahayanya pun juga tidak membangunkanku walaupun aku sudah bangun. Aku membuka gorden jendela kamarku, dan membuka sedikit kayu agar udara pagi bisa masuk menggantikan udara dingin dari pendingin ruangan yang semalaman aku nyalakan.

Seperti biasanya, di saat cahaya ungu berganti biru muda, orang-orang di luar kamar sudah mulai sibuk untuk menyiapkan hari yang sudah berganti. Aku masih tetap asyik di kamar, melihat sesuatu yang aku tunggu setiap pagi. Ucapan selamat sore dari orang yang tinggal di belahan bumi yang lain. Aneh awalnya, tetapi saat sudah dijalani, itu tidak ada bedanya. Dia sama sepertiku, menghirup udara yang sama, alam yang sama, memiliki keluarga, dan makanan dengan porsi yang sama. Ah, untuk yang satu itu aku tidak yakin.

Suara air mendidih dari pemasak air terdengar dari kamarku, artinya kopi untuk ayah sudah hampir selesai dibuat. Suara air dari kamar mandi juga terdengar dan sangat deras yang akhirnya terlalu penuh untuk bak mandi ukuran normal, membuat ibu akan memarahi orang yang ada di dalam sana, saudaraku satu-satunya, adik kecilku yang sudah beranjak dewasa. Ia juga satu-satunya orang yang selalu berangkat lebih dulu dibandingkan manusia-manusia yang lain di rumah ini.

Kembali ke kamarku, aku tidak sedikit pun bergerak keluar dari kamar sejak mengambil air wudhu. Masih menunggu hal yang sama setelah menjalankan perintah agama dan mataku kembali terpaku menghadap pada gadget-ku. Mataku sudah hampir tertutup dan kemudian getaran benda persegi panjang itu melewati tanganku. Aku terperanjat kaget dan segera membuka password handphone milikku.

“Morning,” kata pertama yang terlihat di layar. Tak lupa emot lucu yang selalu ia beri padaku setiap kali kita mengobrol.

“Evening,” jawabku simpel. Lagi, aneh saat dia mengucapkan selamat pagi dan aku harus menjawab selamat sore untuknya.

Obrolan yang kita lakukan 90 persen sama dengan pasangan pada umumnya. 10 persen yang lain mungkin hanya masalah kecil yang orang lain tidak perlu tahu. Membosankan? Tidak, karena aku merasa obrolan singkat ini adalah bentuk vitamin tambahan dari orang yang sangat berarti. Tetap sama dengan pasangan-pasangan lain yang dekat satu dengan yang lain.

“Good luck for today,” ucapnya saat aku meminta untuk mengakhiri obrolan pagi. Jika tidak, obrolan ini akan berlanjut hingga siang, sore lalu malam hari, dan berarti dia tidak akan istirahat sampai aku memintanya berhenti. Mungkin karena dari awal dia berkata akan berhenti jika aku menginginkan untuk berhenti.

“Stay strong! I’ll call you later,” Mengingat dirinya adalah seorang part-timer di cafe milik ayahnya, dia akan lebih lelah dariku yang harus sekolah dan bekerja setiap hari. Walaupun ada hari-hari tertentu dimana dia akan bermain dan olahraga bersama teman-temannya.

Setelah balasan emot terakhir muncul di layar, aku meninggalkan ruangan dan memulai hari dengan perasaan senang. Berharap agar hari ini akan segera berakhir dan menelponnya seperti yang sudah aku janjikan sebelumnya.

-fin-

bi

BE A GOOD READER GUYS ! PLEASE COMMENT IN HERE :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s