Please, Understand Me ! Part 5

 

-HAN SUNGBI POV-

 

“Neoneun, Han Sungbi imnikka?”

Aku menoleh pada suara itu. Sungguh aku terkejut melihat namja yang berada di depanku itu. Postur tingginya hampir sama dengan Sungmin oppa. Hanya saja, dia lebih kurus. Wajahnya sangat familiar, seperti pernah tahu siapa dia. Tapi aku lupa atau mungkin tidak tahu apakah aku pernah mengenalnya atau tidak. Kecuali jika wajahnya itu memang pasaran. Dari raut wajahnya, tak ada tanda-tanda apakah dia mengenalku sebelumnya. Mungkin sebenarnya dia mengerti siapa aku, tapi tidak menunjukkannya? Aku hanya diam tidak ingin berkata apapun. Hanya menatap wajahnya yang mungkin sok bingung. Tiba-tiba tanpa di suruh, namja itu duduk di depanku sambil mengembangkan senyumannya.

“Aku rasa aku benar jika kau Han Sungbi,” katanya santai. Tidak hanya santai, wajahnya yang like a boss itu sungguh menyebalkan. Dan terlihat lagi saat dia memanggil pelayan cafe ini.

“Kau siapa? Aku tidak kenal siapa kau,” ketusku sambil memasang wajah super jutek.

“Mwoya? Appa menyuruhku kemari untuk bertemu dengan gaetku. Kau Han Sungbi kan?”

“Ga— kau pikir aku apa?” tanpa sadar aku membentaknya. Semua orang memperhatikan kami. Aku menutup mulutku saat mulai tersadar dengan kelakuanku yang memalukan. Sial. Untuk apa Appa menyuruhku bertemu dengan namja sombong seperti dirinya.

“Hahaha, semua orang memperhatikan kita karena ulah bodohmu itu,” kata namja itu tanpa menoleh sedikitpun. Pelayan yang mencatat pesanan namja itu hanya tersenyum kecil. Benar-benar memalukan.

“Kau benar anak dari keluarga Lee?” dia mengangguk. Kali ini ia menatapku sambil menopang dagunya dan tersenyum dengan gummysmile-nya. Memuakkan. “Berhentilah menatapku seperti itu tuan Lee, dan bisakah aku pulang sekarang?”

“Tuan Lee? Eh… Kita kan belum berkenalan. Bagaimana mungkin aku bisa menyuruhmu pulang sekarang?”

“Mwoya?” benar juga, aku tidak tahu nama namja ini dan babo-nya aku, kemarin aku tidak bertanya sekalipun pada appa.

“Untuk satu bulan kedepan, aku adalah tuanmu. Mengerti?”

“Andwe.”

“Kau tadi saja sudah memanggilku Tuan Lee, kan? Dan Minjoong-ssi menyuruhmu untuk menemaniku. Berarti kau adalah gaetku kan?”

“Aku tarik kata ‘Tuan Lee’ yang aku sebutkan tadi. Asal kau tahu, aku tidak pernah peduli denganmu. Sedikitpun. Biarkan aku pulang sekarang, aku mau istirahat,” aku berdiri dan mengambil tasku segera. Tetapi namja itu memukul gips siku kananku tiba-tiba.

“Arggghh..” teriakku menahan sakit dan membuatku kembali terduduk  di kursi. “Kau babo atau tidak pernah sekolah sih? Kau tak tahu kalau ini luka?”

“Ini adalah hukumanmu.”

Aku menatap wajahnya geram. Wajah tanpa dosa yang ia perlihatkan di depan mataku benar-benar membuatku ingin memukul wajahnya. Tangan kananku mulai terasa nyerinya. Namja tidak punya otak itu dengan sombongnya hanya melipat kedua tangan di atas dadanya tanpa peduli dengan keadaanku.

“Menyebalkan,” ucapku sambil mengambil tas dan meninggalkannya.

Continue reading

Advertisements